
“Viana Larasati!”
Sebuah suara memanggil nama Viana seraya membalikkan posisi kursi menghadap gadis itu. Sebelumnya Verrel sudah menyelidiki siapa Viana gadis yang akan terikat kontrak pernikahan dengannya nanti.
“Iya pak.”
“Ini surat kontrakmu dan pelajari poin-poinnya. Sebagai pihak pertama saya berhak mengajukan beberapa syarat kepadamu,” tutur Verrel sambil menyeruput mocacino dalam cangkir yang sudah tersedia.
“Syarat pertama, Ikuti saja permainan yang akan aku mainkan nanti dan di larang protes barang seucap pun.”
“Syarat kedua, kamu harus melayani saya seperti suami sungguhan yaitu menyiapkan segala kebutuhan pribadiku karena aku juga akan memberi nafkah penuh atas semua kebutuhanmu.”
“Syarat ketiga, dilarang berhubungan dengan pria mana pun. Kamu harus menjaga sikapmu sebagai istri Ceo sepertiku.”
Huh! Sombong sekali..
Batin Viana sambil mencebikkan bibir bawahnya.
“Dan syarat keempat, bersikaplah yang mesra di hadapan mamaku dan juga orang lain. Agar mereka tidak curiga terhadap hubungan kita. Bagaimana mudah kan?”
Verrel pun mengambil cangkir berisikan mocacino dan hendak menyeruputkan. Namun sebuah ucapan dari Viana justru membuatnya tersedak.
“Lalu apa gue, eh maksudnya saya juga harus melayani bapak di atas ranjang?”
Byuuurr!
Sontak Verrel menyemburkan kopi yang baru saja ia seruput kearah meja di depannya, membuat beberapa berkas penting terkena semprotan kopi dari mulut Verrel.
Gadis ini kenapa enteng sekali membicarakan seputar ranjang di depanku? Apa sebenarnya ia itu gadis tapi rasa janda?
“Jujur aku tidak berniat menyentuh badanmu yang kerempeng seperti papan triplek itu. Kita juga tidur di kamar terpisah, jadi jangan berkhayal kita akan melakukan hubungan suami istri itu.”
“Syukurlah..” Viana tersenyum senang, ternyata syarat yang di ajukan Verrel tidak begitu sulit baginya.
“Kecuali jika aku sedang khilaf atau kamu yang mulai jatuh cinta padaku.”
“Itu tidak akan!” teriak Viana.
__ADS_1
“Eh...maaf.” Mana mungkin aku jatuh cinta dengan cowok arogan sepertimu, Big no!!
“Kenapa berteriak? Kamu fikir ini di hutan!” sungut Verrel.
“Maaf pak Verrel.”
“Ya sudah, oiya...dimana ponselku yang kamu jambret tempo hari?”
“Po..ponsel??” ucap Viana terbata.
Ternyata Verrel masih mengingat siapa dirinya, Viana fikir Verrel tidak mengingat bahwa yang sudah menjambret pria itu tempo hari adalah dirinya. Ternyata tebakan Viana salah.
“Kenapa? Kamu fikir aku tidak mengingatmu? Gadis licik yang menjambret ponselku di saat aku lengah,” sindir Verrel.
“Maaf, ponsel bapak sudah saya jual,” cicit Viana sambil menunduk.
“Apaaaa??!!”
*
*
“Jangan menjambret lagi, itu tidak baik dan membahayakan gadis sepertimu. Bagaimana kalau sampai mereka menangkap dan memukulimu?” tegur Verrel sambil mengotak-ngatik ponselnya.
“Maaf pak, saya terpaksa melakukannya.”
“Memang dimana orang tuamu?” tanya Verrel ingin tahu.
“Saya tidak punya orang tua semanjak kecil, saya hanya di asuh oleh bapak saya yang bekerja sebagai tukang jambret waktu itu.”
Verrel pun sedikit tersentuh mendengarkan cerita singkat tentang gadis yang akan menjadi istri kontraknya itu.
“Ini ada sedikit uang sebagai uang muka, sisanya akan aku bayar di akhir bulan sesuai hasil pekerjaanmu rapi atau tidak. Terima lah..” tawar Verrel sambil menyodorkan uang dalam amplop coklat.
“Terima kasih pak.”
Viana pun menerima uang pemberian Verrel dengan senang, namun sedetik kemudian senyum manis luntur karena ingat sesuatu.
__ADS_1
Uang segini tidak cukup untuk biaya operasi Willy. Apa aku harus meminjam sementara kepada pak Verrel?
“Kenapa? Apa uang mukanya kurang?”
Viana mengangguk untuk mengiyakan.
Dasar ternyata gadis ini matre juga. Awas saja kalau minta lebih. Batin Verrel dalam hati.
“Memangnya kurang berapa?” tanya Verrel sambil mengeluarkan cek bank yang selalu ia bawa kemana pun.
Viana pun nampak menghitung kembali uang dalam amplop itu.
“Kurangnya seratus sembilan puluh lima juta lagi pak.”
“Apa?! Kamu mau meras aku ya? Uang sebanyak itu buat apa?”
“Untuk biaya operasi adik saya pak, adik saya sedang di rawat di klinik sekarang dan harus segera di operasi besok atau lusa. Uangnya saya pinjam dulu pak, saya akan lakukan apa pun untuk bapak. Dan saya juga akan berusaha membayarnya.”
Mendengar penjelasan Viana lantas, membuat amarah Verrel yang hampir meledak pun surut. Verrel fikir, uang sebanyak itu akan di pakai Viana untuk berfoya-foya seperti kebanyakan gadis yang ia jumpai.
“Aku pegang ucapanmu, jika kamu terbukti berbohong maka kamu tanggung sendiri akibatnya.”
“Saya tidak bohong pak, saya bersungguh-sungguh. Jika bapak tidak percaya, mari ikut saya melihat adik-adik saya.”
Dan kini Verrel dan Viana pun berada di sebuah klinik dimana Willy di rawat darurat. Viana membawa beberapa makanan untuk adik asuhnya makan. Viana masuk ke dalam dan menyapa ke empat adik asuhnya. Sedangkan Verrel memilih memperhatikannya dari ambang pintu sambil memasukkan tangannya dalam saku celananya.
Ternyata gadis itu berkata jujur, meski pekerjaannya sangat tercela sebagai tukang jambret. Tapi siapa sangka, hatinya begitu mulia. Inilah alasanku memilihnya, semoga ia berhenti menjambret dan bisa kembali ke jalan yang benar dalam mencari rezeki.
Sebenarnya sedari awal Verrel sudah mengetahui, bahwa Viana adalah gadis yang telah menjambretnya tempo hari.
“Pak Verrel sini!” ajak Viana sambil melambaikan tangan.
Verrel pun mendekat, lalu menerima nasi bungkus yang disodorkan Viana kepadanya. Sudah sangat lama Verrel tidak pernah makan nasi bungkus. Melihat anak-anak asuh Viana makan dengan lahap, membuat hatinya tertular bahagia dari senyum yang mereka pancarkan.
TBC...
Jngan lupa tinggalkan jejak petualangan kalian di lapak ini ya,, big hug. 😘😍😍
__ADS_1