
Bugh!
“Akh!”
“Maaf..maaf..maaf! Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang terlu.....”
Ucapan Dany mengambang di udara saat manik matanya berhasil menangkap raut wajah cantik seorang gadis. Gadis itu nampak meringis tertahan, karena bahunya habis bersitubruk dengan tubuh tegap Dany.
“Tidak ada! Permisi!” balas gadis itu ketus lalu berlalu dari hadapan Dany.
Dany pun nampak termangu menatap kepergian gadis yang masih memakai segaram sekolah putih abu-abu itu. Dany mengusap wajahnya yang sedikit berminyak karena terik matahari, hatinya bergetar saat bersitatap gadis SMA berparas cantik itu.
“Astaga! Apakah ini yang namanya cinta pandangan pertama?!” gumam Dany bertanya-tanya.
Dany bukan tipikal pria yang mudah terpesona atau pun jatuh cinta kepada wanita. Meski hatinya sempat bergetar dengan istri kontrak majikannya Viana, namun tetap saja hatinya masih batu untuk menyimpan nama seorang wanita di sana.
Namun, saat bersitatap dengan gadis berseragam putih abu-abu itu. Seakan ada yang mendobrak pintu hati Dany. Membuat Dany penasaran akan gadis ketus itu.
“Akh sial! Kenapa aku lupa menanyakan namanya ya? Sudahlah Dany, ini bukan waktunya memikirkan jodoh, cinta atau apalah itu. Aku harus segera kembali ke mansion nyonya Venna, sebelum beliau ngamuk-ngamuk.”
Dany pun memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu menuju kediaman majikannya. Namun sepanjang jalan, Dany terus kefikiran rona wajah gadis itu. Rasa-rasanya Dany pernah melihatnya tapi entah dimana.
Gadis manis berseragam putih abu-abu. Sukses membuat hati Dany penasaran. Dany berjanji, jika tugasnya dari Verrel usai ia akan mencari tahu keberadaan gadis itu. Seolah hati Dany menjerit, “Itulah jodohku!”
__ADS_1
Usia bukanlah penghalang bagi manusia untuk saling jatuh cinta. Padahal Dany selalu di keliling para wanita cantik dan sexy, namun kini hatinya malah terketuk oleh gadis kecil berseragam putih abu-abu.
*
*
Di tempat lain.
Nampak seorang gadis berjalan sambil meringis. Rupa-rupanya lengan tangan gadis itu tergores batu kerikil nan tajam saat ia terjatuh tadi.
“Dasar om-om nggak punya mata. Masa orang segede ini nggak keliatan,” gerutu gadis itu sambil meniup-niup lengan tangannya yang sedikit berdarah.
“Aisyah! Kamu kenapa?” tanya seorang remaja laki-laki yang berjalan sambil menuntun sepedanya.
Ya gadis berseragam abu-abu itu adalah Aisyah. Aisyah adalah salah satu adik asuh Viana. Semenjak masuk panti asuhan, Aisyah dan anak-anak yang lain bisa melanjutkan pendidikan mereka kembali, dan berharap untuk bisa lulus dan mendapat ijasah kemudian hari.
Tino juga merupakan adik asuh Viana yang kini tinggal di panti asuhan bersama yang lain. Baik Tino mau pun Aisyah kini masuk kelas dan di sekolah yang sama.
“Boleh aku lihat lukamu ?” tanya pemuda itu.
“Buat apa? Udah jangan lebay deh, gimana kamu udah ketemu sama kak Viana belum?” tanya Aisyah mengalihkan.
“Belum, kemana perginya kak Viana ya Ais? Ada apa sebenarnya dengan kak Viana dan kak Verrel? Apa mereka sedang bertengkar ?”
__ADS_1
“Aku tak tahu Tino, yang jelas kita harus menemukan kak Viana. Kasihan kak Via pasti sedang butuh seseorang untuk mendukungnya. Kamu kan juga tahu, di ibu kota ini keluarga kak Via hanya kita No.”
“Kamu benar Ais, tapi kemana lagi kita akan mencari kak Via? Ke tempat biasa ia kerja tidak ada? Kita harus mencarinya kemana lagi?” ujar Tino sambil menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.
Aisyah dan Tino merupakan siswa dan siswi berprestasi. Hanya butuh mengejar paket saja, mereka sudah bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah umum. Meski mereka pulang pergi hanya berkendarakan sepeda butut. Namun Aisyah dan Tino sangat bersyukur.
Aisyah pun nampak berfikir sejenak. Gadis cantik bersurai panjang itu nampak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lalu sebuah senyum terbit di lesung pipinya.
“Bagaimana kalau kita ke rumah. Aku kangen sekali Tino, sudah lama semenjak di panti kita tidak pernah melihat rumah lagi, Kita ke sana yuk?” ajak Aisyah setengah merengek.
Rumah yang Aisyah maksud adalah rumah dimana ia beserta adik asuh Viana yang lain tinggal bersama. Sebelum Viana memutuskan untuk menikah dan meminta mereka untuk tinggak di panti asuhan.
Memang di panti asuhan, tempatnya lebih terawat. Kehidupan mereka lebih terjamin daripada sebelumnya. Namun, tinggal di rumah tua itu adalah kenangan yang tak bisa Aisyah lupakan begitu saja. Di rumah itu pula, terciptalah sebuah keluarga kecil. Meski hidup dalam kesulitan, namun selalu bahagia. Itulah yang Aisyah rindukan. Terutama rindu akan perhatian Viana.
“Baiklah kita kesana, cepat naik! Kali ini pegangan yang kuat karena aku akan ngebut!” ujar Tino memperingatkan.
“Hati-hati Tino! Nanti kita jatuh!” pekik Aisyah.
Sepanjang perjalanan Tino dan Aisyah saling bersenda gurau. Hingga tanpa terasa kini ayunan pedal Tino sampai di depan rumah tua bercat putih yang sudah menguning. Bangunan itu memang sudah nampak tua namun terlihat rapi dari luar.
“Tino! Lihat! Ada bunga dalam pot itu tandanya???”
Aisyah dan Tino pun saling pandang. Mereka hafal betul seseorang yang suka menanam bunga dalam pot itu siapa. Senyum mengembang dari kedua wajah belia itu.
__ADS_1
“Kak Viana!”
Bersambung...