Jambret Cantik

Jambret Cantik
Verrel jadi Posesif


__ADS_3

“Viana? Apa yang gadis itu lakukan di sini?” desis Verrel lirih. Saking lirihnya membuat Amelia yang duduk di hadapannya tak mampu mendengar dengan jelas.


“Kenapa Verrel?” tanya Amelia yang masih asyik menikmati spagetti miliknya.


“Tidak ada, sebentarnya aku ingin ke toilet. Kamu tunggu di sini aja ya Meli.”


Pamit Verrel begitu melihat Viana bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke dalam restauran tersebut. Verrel sudah menduga, pasti Viana menuju ke toilet.


“Baiklah, jangan lama-lama ya sayang nanti aku bisa kangen,” gombalan Amelia.


Verrel hanya menarik sudut bibirnya sesaat. Entah pujian, rayuan atau pun godaan dari bibir Amelia tak lagi bisa membuat hatinya kembali tersanjung. Jadi Verrel hanya membelai surai wanita itu.


Ada apa ini? Kata-kata Amelia tak mampu membuat hatiku tersanjung lagi, apakah ini karena adanya gadis itu? Tidak mungkin.


Verrel pun hanya mengangguk. Lalu pergi meninggalkan Amelia seorang diri. Verrel mulai berjalan cepat untuk mengejar jejak Viana yang menghilang dibalik pintu toilet.


Pria tampan itu memilih menunggunya di depan pintu sekalian berjaga terhadap kemungkinan hal yang bisa saja terjadi semisal Viana terkunci di toilet atau ada oknum mesum yang berani menggoda gadisnya.


Cck! Tiba-tiba saja Verrel mengeklaim bahwa Viana adalah gadisnya. Padahal mereka pacaran saja tidak. Ia dan Viana hanya terhubung karena sebuah ikatan kontrak pernikahan semata.


Verrel menunggu sekitar hampir sepuluh menit lamanya, tak lama pintu toilet pun terbuka menampilkan Viana yang terkejut dan bersiap untuk berteriak.


Namun tangan Verrel buru-buru terulur dan reflek membungkam bibir mungil Viana dengan telapak tangannya. Dan membawa pergi gadis itu ke ruangan yang agak sepi jauh ke dalam.

__ADS_1


Terkejut karena tiba-tiba sebuah telapak tangan kekar tengah membungkam mulutnya, membuat Viana membulatkan kedua mata almondnya sempurna setelah tahu siapa si pelakunya.


“Eng...ng....ng!” hanya itu yang terucap dari bibir mungil gadis itu yang masih terbungkam.


“Aku akan membuka mulutmu tapi jangan berteriak ya?” Viana pun mengangguk samar. Dalam hati gadis itu bertanya-tanya kenapa ia bisa bertemu dengan Verrel suami kontraknya?


Akh! Tentu saja ini kan tempat umum. Viana hampir berfikir bahwa Verrel telah mengikutinya. Mungkin sebuah kebetulan saja mereka bisa bertemu di tempat yang sama. Atau mungkin sebagian dari permainan takdir?


Setengah Verrel melepaskan bungkamannya, nampak Viana terengah-engah.


“Gila lo! Gue bisa mati Verrel!”


Mendengar ucapan Viana membuat Verrel seketika memelototkan matanya kearah gadis itu. Viana yang menyadarinya langsung merubah aksen bicara yang barusan ia gunakan.


“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu ada di sini bersama tua bangka itu? Jangan bilang kamu menjual tubuhmu kepada tua bangka itu Viana! Apa uang yang ku berikan tidak cukup?” seru Verrel yang di selimuti api amarah melihat Viana berkencan dengan seorang pria yang sudah berumur.


Namun ternyata Viana tidak kalah marahnya dari pria itu. Bagaimana bisa Verrel beransumsi bahwa ia tengah menjual tubuhnya kepada pria yang menawarinya pekerjaan? Viana pun geram seketika.


“Oh..jadi kamu fikir aku sedang menjual tubuhku? Baiklah, ku akui aku memang sedang menjual tubuhku kenapa? Aku hanya ingin merasakan memperoleh penghasilan dari hasil keringatku sendiri. Apa kamu puas!”


Viana merasa kecewa akan tuduhan yang Verrel layangkan kepadanya tanpa bertanya terlebih dahulu tentang siapa sebenarnya pria berumur yang tengah bersama.


Namanya Maher Punjabi selaku produser sebuah rumah model ternama tanah air, yang baru saja menawari Viana untuk menjadi model di butik sang istri. Setelah kemarin sempat melihat penampilan Viana di atas catwalk.

__ADS_1


Bahkan pria tampan yang sudah berumur itu pula berniat menjodohkannya dengan putranya yang belum pernah ia temui sama sekali dengan imbalan uang dan kemewahan jika ia bersedia menikah bersama putranya itu.


Namun Viana merasa tersinggung akan ucapan pria paruh baya itu, lalu ia memutuskan ke toilet untuk menetralisir amarahnya. Dan tanpa di duga tiba-tiba Verrel ada di depan pintu toilet dan menuduhnya yang bukan-bukan. Viana merasa seakan direndahkan 2 kali namun dengan orang yang berbeda.


“Apa?! Kenapa kamu lakukan hal serendah itu Vi?! Uang yang sudah ku berikan bahkan mampu menghidupimu selama 5 tahun ke depan, Masih kurang ha??” tunding Verrel yang semakin memperburuk suasana hati Viana.


“Sudahlah! Orang kaya sepertimu nggak bakal ngerti! Lebih baik aku pergi!”


Air mata Viana seketika luruh, dunianya seakan runtuh bersama tundingan-tundingan tanpa bukti yang menjurus ke arahnya. Kenapa orang kaya selalu menghargai sesuatu itu hanya dengan uang..uang dan uang?


Belum penghinaan yang Maher lakukan kini di tambah tundingan tak mendasar dari Verrel membuat harga diri Viana seolah jatuh dan terhempas ke dasar jurang. Apakah ia terlihat sehina itu? Hingga apa yang ingin ia kerjakan selalu di nilai rendah oleh mereka yang mempunyai uang dan jabatan?


“Hei...jangan pergi kamu masih hutang penjelasan padaku!”


Viana tetap melangkah kan kaki jenjangnya tanpa menghiraukan baik ucapan atau pun perkataan Verrel. Dan membuat pria itu semakin geram karena di abaikan.


Tanpa permisi Verrel mencengkal pergelangan tangan Viana lalu menarik tubuh gadis itu hingga membentur tubuhnya. Entah apa yang tengah merasuki pria tampan berumur 36 tahun itu.


Tanpa sadar wajah kedua pasangan palsu itu sudah dekat dan tentu saja kalian tahu yang selanjutnya.


Cup !


Sabar ya reders sayang, authornya lg mabok kue lebaran nih.🤭 Tetap tinggalkan jejak, dan sertakan dukungannya ya.. 😘😘

__ADS_1


__ADS_2