
“Hal apa? Apa aku salah?! Kenapa kamu jadi posesif seperti ini? Kamu Cemburu?” sarkas Viana.
Deg!
Seketika cengkeraman Verrel pada pergelangan tangan Viana mengendur. Viana memanfaatkan kesempatan itu untuk menjauh dari Verrel.
“Aku tidak cemburu! Tapi aku tidak suka pria lain melihat bagian tubuhmu seperti tadi apalagi tatapan mereka begitu lapar ke arahmu!” rahang Verrel mengeras kembali.
“Lalu apa urusanmu? Bukankah sesuai kontrak kita tidak punya hak untuk mengurusi urusan masalah pribadi masing-masing? Kalau kau lupa, aku akan tunjukkan isi perjanjian itu kembali! Padahal aku tak masalah kamu membawa kekasihmu ke dalam apartemen ini, karena pernikahan kita hanya KONTRAK!” sarkas Viana penuh penekanan tak kalah sengit dari Verrel.
Air muka Verrel nampak semakin murka. Namun ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia harus semarah itu pada Viana. Gadis itu sebenarnya tidak salah, namun Verrel juga tidak ingin mengakui bahwa ia tidak suka jika tubuh mulus Viana jadi konsumsi gratis oleh banyak pria mata keranjang.
“Ikatan kita hanya Kontrak semata, aku akan tetap melakukan kewajibanku seperti biasanya meski kekasihmu itu sering mengeklaim kalau itu pekerjaannya. Padahal tidak ada yang kekasihmu itu kerjakan selain mengikir kuku-kukunya yang runcing!”
“Jadi mulai hari ini kita bebas melakukan apa pun yang kita inginkan! kamu juga bebas berhubungan dengan kekasihmu itu. Terserah kalian mau ngapain, aku tak peduli! Dan aku pun juga punya hak apa yang ingin aku lakukan! Aku akan tetap menjaga harkat dan martabatmu di hadapan Mama Venna, meski kamu bukan kekasih atau pun suami sungguhan bagiku,” imbuh Viana lagi.
Setelah berucap itu Viana melenggang pergi meninggalkan Verrel yang masih mematung menahan amarah yang tengah bergejolak.
__ADS_1
“Sial!”
Verrel pun memukul tinjunya ke udara mencoba menyalurkan rasa kesal yang tidak mendasar yang kini pria itu rasakan. Verrel merasa kesal karena ia tidak bisa menjelaskan alasan apa ia ingin marah kearah gadis yang hanya berstatus sebagai istri kontraknya itu.
Akhirnya Verrel pun turut masuk ke dalam kamarnya yang bersebelah dengan Viana. Inilah alasan Verrel memutuskan untuk tinggal di apartemen, agar Mama Venna tidak tahu bahwa setiap malam Verrel dan Viana itu pisah ranjang. Atau tidur berbeda tempat.
Di dalam kamarnya Verrel merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur yang empuk. Ucapan Viana kembali terngiang-ngiang seolah mengolok-ngolok siapa dirinya. Statusnya hanya suami kontrak, jadi untuk apa ia marah kepada gadis itu?
Ah! Tetap saja Verrel merasa kesal jika mengingat tatapan-tatapan lapar dari para pria-pria di sana. Apalagi pria-pria di sana rata-rata sudah beristri, apakah Viana akan menjadi bahan fantasi mereka saja? Atau lebih parahnya menjadikan gadis itu istri kedua mereka?
Verrel pun menggeleng-geleng pelan. Entah kenapa fikirannya tentang Viana menjalar kemana-mana memikirkan hal yang bisa saja terjadi. Dan rasa tidak rela pun hadir menelusuk relung hatinya.
Alih-alih terus memikirkannya, Verrel memilih tidur. Berkas pekerjaan yang di jadikan alasan untuk cepat-cepat pulang di biarkan terogok di atas meja kerjanya begitu saja. Tak ada niat sedikit pun Verrel untuk menyentuh lembaran kertas yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk perusahaannya.
Fikir Verrel, masih ada hari esok dan biarkan asistennya Dany yang akan mengerjakannya. Itulah enaknya jadi bos, tinggal suruh ini itu beres.
*
__ADS_1
*
Semenjak hari itu, baik Viana mau pun Verrel tidak saling bertegur sapa. Sebenarnya hanya Viana, melihat Viana hanya diam membuat Verrel enggan berucap atau bertanya tentang sesuatu.
Sesuai ucapan gadis itu, gadis itu tetap melayani semua kebutuhannya layaknya istri sungguhan. Seperti pakaian, masak, dan membersihkan apartemen. Namun yang membuat Verrel geram, gadis itu enggan bersitatap atau mengobrol dengannya.
Dan setiap kali Verrel membawa Amelia ke dalam apartemennya. Tanpa berucap sepatah kata pun gadis itu melenggang keluar apartemen begitu saja. Entah kenapa kediaman Viana seolah membuat sunyi hari-harinya, padahal setiap hari Amelia selalu berada di dekatnya.
“Beib! Hei...kamu kenapa? Aku perhatiin akhir-akhir ini sikapmu aneh deh. Kamu lebih banyak diam dari biasanya. Apakah ada masalah?” sentak Amelia saat mereka tengah makan siang di luar kantor.
“Akh! Masa sih? Mungkin itu cuma perasaanmu saja sayang,” elak Verrel dengan lembut.
Tidak mungkinkan ia harus jujur kepada pacarnya sendiri bahwa ternyata ia tengah memikirkan gadis lain. Bisa-bisa ia galau tujuh turunan lagi kalau sampai wanita itu pergi meninggalkan dirinya. Namun satu sisi, ia juga tidak bisa mengabaikan Viana.
Verrel pun menjadi heran sendiri, selama ini tidak ada satu gadis pun yang berhasil mengusik cintanya kepada Amelia. Baginya tidak ada bintang yang lebih terang daripada Amelia. Namun pemikiran itu patah seketika setelah kehadiran Viana. Gadis yang sudah menjambretnya. Mungkin bukan hanya barang yang sudah gadis itu jambret, melainkan hati dan perasaan Verrel pula tanpa pria itu sadari.
Bertepatan dengan itu, Verrel melihat seorang yang baru saja ia fikirkan tengah berjalan dengan seorang pria setengah baya. Sepertinya pria itu berumur sekisar 50 tahunan. Verrel mencoba menahan diri untuk tidak menghampiri Viana karena ada Amelia bersamanya.
__ADS_1
Sebaiknya apa yang hrus di lakukan Verrel reders? Menghampiri orang itu? Atau membiarkan saja.
Jangan lupa vote dan giftnya ya..🤭😘😘