
“Verrel,” panggil seorang wanita cantik kearah Verrel yang sedang merapikan mejanya.
Mendengar namanya di sebut seseorang membuat Verrel mengalihkan atensinya dari berkas-berkas yang menggunung di atas meja di hadapannya.
Namun sedetik kemudian Verrel tak mampu menyembunyikan rasa keterkejutannya. Setelah hampir dua tahun berlalu, kini masa lalunya datang kembali ke kehidupan Verrel.
Verrel yang masih dengan rasa terkejutnya pun hanya diam mematung. Namun ekpresi pemuda itu tidak bisa di sembunyikan.
“Verrel.” Panggil wanita itu lagi.
“Am...Amelia,” ucap Verrel terbata.
Wanita itu pun mengangguk seraya tersenyum cantik. Senyuman yang mampu meluluh lantahkan seluruh hati dan jiwa seorang Verrel.
“Dany, tolong kosongkan semua jadwalku hari ini. Siapa pun yang ingin bertemu denganku, bilang saja aku sibuk. Dan kamu boleh keluar sekarang,” perintah Verrel.
“Baik, pak Verrel.”
“Amelia duduklah.”
Amelia pun menuruti perintah Verrel untuk duduk dengan anggun di sofa yang ada di ruangan kerja Verrel. Seperti biasa pesona Amelia begitu menyihir pandangan seorang Verrel. Membuat Verrel melupakan niatnya untuk bertanya kepada wanita cantik itu.
“Verrel, apa kabar? Sudah lama tak bertemu, kamu terlihat semakin tampan saja,” puji Amelia kearah Verrel yang wajahnya langsung merona.
Hanya Amelia yang mampu memberikan kalimat-kalimat sentuhan yang terdengar memabukkan bagi Verrel.
“Kamu bisa saja Meli, kabarku seperti yang kamu lihat sekarang aku baik. Lalu bagaimana kabarmu? Kamu sendirian ke sini?”
Meli adalah panggilan sayang yang Verrel berikan kepada Amelia sewaktu mereka masih berpacaran.
“Kebetulan aku ada meeting daerah sini, jadi aku sempatkan mampir ke kantormu Verrel. Apa kamu keberatan ?” tanya balik Amelia.
“Oh, Ti...tidak! Tidak sama sekali Meli. Yang ada aku sangat bahagia,” sanggah Verrel dengan senyum yang tak luntur dari wajah tampannya.
__ADS_1
Amelia pun kembali tersenyum cantik. Kali ini sudut bibirnya tertarik agak ke belakang lebih lebar. Sepertinya Verrel masih menyimpan perasaan untuk dirinya.
“Verrel, kalau boleh tahu apakah kamu masih single?” tanya Amelia setengah berbisik.
“Tentu saja, aku masih single,” jawab Verrel tanpa ragu.
Di hadapan Amelia, Verrel bagaimana laki-laki tak berdaya. Sesaat Verrel melupakan statusnya yang sudah menikah bersama Viana. Sehingga pria tampan nan mapan itu memilih mengaku single di hadapan sang mantan Amelia. Lagian statusnya hanya pernikahan kontrak, jdi Verrel tidak perlu merasa khawatir.
“Kenapa?” tanya balik Verrel.
“Tidak apa-apa Ver, aku hanya ingin tahu,” elak Amelia masih dengan senyum menawannya.
Verrel pun mengulum senyum, amarahnya seketika lenyap jika sudah bertatap muka dengan mantan kekasih yang masih membekas di hatinya itu.
“Ver...”
“Amelia..”
Panggil Verrel dan Amelia bersamaan memanggil nama lawan bicaranya masing-masing. Sejurus kemudian Verrel dan Amelia itu nampak terkekeh bersamaan. Mereka kini seperti dua sejoli yang baru bertemu dan menyimpan rasa. Bagaikan anak remaha yang merasa jatuh cinta dan bertingkah malu-malu kucing.
Sesuai perintah yang Verrel berikan kepada Dany sang asisten. Hari itu Verrel pun meluangkan waktunta seharian penuh untuk menemani Amelia sang mantan kekasih, yang kebetulan bertandang ke tempatnya. Meski status Amelia sekarang sudah berbeda, namun tak menyurutkan perasaan Verrel untuk berada dekat di wanita cantik itu.
*
*
“Anak-anak kak Via datang!!” teriak Viana begitu gadis itu sampai di panti asuhan di mana Tino, Aisyah, Roby, Rosy dan Willy kini tinggal.
Teriakan Viana berhasil mengundang banyak perhatian dari anak panti termasuk kelima adik asuh Viana. Dan kelim anak itu pun berlari satu persatu dan meringsek ke dalam pelukan Viana.
Karena rindu Viana pun menyambut pelukan kelima adik asuhnya dengan merentangkan kedua tangannya. Rasa haru tak mampu Viana ungkapkan dengan kata-kata. Namun sedetik kemudian Viana baru menyadari, kelima dari adik asuhnya tak menampakkan batang hidungnya.
Viana pun bertanya kepada Tino dan Aisyah yang sudah beranjak remaja dan lebih mengerti dari pada ketiga adik asuhnya yang lain.
__ADS_1
“Aisyah, ngomong-ngomong Willy kemana??” tanya Viana yang tak mampu menahan rasa penasarannya.
“Emm...Willy, itu kak...” Aisyah pun berkata terbata sambil menatap kearah Tino untuk meminta bantuan.
“Willy...sudah di adopsi kak,” timpal Tino.
“Apa?! Kenapa tidak ada yang memberitahu kakak? Padahal Willy belum berpamitan sama kaka,” tanya Viana dengan nada penuh kecewa.
“Maafkan kami kak, waktu itu kami sudah mencoba menghubungi nomor kakak. Tapi nomor itu tidak tersambung, kami fikir kakak tidak akan pernah kesini lagi,” ungkap Tino dengan gamblang.
“Kamu bilang apa Tino, kakak tidak mungkin melupakan kalian. Memang sebulan kemarin kakak sedang sibuk, ponsel kakak nyelem di air waktu kakak mencuci sambil musikan. Kakak yang salah tidak memberitahu kalian nomor kakak yang baru, maafkan kakak ya..” pinta Viana.
“Tidak apa-apa kak, kita hanya miss komunikasi saja. Iyakan Tino,” timpal Aisyah yang terlihat semakin dewasa setelah gadis remaja itu bersekolah.
“Katakan, keluarga seperti apa yang sudah mengadopsi Willy. Jujur kakak sangat merindukan Willy Ai. Di saat Willy sakit, kakak tidak bisa merawatnya. Malam menitipkan kalian ke panti ini,” ungkap Viana dengan sedih.
“Tidak apa-apa kak, seharusnya memang tempat kami di sini. Jika terus menerus bersama kak Via yang ada kami hanya menyusahkan kakak saja. Kami sangat bersyukur mempunyai kak Via. Kak Via adalah ayah, ibu dan kakak terhebat bagi kami berlima,” sahut Tino.
“Keluarga Willy sangat baik kak, mereka bahkan memberikan kami mainan dan pakaian. Sepertinya mereka dari keluarga terpandang. Karena banyak orang yang berseragam serba hitam menjaga di sekeliling mereka,” tutur Aisyah.
“Benarkah itu? Wahh.!.hebat sekali seperti di cerita novel-novel ya. Beruntungnya Willy ya, Kakak bersyukur Willy kini mendapatkan keluarga utuh seperti apa yang ia inginkan,” ungkap Viana.
Namun melihat keempat adik asuhnya sedikit murung karena ucapnya, Viana pun memiliki ide untuk menghibur mereka.
“Kalian jangan bersedih, kalian masih punya kak Via, ibu panti dan teman-teman kalian di sini. Kakak doakan semoga ada orang baik yang akan mengadopsi kalian kelak. Agar kehidupan kalian lebih baik dari sekarang.”
Mendengar ucapan Viana, malah membuat Tino, Aisyah serta Roby dan Rosy jadi terisak. Entah kata yang mana yang Viana ucapkan, Viana berusaha untuk memperbaikinya.
“Hei, kalian kenapa malah menangis apa kalian tak bahagia bisa mendapatkan orang tua utuh seperti yang kalian inginkan?”
“Bukannya kami tak bahagia kak Via, jujur kami pun sangat bahagia kelak bisa memiliki keluarga utuh seperti Willy. Namun yang membuat kami bersedih adalah, kami harus terpisah dari kak Via, hu..huuu.” tutur Tino sambil terisak.
Viana pun memeluk tubuh keempat adik asuhnya itu dengan erat. Rasa sayangnya begitu terpatri jelas dalam ingatan adik-adiknya itu. Bahkan sampai tak ingin berpisah darinya.
__ADS_1
“Terima kasih kalian sudah menyayangi kak Via, kaka Via pun juga sangat menyayangi kalian.”
Bersambung...