
“Sebelumnya, apakah kita sudah pernah bertemu?” tanya Verrel seraya menatap wajah Viana dari dekat meski gadis itu melempar pandangan ke arah lain.
Deg!
Karena terkejut, reflek Viana melepaskan pegangan tangannya pada bahu pemuda itu. Melihat lawan dansanya seperti tidak nyaman akan pertanyaan yang ia ajukan, membuat Verrel meminta maaf.
“Maaf, saya tidak ingin bohong. Perasaan saya mengatakan sepertinya kita sudah sering bertemu. Padahal kan baru tadi, lucu ya,” kelakar Verrel mencoba mencairkan suasana. Verrel yakin wanita di hadapannya ini pasti merasa tidak nyaman.
Viana pun mengulas senyum, dalam hatinya bersyukur berulang kali. Ia fikir Verrel mengenali siapa dirinya yang sebenarnya. Padahal jantungnya sudah hampir terlepas dari tempatnya.
“Maaf, jika pertanyaanku aneh-aneh. Setidaknya kita harus menyelesaikan dansa ini sampai musik berhenti,” ujar Verrel meminta Viana untuk melanjutkan dansa mereka kembali.
“Baiklah.”
Dari sudut lain Amelia nampak menggeram kesal. Sehabis dari toilet ia kelimpungan mencari keberadaan Verrel. Namun yang di carinya malah asyik berdansa dengan wanita lain. Amelia pun merasa kesal setengah mati.
Namun tiba-tiba ia merubah rencananya yang semula sudah ia susun. Lalu Amelia pun berjalan menuju meja khusus minuman, mengambil dua segelas coctail berakohol ringan.
Lalu membuka tas pouch miliknya dan mengambil sesuatu dalam tas seperti bungkusan kecil dalam pembungkus kertas.
Sebelum memulai aksinya, Amelia nampak celingak celinguk memperhatikan sekitar. Jika saja ada yang memergokinya. Ia akan membuat alasan yang tepat. Namun saat merasa tidak ada yang melihatnya, tanpa ragu Amelia menuang seluruh isi dalam bungkusan kecil itu ke salah satu minuman yang ia pilih.
__ADS_1
Lalu mengaduk-ngaduknya menggunakan sedotan yang sudah tersedia. Setelah ia rasa cukup ia membawa ke sisi di mana mejanya dan Verrel berada. Tanpa wanita itu sadari ada mata lain yang mengawasi aksinya.
*
Di sisi lain musik dansa sudah berhenti. Para pasangan yang turun berdansa pun mulai kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
“Terima kasih sudah bersedia menemaniku berdansa nona,” ucap Verrel dengan sopan.
“Sama-sama, maaf aku harus pergi.”
Bak cinderella yang kehabisan waktunya, Viana pun pergi begitu saja meninggalkan Verrel yang masih termangu di tempat. Mendadak Verrel merasa kehilangan, padahal baru saja ia merasakan nyaman bersama seseorang.
“Cckk! Aku lupa menanyakan namanya. Dasar Verrel! Ya sudahlah, nanti kalau bertemu lagi akan aku tanyakan siapa namanya,” gumam Verrel.
“Sayang ini minuman untukmu, kamu tega ya dansa tidak mengajak-ajak aku,” protes Amelia dengan nada sedikit merajuk.
“Maaf sayang, tadi pas acaranya di mulai aku tidak sengaja ada di sana. Ya sudah aku dansa saja.”
“Dengan mengajak wanita lain? Kamu jahat ya, aku cariin kesana kesini ternyata kamu malah lagi bermesraan dengan wanita lain. Siapa dia?” tanya Amelia penuh selidik.
“Aku tidak tahu yank, kami bertemu di lantai dansa ya begitu kita mengikuti yang lain saja. Kamu tidak usah cemburu seperti itu, masih ada waktu dansa untuk kita sesi kedua nanti.”
__ADS_1
“Benar kah? Kalau begitu nanti kamu hanya boleh dansa denganku tidak dengan wanita lain. Okay!”
Tentu saja, setelah kamu meminum minuman itu Verrel. Kita akan berdansa dengan sangat panas di atas ranjang. Dengan begitu aku bisa menyelesaikan misiku. Dan aku akan mendapat bagianku dari Rexi..
Amelia pun membatin sambil tersenyum samar di balik topeng bulu-bulu yang ia kenakan. Penampilannya yang malam ini sangat terbuka membuat beberapa pria menatap lapar kearahnya. Bahkan ada yang berani meremas gundukan miliknya saat ia kelimpungan mencari Verrel tadi.
Namun Amelia tidak melayaninya, wanita sexy itu memilih mengacuhkan mereka semua karena malam ini Verrel lah yang menjadi incarannya untuk di jadikan teman tidur.
“Tentu saja.”
Verrel pun mulai meneguk minuman yang di berikan Amelia secara perlahan hingga tandas tak tersisa. Dalam hati Amelia bersorak kegirangan. Selama ini memggoda Verrel untuk melakukan bersamanya sangat sulit. Pendirian Verrel terlalu kokoh karena tidak ingin menyakiti hati mamanya. Persetan menyakiti hati seseorang, yang penting ia menang hari ini. Pekik Amelia dalam hati.
“Apa kamu ingin minum lagi sayang? Biar sini ku ambilkan dengan yang baru?”
“Tidak usah Meli, kepalaku tiba-tiba sedikit pusing.”
“Kenapa? Apa kamu kelelahan, ayo aku antar kamu kembali ke kamarmu yank? Nanti urusan yang lain akan aku bicarakan kepada Dany untuk mengurus acara tanpa kehadiran kita.”
“Maksudmu? Akh..kenapa rasanya pusing sekali?” keluh Verrel yang penglihatannya mulai mengabur.
Amelia pun meminta seseorang untuk memapah Verrel menuju lift menuju kamar mereka yang di lantai atas. Wanita itu merasa puas akhirnya rencananya untuk menjerat Verrel berjalan dengan mulus.
__ADS_1
**Bersambung...
Maaf ya readers telat up, otor lupa krna sibukk 🙏🤭**