
“Viaaanaaaa!!”
Suara Verrel menggelegar bagaikan suara monster yang tengah mengamuk di negeri Kohona.
“Iya, Viana di sini pak bos!” sahut Viana dengan berteriak.
“Haduh, ada apa sih? Perasaan itu orang tadi masih ngerem di kamar. Kenapa bangunnya cepet banget mana belum sempat masak lagi, gimana ini pak bos pasti ngamuk nih,” gerutu Viana sambil mencengkram erat-erat box tempat sampah yang ia bawa.
Sedangkan Verrel tengah tertidur di lantai sambil meringis tertahan. Ternyata Verrel baru saja terpeleset saat hendak buang air kecil ke kamar mandi. Akibat lantai apartemennya yang di penuhi air sabun yang menggenang dimana-mana. Verrel sudah bisa menebak, pasti ini kerjaan istri kontrak atau asisten pribadinya yang ceroboh.
Bagaimana bisa air sabun mesin cucinya bisa meluber seperti ini?
“Vianaaa!” Verrel mencoba teriak kembali karena batang hidung Viana tak kunjung menampakkan diri.
“Iya pak Verrel, saya di sini!” sahut Viana dari luar. Lalu pintu apartemen Verrel pun terbuka menampilkan Viana yang lari tergopoh-gopoh menuju sumber suara Verrel tanpa melihat jalan di depannya.
Dan sudah bisa di pastikan, langkah Viana yang terkesan terburu-buru dan tidak hati-hati membuat gadis itu bernasib sama seperti yang Verrel alami.
Sreeettt!
Bugh!
Viana pun terpeleset dan tersandung kaki Verrel sampai terhuyung ke depan. Hingga tiada ia duga justru tubuhnya mendarat di bantalan yang agak keras. Tapi ujung bibirnya menyentuh sesuatu yang terasa lembab dan juga sedikit agak kenyal. Sedangkan mata Viana terpejam bersiap menerima benturan keras dari lantai keramik marmer yang dingin.
Viana pun mencoba membuka kedua matanya bersamaan dengan itu sepasang mata juga baru saja membuka usai kejatuhan durian runtuh. Siapa lagi kalau bukan Viana. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah kesialan yang baru saja Verrel dapatkan.
Namun alangkah terkejutnya Verrel saat membuka kedua matanya. Sebuah bingkai wajah cantik menempel tepat di depan wajahnya, bahkan bagian tubuh mereka pun menempel meski tanpa sengaja.
“Aaaaarrrrggggh!” teriak Verrel dan Viana bersamaan.
Karena Verrel seorang pria dewasa tentu pria itu bisa menguasai keadaan, meski jantungnya terus berdegup kencang. Sedangkan Viana, gadis itu terus berteriak seperti orang kesurupan.
“Aarrghh! Aaargh!” teriak Viana histeris.
__ADS_1
Bagaimana Viana tidak histeris? Ciuman suci miliknya telah di renggut oleh pria yang baru saja ia kenal. Viana merasa sangat gagal menjaga diri, padahal ciuman pertamanya ia jaga sepenuh hati untuk suaminya kelak. Cinta sejati yang akan memberinya kebahagiaan dunia dan akhirat.
“Stoop!!! Berhenti! Atau aku cium lagi!” ancam Verrel yang merasa terganggu akan suara Viana. Pasti orang-orang sekitarnya mengira ia seorang pedofil yang tengah menyekap seorang gadis.
Mendengar ancaman dari Verrel sukses membuat teriakan Viana pun langsung berhenti. Namun berlanjut dengan isakan kecil. Sepertinya gadis itu mulai menangis.
“Pak Verrel kenapa cium saya? Ini kan ciuman pertama saya buat suami saya nanti, bagaimana nanti kalau saya hamil!” rengek Viana sambil terus terisak bagaikan anak kecil yang tak di belikan permen.
Mendengar rengekan Viana bukannya membuat Verrel menaruh iba, namun justru membuat pria tampan itu berusaha menahan tertawanya agar tidak meledak di tempat. Namun ternyata sia-sia, tawa Verrel akhirnya meledak dan tertawa terpingkal-pingkal.
“Hahaa....haahaaaaa.” Verrel terus tertawa sampai air mata mengucur dari kedua sudut matanya. Verrel pun masih tertawa sambil memeganggi perut ratanya.
Astaga! Kenapa gadis ini polos sekali Tuhan? Sampai rasanya aku tidak bisa untuk berhenti tertawa.
Melihat Verrel tertawa sontak membuat Viana terdiam dan memandang aneh kearah pria berusia tiga puluh enam tahun kurang satu bulan itu.
“Kenapa pak Verrel tertawa? Memangnya ada yang lucu!” sungut Viana kesal sambil mengerucutkan bibir bawahnya.
“Tidak! Ya sudah segera bereskan semua kekacauan ini! Bagaimana bisa air sabun ini meluap kemana-mana? Pasti kamu ceroboh! Cepat bersihkan!” titah Verrel tegas.
“Baik, pak Verrel.”
Viana pun berjalan tertatih menuju mesin pencuci pakaian yang masih menyala. Sepertinya Viana tahu penyebab air dalam mesin pencuci itu meluap hingga menggenangi se-isi apartemen. Yaitu karena volume air yang ia masukan melebihi debit yang seharusnya ia masukan.
Sehingga getaran dalam mesin yang memutar membuat volume air yang sudah di campur dengan detergen meluap begitu saja. Beruntung mesin itu tidak sampai meledak.
Viana memilih mencabut stop kontak daripada menghentikan getaran pada mesin. Karena Viana tidak tahu cara menghentikan mesin pencuci pakaian itu. Lalu gadis itu segera mengepel lantai yang basah dengan lap kering.
Semua itu tak luput dari pandangan Verrel. Meski tulang ekornya sempat terasa ba'al akibat benturan bertubi-tubi, namun itu tak berlangsung lama. Dan akhirnya Verrel pun turun tangan saat melihat Viana terlihat kepayahan saat menggeser sofa miliknya.
“Sini aku bantuin, lebih baik kamu ambil lap baru yang kering yang ada di gudang. Cepat sana!” Ucap Verrel dengan nada sedikit memerintah.
“Terima kasih pak Verrel,” balas Viana dengan wajah berbinar senang.
__ADS_1
“Hmm.”
Pak Verrel ternyata baik juga ya. Sudah tampan dan suka membantu lagi, idaman banget..
Puji Viana dalam hati sambil menatap Verrel yang membantu mengelap sisi sofa dan juga meja makan.
“Kenapa kamu masih berdiam di situ? Cepat ambil!” sentak Verrel yang melihat Viana masih mematung di tempat.
“Ah! Iya..pak Verrel.”
Viana pun bergegas menuju gudang yang hanya berukuran 1x1 meter itu. Lalu mengambil sesuatu seperti yang Verrel perintahkan kepadanya barusan.
Dan akhirnya Verrel dan Viana pun bekerja sama membersihkan kekacauan yang sudah Viana perbuat. Setelah semua selesai, Keduanya pun terlentang di depan ruang bersantai sambil menatap langit-langit apartemen.
“Huft! Lumayan melelahkan juga ya pak ternyata!” keluh Viana sambil mengibas-ngibaskan tangan kearah wajahnya.
Melihat Viana seperti kepanasan, Verrel pun memilih mengatur temperatur suhu dan merubahnya ke pengaturan cool.
“Ini semua gara-gara kecerobohanmu! Lain kali kalau tidak bisa memakai alat listrik bertanyalah. Atau mencuci menggunakan papan kayu saja.”
Verrel pun menyentil dahi lebar Viana yang tak tertutup poni gadis itu.
Bukannya marah, Viana malah menyengir sambil memberikan tanda ‘peace’ kearah Verrel.
“Maaf pak Verrel, habis saya bingung harus bertanya pada siapa? pak Verrel kan tidur di dalam sana. Masa saya harus bertanya pada rumput yang bergoyang yang ada di luar sana,” ucap Viana asal.
“Alasan saja, oiya..aku sudah pesan makanan. Jadi kamu tidak perlu memasak. Lain kali saja, karena kalau nunggu masak aku keburu kelaparan.”
“Pak Verrel pengertian sekali,” puji Viana yang langsung membuat wajah Verrel nampak blusing.
Sesaat suasana keduanya kembali hening. Kedua sejoli pria dewasa dan gadis yang selisihnya sepuluh tahun itu sama-sama menatap langit-langit yang memiliki ornamen berupa ukiran ala eropa.
“Viana,” panggil Verrel memecah kesunyian.
__ADS_1
“Iya pak Verrel.”
“Jangan jatuh hati padaku.”