Jambret Cantik

Jambret Cantik
Kabar Buruk


__ADS_3

Keesokan harinya, sepanjang jalan menuju pintu masuk perusahaan Viana mendengar kasak kusuk dari beberapa karyawan. Sepertinya mereka tengah membicarakan sesuatu yang begitu heboh.


“Lu tau nggak Sa, kita bakal kedatangan wakil Direktur baru kita. Oh..Ya ampun, orangnya tampan banget, macho pokoknya keren banget deh macam oppa Sehun gitu.”


“Akh! yang bener, emang setampan apa sih dia? gue jadi penasaran kata lu mirip oppa Sehun. Itu mustahil! Oppa Sehun hanya ada satu di dunia ini,” sahut temannya yang bernama Risa.


“Di bilangin nggak percaya banget lu ama gue! Nih fotonya gue punya.”


“Eh..beneran tampan ya. Haduh...aku bisa melenyot terus kalau ada bos ganteng begini.”


Viana hanya melewati mereka yang tengah sibuk bergosip ria. Namun Viana kembali terngiang-ngiang, siapa bos ganteng yang mereka maksud?


Viana terus berjalan sambil menunduk, tanpa sadar di depannya ada seseorang berjalan berlawanan arah dengannya. Dan tubuh Viana pun menubruk dada bidang orang itu.


Brukk!


“Maaf! maaf saya tidak sengaja maaf!”


Ucap maaf Viana penuh penyesalan kepada orang itu sambil menunduk.


“Lupakan saja!” ketus orang itu.


Sesaat Viana nampak terkejut, sepertinya ia mengenal dengan baik suara itu. Dengan cepat Viana pun langsung mendongakkan wajahnya dan mata Viana langsung melotot begitu melihat Verrel ada di depan matanya.


Disaat Viana masih dengan rasa keterkejutnya, Verrel malah melengos pergi begitu saja. Tanpa berkata apa pun. Tatapannya pun cuek seperti tidak mengenalnya. Dan itu sungguh melukai hati Viana.

__ADS_1


“Baiklah, jika kamu berlagak seperti orang lain kepadaku. Aku pun juga bisa. Aku sadar, profesiku hanyalah sebagai cleaning servis sedangkan dia seorang pemimpin perusahaan. Mikir apa kamu Viana, benar kata pria itu. Lupakan saja!”


Jika Verrel sudah menganggapnya seperti orang lain, itu membuat hati Viana sedikit lega. Setidaknya Verrel tidak mengungkit kembali masa lalu mereka. Meski terasa sakit, tapi itu pilihan yang tepat. Viana bisa menjalani pekerjaannya dengan baik seperti biasanya.


Di pantry Viana nampak sibuk membuatkan kopi untuk beberapa karyawan staff yang sudah memesan kopi kepadanya. Dengan cekatan Viana mengerjakan semua pekerjaannya tanpa mengingat kejadian tadi pagi.


“Viana, bisakah kita bicara sebentar?” tanya kak Saras atasan Viana.


“Baik kak, sebentar.”


Viana mengelap tangannya yang sedikit basah dengan lap bersih yang tergantung di rak. Viana merasa aneh, tumben sekali kak Saras ingin berbicara serius dengannya. Padahal biasanya setelah meeting tidak ada pembahasan lain. Kalau pun ada pasti seluruh teman-temannya akan di minta untuk berkumpul.


“Ada apa kak?” tanya Viana to the point.


“Viana, entah kesalahan apa yang sudah kamu perbuat. Tapi wakil Direktur baru kita memintamu untuk ke ruangannya sekarang. Beliau juga meminta kopi buatanmu. Tolong buatkan kopi untuknya, dan jangan bertindak macam-macam Viana di sini kita satu tim. Jika salah satu dari kita ada yang salah maka seluruh tim akan kena imbasnya. Ingatlah siapa dirimu, kita hanya pesuruh!” ucap kak Saras dengan serius.


“Ya sudah segera kerjakan!”


Viana nampak merenungi ucapan kak Saras. Perasaan ia tak pernah melakukan kesalahan apa pun dalam bekerja. Semua ia kerjakan dengan baik dan tepat waktu. Dengan perasaan bingung, namun tetap Viana membuatkan kopi dan membawanya ke ruang wakil direktur itu.


Ting!


Lift yang di naiki Viana sampai di lantai dimana ruangan direktur itu berada. Ini pertama kalinya ia masuk ke ruangan direktur. Seperti halnya kemarin saat masuk ke ruangan presedir.


Kini Viana merasa penasaran, seperti apa rupa wakil direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Karena selama ini, Viana tidak mengetahui siapa saja yang menjadi atasannya.

__ADS_1


“Permisi! Saya membawakan kopi.”


Viana mengetuk pintu kayu itu secara perlahan, tak berselang lama terdengar seruan dari sang empunya ruangan.


“Masuk!”


Viana pun menutup pintunya secara perlahan. Bahkan tapak dari sepatu flatshoes yang ia kenakan pun, Viana samarkan. Ruangan itu begitu hening hanya terdengar deru nafas dan langkah kakinya.


“Letakkan saja di situ!” perintah pria yang duduk di kursi membelakangi Viana.


“Baik pak.”


Rasa-rasanya Viana tidak asing dengan suara itu, atau mungkin hanya perasaannya saja. Suara itu sangat begitu dekat dengannya.


“Kalau begitu saya undur diri pak, permisi.”


“Tunggu! siapa suruh kamu pergi?!” ketus orang itu lagi.


Viana pun mematung di tempat. Viana baru mengingat kata kak Saras bahwa wakil direktur ingin berbicara dengannya. Jangan-jangan, Viana akan di pecat karena melakukan sebuah kesalahan.


“Coba baca surat untukmu yang berada di dalam amplo di atas meja itu,” perintah pria itu lagi.


Lagi-lagi Viana mengenali suara itu, namun Viana takut salah menuduh karena pria itu tak menampakkan wajah kepadanya.


Viana pun mengikuti perintah sang wakil direktur untuk membaca isi surat dalam amplop tersebut. Setelah membacanya, bola mata Viana melotot seperti ingin keluar. Ternyata isi surat tersebut adalah kabar buruk untuk dirinya.

__ADS_1


“Maaf, apakah ini benar saya di pecat pak?”


Bersambung...


__ADS_2