Jambret Cantik

Jambret Cantik
Gadis apa Janda?


__ADS_3

“Lo!”


“Eh, kamu?” Viana buru-buru menginterupsi panggilannya yang menunjuk kearah Verrel. Lalu dengan gerakan cepat menarik telunjuknya kembali dan berbalik arah, agar Verrel tak mengenali bahwa dirinya lah orang yang sudah menjambretnya beberapa hari lalu.


“Kenapa laki-laki itu ada disini sih? Kenapa rasanya dunia ini begitu sempit sekali,” desis Viana yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sambil menutupi sebagian wajahnya dari pandangan Verrel.


“Siapa dia Dany? Apa dia mengenaliku?” tanya Verrel curiga kearah Dany sang asisten.


“Maaf, saya belum sempat berkenalan dengannya Tuan, kebetulan gadis tadi itu langsung masuk dan mendaftarkan diri. Lalu saya suruh berganti pakaian saja,” terang Dany jujur apa adanya.


Verrel pun menerima alasan Dany yang cukup logis bagi pria matang berumur 36 tahun itu.


“Hei, kau masih gadis apa sudah janda?” tanya Verrel seraya berjalan lamban kearah menghampiri Viana masih berdiri terpaku.


Kenapa pertanyaannya absurd begitu? Gadis apa Janda maksudnya apa? Dasar laki-laki mesum..


Gerutu Viana dalam hati.


“Hei, kau tuli ya?!” sentak Verrel yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Viana.


“Eh..anu Gadis.”


Viana merasa malu sekali untuk mengucapkan statusnya yang masi gadis dan masih tersegel. Jika bukan karena bersembunyi dari kejaran massa, ia juga tidak mau terjebak bersama pria mesum seperti Verrel. Sudah pelit, mesum lagi.


Viana masih mengingat saat kemarin Verrel mengejarnya tanpa putus asa, saat ia berhasil menjambret ponsel pintar pria itu. Padahal pria itu berjas sudah pasti beruang.


“Bagus masih gadis, itu artinya kamu belum punya bekas suami. Tapi apakah sudah punya pacar?”


Viana merasa di telanjangi oleh Verrel, pertanyaan seperti itu seharusnya tidak pantas di ajukan saat interview kerja. Namun sebagai freshgradute, Viana tetap berusaha berfikir positif.


Tiba-tiba segerombolan orang yang mengejarnya barusan, berhenti di depan gedung itu dan menghampiri Dany asisten dari Verrel.


Haduh! Mati gue bisa ketahuan kalau begini!

__ADS_1


Viana nampak risau, gadis itu semakin menekukkan wajahnya dalam-dalam ke bawah untuk menghindari tatapan-tatapan yang mungkin mengenalnya.


“Maaf mas, apa barusan mas melihat seorang anak eh salah maksudnya seorang gadis berlari kemari?”


Dany pun menatap kearah Verrel atasannya untuk meminta pendapat. Sedangkan Viana memejamkan matanya, takut dengan apa yang terjadi selanjutnya.


Verrel pun memandang kearah Viana, lalu sebuah senyum tipis terbit di sudut bibirnya.


“Maaf bapak-bapak, ibu-ibu sedari tadi kami tak melihat apa pun. Iya kan sayang?” interupsi Verrel seraya meraih pinggang ramping Viana.


Viana yang di peluk Verrel dari samping pun hanya bisa membeo tanpa bisa berucap sepatah kata pun.


“Iya kan sayang?” tekan Verrel lagi.


“I..i...iya.” balas Viana tergagu.


“Oh, kalau begitu kami minta maaf karena sudah mengganggu waktu bapak dan ibunya. Kami permisi.”


“Silahkan.”


“Jangan Ge-eR dulu ya, tadi itu cuma latihan,” ketus Verrel.


Latihan? Latihan apa? Latihan akting kah?


“Jadi bagaimana? Apa kamu sudah memiliki kekasih atau pacar?” ucap Verrel kembali.


Viana pun tersentak, akan pertanyaan Verrel yang keukeuh mempertanyakan hal pribadi itu kepadanya.


“Tidak,” sahut Viana lirih.


“Bagus, mulai besok kontrak kita di mulai. Dan kamu akan menjadi istri pura-puraku selama satu tahun ke depan, jadi persiapkan dirimu.”


“Apa? Istri?!” pekik Viana sambil menatap kearah tajam kearah Verrel namun buru-buru Viana menundukkan pandangannya kembali.

__ADS_1


“Iya istri kontrakku, apa kamu tak membaca pamflet di depan? Sebentar, sepertinya aku pernah melihatmu tapi di mana ya?”


Verrel pun mulai mendekat kearah Viana yang sedari tadi menghindari tatapan mata dengannya. Namun Viana buru-buru menghindari dengan alasan ingin ke toilet.


“Ah, maaf gue harus ke toilet gue kebelet!” seru Viana sambil buru-buru berlalu dari hadapan Verrel.


Namun sial, baru satu langkah saja high heels terlepas dari tumit Viana yang memang tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi. Dan dengan tidak elitnya Viana terjatuh di depan mata Verrel.


Kyaaa!!


Viana pun memejamkan matanya, bersiap merasakan kerasnya lantai marmer yang dingin. Namun siapa sangka, tubuh Viana mengambang di udara karena tertahan oleh lengan kekar seseorang.


Deg!


Deg!


Deg!


Sekitar 2 menit mata almond Viana dan mata elang Verrel saling bersitubruk memberikan sinyal yang tak baik yang harus segera di respon oleh tubuh. Namun yang terjadi Verrel malah semakin mempererat rengkuhannya.


“Lepaskan!”


Verrel pun melepaskan rengkuhannya dari tubuh Viana.


“Oke, mulai besok kamu harus datang ke kantorku untuk brifing mengenai kontrak kerja kita. Dany, beri ia kartu namaku dan juga alamat kantor kita. Dan aku tidak terima penolakan! Ingat, jika kamu ingkar aku bisa menemukanmu dimana pun kamu tinggal meski di lubang kuman sekali pun!”


Setelah berucap itu Verrel berlalu begitu saja meninggalkan Viana yang masih mematung.


Glek!


Viana pun menelan salivanya dengan susah payah. Mendengar ancaman Verrel membuat bulu kuduk Viana meremang.


“Ah! Laki-laki itu memang menyebalkan, sudah pelit, mesum dan tukang ngancam.”

__ADS_1


TBC


__ADS_2