Jambret Cantik

Jambret Cantik
Menerima tawaran


__ADS_3

Sampainya di rumah Viana menimang-nimang kembali kartu nama yang Verrel berikan tadi.


“Jadi istri kontrak? Bagaimana rasanya?” gumam Viana pada diri sendiri.


“Kak Via!” teriak Aisyah dari ambang pintu.


“Ai, kakak sudah pulang? Dimana Rosy dan Roby?” tanya Viana yang di sambut pelukan oleh Aisyah.


“Mereka sedang mencuci pakaian di belakang kak, hari ini Aisyah mengajarkan mereka mencuci baju sendiri,” tutur Aisyah dengan gamblang.


“Anak pintar, terima kasih banyak ya Aisyah udah gantiin tugas kak Viana. Sekarang kita masuk ke dalam, kakak akan masak sesuatu untuk kalian. Setelah itu kita pergi ke klinik menjenguk Willy bagaimana?”


“Siap kak Via, Aisyah bantuin ya kak.”


Viana pun berlalu ke dalam dapur sederhana yang ada di rumahnya. Mengambil wadah penanak nasi untuk di isi beras dengan air. Lalu menyalakannnya. Tak lupa ia mencuci piring bekas makan Aisyah dan adik-adiknya yang lain di dekat sumur.


Karena keterbatasan dana, mesin penyedot air yang biasa ia pakai mengalami kerusakan. Terpaksa Viana menimbanya menggunakan tambang dan ember kecil untuk mengambil air dalam sumur itu.


Setelah mengisi ember penuh untuk persediaan mandi dan mencuci, lalu Viana mulai memasak lauk sederhana yang bisa ia masak. Dan menyuruh Aisyah dan adik-adiknya yang lain untuk bersiap menjenguk Willy ke klinik.


Tak lama kini Viana dan ketiga adik asuhnya sampai di klinik dimana Willy tengah di rawat intensif.


“Tino, bagaimana keadaan Willy?” tanya Viana yang datang bersama Aisyah dan Duo Roro yaitu Rosy dan Roby.


“Syukurlah kak Viana datang, tadi Willy sempat demam tinggi lagi kak. Badannya mengejang, Tino takut kak akan terjadi sesuatu dengan Willy,” ucap Tino dengan suara bergetar.


Bertepatan dengan itu dokter muncul dari balik pintu dan menghampiri Viana dan yang lainnya.


“Kebetulan anda di sini, mari ikut saya segera,” ajak dokter setengah baya itu.


“Tino, Aisyah kalian makan saja dulu. Kakak ingin berbicara dengan dokter sebentar ya.”


“Baik kak,” balas Tino dan yang lain serentak.

__ADS_1


Sampainya di ruangan dokter tersebut. Viana langsung di persilahkan duduk dan langsung bicara kepada intinya.


“Begini langsung saja ya, alat-alat kesehatan di klinik ini sudah tidak mampu membantu adik anda Willy untuk bertahan hidup. Saya sarankan besok atau lusa adik anda harus segera untuk di tindak lanjuti operasi karena ini menyangkut nyawa adik anda. Saya harap anda harus cepat berfikir nona.”


Tanpa terasa buliran air asin Viana merebak begitu saja. Hatinya tak kuasa jika harus kehilangan anak periang seperti Willy. Yang sudah ia asuh dan tinggal bersama hingga tiga tahun lamanya.


“Apa tidak ada cara lain dok? Pengobatan alternatif misalnya untuk sementara waktu sampai saya mendapatkan uang untuk biaya operasi Willy,” tanya Viana sambil terisak.


“Maaf sekali, ini jalan satu-satunya nona, tidak ada pilihan lagi atau kita akan kehilangan nyawa pasien.”


“Memang berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk operasi Willy nanti dok?”


“Umumnya sebanyak 250 juta, namun ada potongan 20% yang akan di tanggung pemerintah sekitar 50 juta. Jadinya sisanya mungkin bekisar 200 juta yang harus anda penuhi.”


“Apa?!”


Viana keluar ruangan dokter itu dengan gontai dan fikiran kosong. Mendengar Willy harus di operasi saja membuat jiwanya shock apalagi mendengar biaya yang harus ia keluarkan untuk biaya.


“Apakah aku harus menyerahkan hidupku untuk menjadi istri kontrak kepada pria yang sudah ku jambret itu? Tapi demi Willy, aku akan melakukan apa pun.”


Viana menatap mantap kartu nama itu. Seolah tidak ada pilihan lain, hanya itu peluang Viana untuk bisa mendapatkan uang demi biaya operasi adik asuhnya Willy.


*


*


Viana baru turun dari angkot ibu kota. Mata almondnya menyapu sekitar untuk memastikan bahwa ia tidak salah alamat.


“Masa ini kantornya? Wow, mewah sekali,” decak kagum Viana pada bangunan yang menjulang tinggi yang ada di hadapannya.


Beberapa karyawan yang baru saja berangkat dan berpapasan dengannya memandang aneh kearah Viana.


“Itu cewek siapa sih? Cewek udik apa ya? Kayaknya norak gitu lihat ini bangunan,” ujar seorang karyawan yang bercat rambut pirang.

__ADS_1


“Mana? Itu...mukanya sih lumayan tapi pakaiannya nggak banget. Masa atasan blouse bawahannya sepatu kets gitu, mana bolong lagi,” kelakar wanita yang bermake up tebal sambil tertawa.


Kedua wanita yang sedang bergosip ria itu tertawa sambil menatap meremehkan kearah Viana yang tak menyadari menjadi bahan pergunjingan kedua karyawati itu.


“Ehem, 5 menit lagi waktu absen segera di tutup jadi sudahi gosip kalian.”


Suara berat Dany menghentikan seketika derai tawa dari kedua wanita yang sedari tadi menertawakan Viana.


“Pak Dany! Maaf pak. Kami permisi.”


Kedua karyawati itu pun lari terbirit-birit, membuat Dany sang asisten yang dingin menarik sudut bibirnya sesaat. Lalu ia pun fokus kembali yang ada di hadapannya.


“Nona Viana, tuan Verrel sudah menunggu nona di ruangannya.”


“Oh..iya mas.”


Diam-diam Dany tersenyum samar mendengar nama panggilan mas dari gadis itu untuknya.


“Gadis yang unik,” desis Dany.


Lalu Dany menuntun Viana menuju dimana ruangan Verrel berada. Pintu lift pun terbuka menampilkan lantai ruangan yang begitu mewah di bandingkan ruangan lainnya. Karena itu memang lantai ruangan khusus Ceo berada.


“Silahkan masuk nona.”


Viana pun mengikuti arahan Dany, sedangkan pemuda hitam manis itu menunggui di luar. Karena ini menyangkut perihal pribadi atasannya.


Pintu ruangan itu pun tertutup. Hawa ruangan itu begitu dingin, entah karena terlalu lenggang atau karena pedingin ruangan yang menyala rendah. Yang jelas Viana merasa hawa dingin menyergap tubuhnya.


Viana tahu ada seseorang di balik kursi kebesaran yang duduk membelakanginya itu.


“Viana Larasati!”


TBC..

__ADS_1


__ADS_2