Jambret Cantik

Jambret Cantik
Di buat Jantungan


__ADS_3

“Maaf, apakah ini benar saya di pecat pak?” tanya Viana dengan nada sedikit bergetar. Viana merasa shock akan surat pemberitahuan itu.


Pria yang duduk membelakangi Viana pun memutar handle kursinya menghadap Viana. Dan kini wajah sang wakil direktur pun terpampang nyata di hadapan Viana.


“Verrel,” desis Viana dengan suara tercekat.


Viana mulai berani memanggil Verrel tanpa menggunakan kata sapaan tuan. Karena Verrel bukanlah majikannya lagi seperti dulu.


“Apa tulisan di surat itu kurang jelas? Mulai besok kamu aku pecat!”


“Tapi...tapi, apa salahku Verrel? Tolong bersikaplah dewasa jangan ke kanakan seperti ini!”


“Kekanakan katamu? Lebih kekanakan siapa aku atau kamu?! Kamu pergi dan menghilang membawa uangku begitu saja dariku di saat kontrak kita belum selesai. Aku tidak terima itu!” kecam Verrel kearah Viana.


Viana pun menundukan pandangannya karena merasa bersalah. Namun semua ini juga sepenuhnya bukan salah Viana. Verrel pun turut andil dalam kesalahan itu.


“Verrel, please jangan seperti ini. Ini terlalu kekanakan. Jika masalahnya karena uang, aku pasti akan membayarnya. Tapi tolong biarlah aku bekerja seperti biasanya dan aku janji aku akan membalas semua hutang-hutangku itu,” pinta Viana setengah memelas.


Untuk saat ini Viana mencoba mengesampingkan egonya di hadapan Verrel. Karena ada hati dan perut yang harus ia jaga dan penuhi kebutuhannya yaitu demi putranya Vier.


Verrel nampak berfikir sejenak, lalu memberikan jawaban atas permohonan Viana barusan.


“Lebih baik bekerja denganku seperti dulu, aku akan membayarmu dengan gaji di atas Umr perusahaan ini,” tawar Verrel kemudian.

__ADS_1


Viana pun langsung menggeleng cepat tanda menolak dengan tegas tawaran Verrel barusan. Karena itu bukan ide yang bagus.


“Tidak! aku tidak mau kembali kesana! Aku merasa bosan dan kesepian. Aku merasa nyaman bekerja di tempat dan dengan profesiku saat ini,” sahut Viana mantap tanpa ragu.


Sebenarnya, Viana hanya tidak ingin kembali terjerat dengan Verrel. Karena itu bisa membatasi ruang geraknya untuk bertemu Vier putranya. Sudah pasti jika bekerja kepada Verrel, Viana harus rela meninggalkan putranya. Dan Viana tidak ingin itu terjadi.


Verrel nampak merenung sesaat, mulanya ia ingin membuat Viana kembali bekerja kepadanya. Namun ternyata wanita itu dengan tegas menolaknya. Semenit kemudian, senyum seringai terbit dari bibir Verrel. Verrel mempunyai ide untuk mengikat Viana dengan sebuah perjanjian kembali.


“Baiklah, aku mengijinkanmu untuk tetap bekerja di perusahaan ini, namun dengan satu syarat.”


Verrel pun tersenyum menyeringai, ada sesuatu yang pria itu sembunyikan dari Viana.


“Katakan, apa syaratnya?” tanya Viana penasaran.


“Ma...mau apa kau?” Viana pun menyilangkan kedua tangannya pada area dada. Berjaga-jaga jika suatu hal buruk terjadi kepadanya. Namun sepertinya Verrel mengabaikan pertanyaannya.


Pria tampan dengan rahang yang kini di tumbuhi sedikit bulu-bulu halus itu terus mendekat ke arah Viana. Viana tidak ingin berfikir negatif, namun arah pandangan Verrel seperti ingin sekali menerkamnya.


Verrel terus mendekati Viana hingga tidak ada jarak dari keduanya. Lalu Verrel memaksa Viana untuk membuka kedua tangannya, dan mengunci kedua tangan itu di atas kepala Viana sendiri. Viana pun tercekat tak mampu mengeluarkan kata-katanya lagi. Karena kini tubuhnya berada dalam kukungan dada bidang Verrel.


Viana sangat mampu menghirup aroma maskulin dari tubuh pria itu. Dan aromanya masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Tubuh Viana bergetar hebat, karena mendapat sentuhan dari Verrel.


Wajah Verrel pun mendekat tepat di depan bibirnya, lalu Verrel memiringkan wajah seperti hendak mencium Viana. Viana pun berpaling kearah lain. Namun perkiraan Viana salah, ternyata Verrel bukan ingin menciumnya namun hanya ingin membisikkan sesuatu tepat di daun telinga.

__ADS_1


Tawa Verrel ingin meledak saat melihat Viana yang biasanya selalu membantah, kini nampak tak berdaya dalam kukungannya.


“Ingat ya Viana, kontrak kita masih berlaku dan aku akan memperpanjangnya nanti. Untuk syaratnya kau juga akan tahu sendiri nanti, sekarang pergilah!” usir Verrel dengan suara berbisik.


Namun Viana masih tetep menutup matanya dari Verrel.


“Buka matamu! Apa Kau harap aku akan menciummu? hah! Jangan mimpi! Sekarang pergilah!”


Viana pun tersentak akan kata ancaman dan usiran dari Verrel. Wajahnya memberengut kesal, ternyata Verrel baru saja mengerjainya.


Sialan!


Gumam Viana dalam hati. Dengan jantung masih berdebar-debar Viana pun pergi meninggalkan ruangan Verrel dengan cepat.


Setelah kepergiaan Viana, barulah Verrel tergelak. Tawa yang sedari ia tahan kini meledak begitu saja.


“Ha..ha...haaa!”


Rasanya begitu puas bisa mengerjai Viana. Salahkan saja Viana, kenapa ia menghilang sesuka hati dari hidupnya. Tidakkah gadis itu tahu, selama ini Verrel berusaha mencarinya sampai kelimpungan seperti orang gila. Dan tiba-tiba saja, takdir mempertemukan mereka kembali.


Verrel pun tersenyum kecut. Rasanya ia belum puas mengerjai Viana yang sudah berlaku seenaknya kepada diri Verrel selama ini.


“Ini baru permulaan Viana, aku akan membuatmu membayar semua kesalahanmu lebih dari ini!” gumam Verrel seraya menyeringai.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2