
“Halo... Rexi.”
Bertepatan dengan itu Viana keluar kamar hendak mencuci piring bekas sarapannya. Langkahnya berhenti saat mendengar suara Amelia yang tengah berbicara dengan seseorang setengah berbisik-bisik membuatnya menaruh curiga.
Lalu di letakkannya piring kotor itu di atas meja buffet seraya berjalan mengendap-ngendap mendekati Amelia yang ada di balkon.
“Kamu tenang saja, aku akan membuat Verrel semakin terjerat denganku. Apalagi mulai hari ini, Verrel akan melakukan perjalanan bisnis sampai 4 hari lamanya. Tidak ada yang bisa mengganggu kita, kamu tenang saja serahkan saja semuanya padaku. Yang penting segera urus bagianku,” ucap Amelia tanpa sadar sudah di curi dengar oleh Viana.
Apa ?! Jadi Verrel akan melakukan perjalanan bisnis dengan Amelia selama empat hari? Kenapa bujang tua itu tidak memberi tahuku? Apa yang akan mereka lakukan selama empat hari ke depan??
Viana mencoba menerka-nerka apa yang Verrel dan Amelia lakukan jika tidak ada dirinya? Di apartemen saja mereka berani berciuman mesra apalagi sampai harus menginap di hotel.
Apalagi tadi sepertinya Amelia tengah merencanakan sesuatu untuk Verrel setelah ia mencuri dengar pembicaraan Amelia dengan seseorang di telepon. Entah Viana merasakan firasat yang tidak baik.
Tak lama pintu kamar mandi pun terbuka, Viana yang melihat Verrel sedang menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk kecil pun melesat dengan cepat ke dalam kamarnya.
Verrel pun merasakan seperti baru saja ada yang lewat, namun ia mengedikan bahu memilih mengacuhkan saja.
Lalu muncullah Amelia dari arah balkon apartemen.
“Kamu dari mana?” tanya Verrel yang masih sibuk menggosok rambut pendeknnya.
“Habis terima telepon klien yank, u..udah mandinya?” tanya balik Amelia dengan gugup.
“Udah, kamu kenapa? Kok jadi gugup gitu?”
“Enggak..nggak kok, masa sih? Mungkin karena aura kamu habis mandi jadi semakin tampan. Aku jadi gugup tak sabar pengen segera menikah denganmu,” goda Amelia.
__ADS_1
Amelia memang sangat pandai dalam menyanjung Verrel dan membuat pria tampan itu terlena sesaat. Karena Amelia tahu, Verrel sangat mencintai dirinya.
“Kamu bisa aja, aku ganti baju dulu. Habis itu kita sarapan terus berangkat,” ujar Verrel menginstruksi.
Setelah berucap itu, Verrel pun segera membalikkan arah menuju kamarnya yang terletak tepat di samping kamar Viana. Namun langkahnya terhenti karena seruan Amelia.
“Verrel, berhenti!”
Bertepatan saat Verrel memalingkan wajahnya, Amelia meraih tengkuk pria itu lalu ******* bibir Verrel dengan agresif. Verrel yang tak siap pun sampai terhuyung ke belakang dan terjatuh di sebuah sofa single.
Melihat tidak ada penolakan dari Verrel memberi peluang Amelia untuk terus melancarkan sentuhan-sentuhan mautnya, berharap Verrel akhirnya luluh dan mau menikmati manis madu bersamanya.
Bahkan Amelia berani meremas lembut bongkahan milik Verrel yang hanya tertutup oleh piyama handuk yang pria itu kenakan. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman, Amelia sangat mahir dalam memancing gairah lawan jenisnya. Apalagi suami tuanya tak mampu lagi mengimbangi nafsunya yang semakin meningkat.
“Eng...Mel...Meli udah, ahh...Jangan di sini..a..ada Viana,” ucap Verrel terbata sambi mengeluh tertahan.
Tanpa Verrel ketahui, ternyata Amelia melihat Viana membuka pintu kamarnya. Dan Amelia sengaja memanas-manasi gadis itu, untuk menegaskan kepada Viana bahwa ia itu hanyalah seorang bawahan dan dirinya lah yang seharusnya menjadi nyonya daripada Verrel.
Amelia pun mengulum senyum sinisnya, saat Viana melihat setiap adegan panas yang ia perankan bersama Verrel.
“Dasar gila! Menjijikan!” umpat Viana lalu keluar apartemen Verrel begitu.
“Viana! Tunggu Vi, kamu mau kemana?!” teriak Verrel yang menyadari kilat marah dari wajah Viana.
“Sudahlah Verrel, namanya juga bocah biarkan saja. Nanti juga balik lagi ke sini. Mending buruan kita bersiap sayang, kita hampir ketinggalan pesawat,” ucap Amelia mengalihkan perhatian Verrel.
“Kamu benar, aku siap-siap² dulu ya. Sarapannya nanti saja di mobil sekalian ke bandara.”
__ADS_1
*
*
Meninggalkan Verrel dan Amelia yang habis beradegan hot jeletot, Viana pun terus berjalan sambil mengibas-ngibaskan tangan. Antara marah dan rasa panas yang menyelimuti tubuhnya, sampai Viana tak sadar sudah melewati Dany.
“Nona Viana mau kemana?”
“Asisten Dany kamu di sini?” tanya baliknya.
“Tentu saja, saya akan mengantar tuan Verrel ke bandara untuk perjalanan bisnis selama empat hari ke depan.”
“Apa?! Ish...kenapa kamu, Verrel kalian berdua tidak memberi tahuku?! Kalian sengaja menikungku!” geram gadis itu.
“Maaf nona, saya fikir tuan Verrel sudah memberi tahu anda. Tuan dan nona kan tinggal seatap.”
“Kamu lihat ulat bulu itu? Setiap hari ia menempel terus dengan Verrel, menyebalkan. Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui asisten Dany.”
“Maaf Nona.”
“By the way, mereka mau perjalanan bisnis kemana?”
“Ke Jogja nona.”
“Apa? Jogja?”
Bersambung...
__ADS_1