Jambret Cantik

Jambret Cantik
Hampir Ketahuan


__ADS_3

Viana bersenandung riang sambil memasukkan beberapa helai pakaian. Serta beberapa perlengkapan pribadinya. Lalu di raihnya amplop putih yang berisikan tiket pesawat dan kode booking sebuah hotel yang akan Viana tempati saat sudah sampai di Jogja.


Viana pun menciumi amplop itu berulang kali. Ini perjalanan pertama kalinya ke luar kota membuat Viana merasakan senang luar biasa.


“Dany you're the best! Love you Dany!” puji Viana tanpa asisten Verrel itu tahu.


Viana pun terkekeh sendiri ketika kembali mengingat sikap konyolnya. Beruntung Dany menempati janjinya. Jika tidak, ia ingin membuat peritungan kepada pemuda itu.


Kini Viana tengah bersiap-siap, karena hari itu juga ia akan mengikuti penerbangan ke dua. Dan sebentar lagi sopir suruhan Dany akan menjemputnya. Tidak banyak yang ia bawa, hanya satu tas ransel dan satu sligbag. Tidak mirip orang liburan melainkan seperti mirip orang pergi merantau.


*


*


Verrel berdecak sebal saat ternyata benar ia ketinggalan pesawat. Semua ini gara-gara Amelia yang kukuh menyuapinya untuk sarapan. Belum lagi macetnya ibu kota yang membuatnya harus mempunyai stok sabar yang unlimited.


Jadi mau tak mau baik Verrel dan Amelia akan mengikuti penerbangan selanjutnya yang sudah di atur oleh Dany.


Tak lama bagian informasi memberitahukan waktu pemberangkatan pesawat sebentar lagi. Dan di harapkan semua penumpang segera memasuki pesawat.

__ADS_1


Verrel dan Amelia pun mengantri untuk pengecekan tiket dan sebagainya. Setelah itu mereka duduk dengan santai sambil memesan minuman.


Sambil berbincang-bincang, mereka menanti keberangkatan pesawat. Namun sudah sampai 20 menit lamanya pesawat tak kunjung berangkat. Verrel pun berinisiatif untuk bertanya kepada pramugari pesawat tersebut.


“Kenapa pesawatnya belum berangkat nona? Apa masih menunggu seseorang?” tanya Verrel kearah pramugari yang diperkiraan seusia Viana karena nampak masih sangat muda.


“Maaf tuan, kami masih menunggu seorang penumpang katanya sudah menuju kemari. Nah itu dia orangnya.”


Verrel yang ingin protes pun tidak jadi, karena pramugari itu pergi begitu saja. Kini Verrel pun melihat kearah wanita yang baru saja sampai itu.


Dari tempatnya Viana pun terkejut setengah mati. Kenapa bisa ia satu pesawat dengan Verrel? Bisa-bisa ia ketahuan kalau tidak menghindar. Beruntung Viana mengenakan kacamata hitam serta masker senada. Rambutnya yang biasa ia cepol kini ia gerai begitu saja. Dan di kepang sedikit bagian sisinya.


“Mampus aku! Kok bisa kebetulan gini sih? Pasti ini kerjaan Dany, awas saja kau Dany! Kamu gk jdi the best but you're the bad Dany! I Hate you!” gerutu Viana dengan kesal namun sangat lirih.


Viana pun melewati tempat duduk Verrel dan Amelia. Tepatnya Amelia duduk di belakang mereka berdua.


Verrel yang masih kesal pun memutuskan untuk duduk kembali. Sungguh bukan gaya Verrel untuk marah-marah di tempat umum.


“Sudahlah sayang kita nikmati saja perjalanan ini, lagian jarang-jarang kan kita bisa pergi berdua seperti ini,” ujar Amelia berusaha menenangkan perasaan kesal kekasihnya dengan senyum yang menggoda.

__ADS_1


“Kamu benar sayangku.”


Viana yang tak mendengarnya pun membuat gaya seperti orang yang ingin muntah. Mendengar kemesraan Amelia bersama Verrel yang tidak tahu tempat.


Dan akhirnya pesawat pun take off meninggalkan bandara setempat menuju bandara selanjutnya.


Kebetulan sekali Viana duduk sendirian. Mungkin karena pesawat itu ekslusif jadi hanya beberapa pemberangkatan saja. Karena kebanyakan penumpang memang operan dari pesawat pertama.


Viana pun menikmati jus jeruk yang di berikan sang pramugari. Namun tak lama, gadis itu merasakan sedikit mual. Apalagi melihat Amelia dan Verrel saling mengerat genggaman mereka. Bahkan Verrel mencium punggung tangan Amelia dengan mesra dan saling suap menyuapi makanan membuat Viana semakin mual.


“Ini pasti gara-gara ada mereka, biasanya aku naik bis, kopaja, angkot, ojek sama becak tidak pernah mabuk sekali pun kenapa sekarang jadi pengen mabuk ya? Mana tidak minum antimobok lagi.”


Viana terus menggerutu karena merasa mual dan pusing secara bersamaan. Dan akhirnya Viana pun muntah-muntah di tempat, beruntung ada pramugari yang melihat langsung memberikan kantong. Dan membawa Viana ke ruang kesehatan yang ada di pesawat.


“Siapa sih hari gini naik pesawat terus mabuk? Norak banget! kaya orang udik aja, sepertinya yang telat datang tadi ya? Udah tukang telatan, mabukan pula” omel Verrel yang reflek menutup mulutnya dengan tangan.


“Mungkin dia baru pertama naik pesawat, wajar saja yank,” sanggah Amelia santai meski sebenarnya ia sedikit terusik karena pesawat mereka tumpangi merupakan kelas VIP meski hanya pesawat pengganti. Dan harga tiketnya pun tidaklah receh.


Verrel pun memilih tak memperdulikan lagi, yang terpenting baginya ingin segera sampai dan segera mengurus urusan bisnis di Jogja lalu setelahnya menikmati waktu bersantai sejenak dengan Amelia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2