Jambret Cantik

Jambret Cantik
Tiga tahun Kemudian..


__ADS_3

Tiga tahun kemudian...


Nampak seorang anak balita berlari-lari mengelilingi bangunan mansion besar milik keluarga Rajasa. Balita itu sangat hiper aktif. Selalu ada saja yang balita itu kerjakan seolah tenaganya tidak mudah terkuras atau pun habis. Selalu terisi dan terisi lagi membuat baby sister yang mengasuh balita berinisial V itu merasa kewalahan.


“Den Vier, hati-hati larinya nanti jatuh loh,” teriak sang baby sister memperingatkan.


“Kejal aku kalu bica bi wlee..” pancing baby Vier sambil menjulurkan lidahnya ke arah sang baby sister.


Baby Vier pun terus berlari mengerjai sang baby sister yang terus berlari mengejar tubuh mungilnya. Semakin di kejar, semakin cepat larinya kaki kecil itu.


Meninggalkan baby Vier yang masih asyik bermain kejar-kejaran dengan baby sisternya, nampak Viana tengah terlibat obrolan serius dengan Dany. Pria yang selama ini menolong Viana dari keterpurukan hidup.


“Maaf Viana, aku tetap tidak setuju jika kamu memutuskan untuk bekerja. Kebutuhanmu akan menjadi tanggung jawabku,” tutur Dany menolak secara halus usul Viana yang ingin bekerja.


“Dany ingat! Status kita bukan suami istri jika kau lupa! Nafkahku bukanlah kewajibanmu untuk kau penuhi terus menerus, kamu sudah terlalu baik selama ini menampung kami di sini. Jadi tolong jangan kekang aku seperti ini, jangan menambah beban balas budiku. Selagi aku bisa aku ingin menafkahi putraku sendiri Dany,” sahut Viana dengan berapi.


Sebenarnya sudah cukup lama Viana ingin kembali bekerja atau apa pun yang bisa menghasilkan uang untuk biaya hidupnya dan sang putra. Namun di larang oleh Dany.


Dany bersikeras untuk menafkahi hidup Viana dan juga Vier. Namun dasarnya Viana, tak ingin terlalu membebani orang lain. Viana ingin mandiri dan kelak bisa membeli rumah sendiri dengan hasil jerih payah yang ia kumpulkan nanti.


Dany sedikit terhenyak saat Viana menegaskan bahwa ia dan Viana bukanlah pasangan suami istri. Dan bukan pula kewajiban Dany untuk mencukupi nafkah Viana dan putranya. Itu semua benar. Sepertinya kali ini Dany harus mengalah, membiarkan Viana melakukan apa yang wanita cantik itu ingin lakukan.


“Baiklah, tapi bagaimana bisa aku membantumu? Maksudku, tidak ada pekerjaan untuk lulusan maaf sekolah dasar sepertimu Vi.”

__ADS_1


“Pekerjaan apapun Dany, jadi cleaning servis, pembantu, baby sister atau apalah asal aku bisa menghasilkan uang dengan jerih payahku sendiri,” usul Viana.


Viana mau bekerja jadi apa pun asal jangan bekerja kembali bersama Verrel, mantan suami kontraknya dulu. Bagaimana pun Viana harus menyembunyikan jati diri siapa Vier dari Verrel.


“Baiklah, akan aku usahakan. Tapi untuk biaya baby sister Vier akan tetap aku tanggung ya?” paksa Dany lagi.


”Terserahmu sajalah Dany, tapi aku tetap akan membayarnya setelah aku mendapat pekerjaan nanti.”


Sebenarnya Dany keberatan akan usul Viana, namun Dany juga sadar ia tidak ada hak penuh atas hidup Viana saat ini karena Viana bukanlah istrinya.


“Baiklah.”


Keesokan harinya, Dany memberitahu Viana untuk seleksi calon karyawan di sebuah perusahaan kenalan Dany. Dari semua pekerjaan, hanya itu yang sesuai dengan latar belakang pendidikan yang Viana punya sekarang.


Hingga tiba waktunya Viana di panggil untuk tes interview. Tak butuh waktu lama, Viana pun langsung di terima kerja di bagian office girls dan pantry. Karena memang hanya itu pekerjaan yang tidak membutuhkan latar belakang pendidikan. Dan mulai hari itu juga Viana sudah boleh mulai bekerja.


“Apa pun pekerjaannya yang penting halal untuk anakku, tidak mungkin aku memberinya nafkah dari hasil menjambret seperti dulu,” gumam Viana saat sedang mematut diri di depan cermin yang ada di dalam toilet wanita.


Rupanya Viana baru saja mengganti pakaiannya dengan seragam khusus cleaning servis yang sudah di sediakan oleh perusahaan dimana kini ia bekerja.


Dan tugas Viana sendiri tidak begitu sulit menurutnya. Hanya membersihkan toilet serta seluruh ruangan kerja, membuang sampah yang menumpuk. Membuatkan kopi untuk para staff office, dan juga membantu staff yang membutuhkan bantuannya. Semisal menyerahkan dokumen, atau memfotokopi dokumen yang di butuhkan.


Viana rasa, ia sanggup melakukan semua hal itu. Meski awalnya ia tidak mengerti cara menggunakan mesin fotokopi, namun ternyata karyawan di tempat itu baik dan mau mengajarkan bagaimana cara mengoperasikan mesin fotokopi tersebut hingga Viana bisa.

__ADS_1


Tanpa terasa sudah sebulan lamanya Viana bekerja di perusahaan itu. Sejauh ini Viana tidak mendapat kesulitan dalam bekerja. Karena karyawan di perusahan itu sangat ramah dan mau mengajarkan dirinya yang minim pengetahuan. Membuat Viana betah bekerja di tempat itu.


Suatu hari, saat Viana tengah mencuci gelas-gelas kotor sisa kopi daripada staff office. Sarah sebagai kepala bagian kebersihan memerintahkan kepadanya untuk membuatkan kopi dan di antarkan ke ruang presedir.


“Viana, tolong buatkan kopi 2 cangkir ya. Gulanya sedang saja, untuk cangkirnya kamu bisa pakai yang berada di lemari atas khusus untuk staff penting. Dan antarkan ke ruang presedir sekarang.”


“Baik kak Sarah akan Viana segera kerjakan.”


Usia Sarah di atas Viana lebih tua sedikit. Namun Sarah belum menikah oleh karena itu Viana memanggil wanita itu dengan sebutan kakak.


Usai membuat kopi sesuai pesanan kak Sarah, Viana langsung mengantar kopi itu ke ruangan presedir yang berada di lantai paling atas gedung pencakar langit itu.


Ting!


Bunyi lift menandakan bahwa Viana sudah sampai di ruang khusus petinggi perusahaan tersebut. Viana mencoba merapikan anak rambutnya yang sedikit terurai. Lalu menarik nafas sebelum ia memutuskan untuk masuk. Ini pertama kalinya Viana mengantarkan kopi ke ruangan presider. Biasanya seniornya yang bernama Lidya yang bertugas melayani kebutuhan para petinggi.


“Permisi, saya ingin mengantarkan kopi.”


Bersambung ...


Hii readers, jangan lupa dukung novel author yg lain jg ya .terima kasih 🤗


__ADS_1


__ADS_2