
Seorang gadis baru saja turun dari sebuah bus antar kota di terminal ibu kota. Ia sudah terbiasa naik angkutan darat, jadi tidak mabuk lagi seperti saat ia naik pesawat sebelumnya.
Matanya masih sembab, karena ia menangis seharian di balik masker yang ia kenakan. Perjalanan yang ia tempuh pun 10 jam lamanya sudah usai. Kini hari sudah mulai sore, sedari pagi ia tak sempat mengisi perutnya yang keroncongan karena lapar.
Terlalu shock dengan apa yang sudah ia lalui membuat Viana lupa akan kebutuhannya untuk makan. Lalu ia memakan sepotong roti sandwich yang sempat ia beli di jalan.
Setelah roti itu tandas tak tersisa, rasa perih di perutnya sedikit berkurang. Dengan rasa nyeri dan perih yang menyiksa di bawah sana, Viana terus melakukan perjalanan pulangnya. Ia tidak boleh sampai keduluan oleh Verrel, sudah bisa ia pastikan selepas kejadian ini Dany pasti menceritakan semuanya kepada pria itu.
Sampainya di apartemem Verrel, Viana langsung mengemasi seluruh pakaian yang biasa ia kenakan ke dalam sebuah koper kecuali gaun-gaun yang di belikan oleh Verrel. Berikut seluruh peralatan pribadinya tak luput ia masukan ke dalam koper berukuran 20 inch itu.
Setelah selesai berkemas, Viana pun menatap tempat itu dengan sendu. Viana tak bisa bohong, di tempat itu pula ia sudah mengukir banyak kenangan bersama Verrel. Pria yang lamban laut berhasil mencairkan hatinya yang beku. Namun Viana tak ingin banyak berharap, karena hati Verrel hanya untuk Amelia mantan kekasihnya.
Viana pun mengunci apartemen itu. Lalu turun dari gedung dan berjalan kearah pos penjagaan untuk bertemu Rojali penjaga keamanan apartemen Verrel.
“Rojali, bisa aku minta tolong titip kunci ini kepada pak Verrel ya?”
“Eh..nyonya Viana, bisa-bisa nyonya. Memangnya nyonya mau kemana?”
“Aku mau mudik Jali, pak Verrel masih di luar kota ya sudah aku pergi dulu. Terima kasih bantuannya.”
“Sama-sama nyonya, hati-hati di jalan ya nyonya.”
Rojali pemuda yang biasanya selalu ceria dan gemar menggoda kini nampaknya enggan menggoda Viana. Karena nampak dari wajah gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Pemuda itu pun memilih diam dan tidak bertanya apa pun tentang hubungan kedua majikan mudanya.
__ADS_1
Viana pun melambaikan tangan sambil meninggalkan pos keamanan tempat dimana Rojali biasa menjalankan tugasnya. Kebetulan taksi daring yang ia pesan dari aplikasi Gocenk sudah menunggunya di depan. Viana tak ingin menyia-nyiakan waktu. Ia pun segera bergegas menuju tempat selanjutnya.
*
*
“Bagaimana Dany apa kau sudah mengatur penerbangan untuk hari ini?” cerca Verrel yang sudah nampak kesal menunggu pemberangkatan untuk segera pulang, namun Dany tak kunjung mendapatkannya.
“Maaf tuan, pemberangkatan hari ini sudah penuh. Kemungkinan baru besok sore tuan baru bisa dapat jadwalnya,” jawab Dany sambil menunduk.
Raut wajah Verrel nampak memerah seperti menahan amarah. Sebagai asisten tentu Dany sudah hafal bentuk watak dan peringai seorang Verrel bagaimana.
Besok harinya....
Amelia juga tidak tahu, bahwa Verrel sudah menghabiskan malam bersama wanita lain. Karena ia terlalu kelelahan dan dehidrahi akibat sakit perut yang ia alami.
“Sayang, aku ingin ikut kamu bertemu mama kamu ya. Ya itung-itung pendekatan diri sama calon mama mertua,” ucap Amelia sambil bergelanyut manja pada lengan kekar milik Verrel.
Verrel hanya bergeming, bahkan nampak tak mendengarkan apa yang sudah Amelia katakan. Fikiran pria tampan itu hanya tertuju pada Viana. Semenjak keberangkatannya ke Jogja, ia tidak bisa menghubungi gadis itu.
Dan kini ia baru tahu kenyataan yang sebenarnya, bahwa ternyata Viana ikut bersamanya di Jogja. Bahkan ia sudah merenggut mahkota gadis itu karena ia dalam pengaruh obat. Apalagi tadi Mama Venna menelpon dan memintanya untuk langsung pulang ke mansion keluarga. Sebenarnya apa yang terjadi? Berbagai pertanyaan menghinggapi benaknya.
“Sayang!! Kenapa kamu sekarang gitu sih? Nyuekin aku. Kamu nggak dengerin aku ya?!”
__ADS_1
“Eh, Meli ada apa? Apa yang tadi kamu bicarakan. Maaf, aku lagi banyak fikiran.”
“Aku ingin bertemu Mama Venna yank, boleh ya?”
Tak ingin berdebat panjang dengan Amelia, Verrel pun menyetujui permintaan Amelia untuk bertemu Mama Venna. Yang jelas, ia ingin segera bertemu mamanya dan juga Viana.
Sampainya di dalam mansion, Verrel mendapati Mama Venna dengan raut wajah dingin dan datar. Sepertinya menyimpan suatu amarah.
“Selamat malam tante, apakabar? Lama sekali tidak bertemu Meli jadi kangen deh sama tante Venna,” Sapa Amelia sambil merangkul Mama Venna yang hanya diam tanpa membalas.
Raut wajah Mama Venna diam tak berekpresi. Sudah Verrel pastikan mamanya saat ini marah karena sesuatu.
Karena tak mendapati tanggapan dari Mama Venna, Amelia pun memilih mundur sambil tersenyum kegi. Apalagi tatapan Mama Venna seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.
Kini tatapan tajam Mama Venna jatuh kepada Verrel. Verrel berulang kali membasahi kerongkongannya untuk bersiap menjawab pertanyaan yang pasti sebentar lagi akan mamanya ajukan.
“Tolong jelaskan Verrel! Apa maksudnya semua ini?!”
Masih penasaran? Jngan lupa tinggalkan jejaknya..
Jujur smangat otor trgantung respon kalian..😅
Lope u all..😘
__ADS_1