Jambret Cantik

Jambret Cantik
Getaran Tak Biasa


__ADS_3

“Sudah jangan bersedih, mereka akan baik-baik saja di sana,” ucap Verrel sambil memeluk tubuh gadis itu.


Sedangkan Viana hanya bisa mematung. Hatinya berdebar tak karuan. Selama ini gadis itu jarang merasakan pelukan dari orang tuanya, bahkan ayah angkatnya sekali pun.


Namun kini pelukan dari Verrel begitu menghangatkan tubuhnya yang telah lama sunyi. Memberikan getaran yang tidak pernah gadis itu rasakan sebelumnya.


Ada apa dengan hatiku? Kenapa rasanya terus bergetar dan terasa sakit? Apakah di peluk rasanya seperti ini?


Viana tak mampu menahan gejolak hatinya. Gadis itu merasa aneh saat Verrel memeluknya barusan. Lalu Viana pun memilih melepaskan pelukan Verrel dari tubuhnya.


“Aku, baik-baik saja pak. Pak Verrel tidak perlu khawatir.” Ucap Viana sambil menyeka buliran air asin yang masih lancang merembes dari celah kedua sudut matanya.


Keheningan pun tercipta kembali. Lalu tak ingin membuang waktu Verrel pun melajukan kemudinya menuju ke sebuah tempat.


Kini Viana sudah tidak menangis lagi. Gadis itu hanya termenung sambil menatap keluar jendela mobil. Namun matanya tak mampu membohongi sekitar. Gadis itu menyimpan kesedihan yang mendalan di hatinya.


Mobil yang Verrel kemudikan membelok ke arah sebuah residen kawasan perumahan elit.


“Kita mau kemana pak? Ini kan bukan jalan ke mansion tante Venna,” protes Viana saat menyadari jalan yang Verrel ambil bukan lah jalan yang mereka lalui saat berangkat.


“Malam ini kita tidur di apartemenku saja, tadi aku sudah membicarakan dengan mama. Dan mama pun mengijinkan kita.”


“Bukan begitu maksudnya pak,” sanggah Viana yang sebenarnya mulai merasa khawatir.


Tentu saja Mama Venna mengijinkan pasangan itu untuk menikmati waktu berdua, karena berharap segera menerima kabar kehamilan dari Viana.


“Maksudmu? Yang jelas ngomongnya jangan terbelit-belit seperti itu!”


Verrel pun memasang nada ketus kembalu kearah Viana membuat gadis itu merasa tak enak hati untuk menjelaskannya lebih lanjut.


Tanpa terasa mobil Verrel sudah terparkir di basemant apartemennya. Verrel pun melepas seat belt dan hendak beranjak keluar. Namun melihat Viana hanya berdiam diri tanpa ada gerakan membuat Verrel menghentikan gerakannya.


“Ada apa? Kenapa diam saja? Cepat keluar! tugasmu masih banyak yang harus di kerjakan di dalam sana!”


“Viana takut pak!”


“Takut? Astaga, kamu tenang saja aku tidak akan nafsu melihat tubuhmu yang kerempeng seperti papan triplek itu. Cepat keluar!” sentak Verrel lagi.


Viana pun mengerucutkan bibirnya sambil menggerutu tak jelas. Rasa sedihnya seketika lenyap berganti rasa dongkol kearah pria yang seenak jidat memerintahnya.


Sampainya di dalam Viana hanya melongo di tempat menyaksikan isi apartemen Verrel yang nampak berantakan.

__ADS_1


Astaga! Orang tampan tak menjamin ia selalu menjaga kebersihan. Buktinya saja orang ini!


“Kenapa diam saja? Cepat bersihkan! Dan jangan lupa buatkan makanan untukku. Aku ingin tidur sebentar,” ucap Verrel sambil menguap.


Tanpa menyahuti Viana pun mulai memunguti sampah di apartemen Verrel satu persatu. Sambil mencebikkan bibir bawahnya. Sebelum Verrel menutup pintu kamarnya, pria tampan itu mengucapkan sesuatu yang begitu menohok.


“Ingat ya, kamu meminjam uangku dua ratus juta. Jadi kerjamu harus maksimal. Status istri hanya di depan Mama Venna saja. Selebihnya kamu itu, cuma aku anggap asisten pribadiku saja. Not more.”


“Iya..iya saya mengerti pak.”


*


*


Viana pun menghela nafasnya kasar menatap kearah pintu kamar Verrel yang tertutup. Sambil memunguti sampah dan baju-baju kotor yang berserakan.


Sampah pun sudah terkumpul, kini Viana hendak mencuci baju-baju kotor milik Verrel ke dalam mesin cuci. Dengan agak ragu-ragu Viana mengisi mesin cuci itu dengan air sampai penuh dengan selang air. Lalu mengisi detergen yang sudah tersedia dan selanjutnya memasukkan baju-baju kotor milik Verrel ke dalam mesin itu.


Namun gerakan Viana terhenti karena sesuatu.


“Duh, ini gimana sih makenya? Ini Wash ...ini time, ini Drain apaan sih artinya. Aku nggak ngerti!” gerutu Viana yang tidak terlalu paham bahasa inggis.


“Ahh...ini time ini kali ya di puter dulu, cobain dulu ah.”


“Yeeahh, Viana gitu loh di lawan..hehe.”


Viana pun meninggalkan mesin cuci yang menyala itu, lalu memilih keluar apartemen Verrel untuk membuang sampah yang sudah ia kumpulkan.


Sambil menyalakan musik dangdut yang berasal dari ponsel jadulnya. Viana bergoyang dengan riang, sambil sesekali menirukan lirik pada musik yang gadis itu setel.


Mamamamama mau makan mau minum bikin sendiri 🎶


🎶Cuci baju celana nyetrika pun sendiri


Apalagi bila tanggal tua mendekati🎶


🎶Aku bagai perawan yang tak punya suami


“Tariikk sisss...yiihaaaa,” teriak Viana sambil menggoyang-goyangkan sedikit pinggulnya yang ramping.


🎶Alala tum jahe jahe aca aca nehi nehi

__ADS_1


Aduh biyung inyong ora sudi🎶


🎶Bila dirimu terus begitu


Aku pulangkan kamu🎶


“Haduhh..si neng teh asyik bener dangdutannya, by the way penghuni baru ya?” tanya seorang pemuda yang memakai seragam satpam lengkap beserta atributnya.


“Eh...mas satpam, iya nih saya penghuni baru. Barusan aja nyampek,” jawab Viana sambil tersenyum.


“ Jangan panggil mas panggilnya Aa atuh. Heheh..Boleh tahu namanya siapa neng?” bisik si pemuda bernama Rojali sambil terkikik sendiri karena baru dapat kenalan seorang pekerja apartemen baru yang cantik dan ramah.


Biasanya para pekerja muda apartemen mewah daerah situ suka jutek dan judes jika di tanya. Namun berbeda dengan Viana.


Sang satpam bernama Rojali pun menjilat sedikit ujung jempolnya lalu mengelapkannya ke ujung rambut dengan gerakan seperti tengah memakai gel, sambil memasang gaya macho.


“Kenalin nama aa Rojali. Kalau neng siapa?”


Viana hanya meringis melihat tingkah konyol satpam apartemen Verrel itu.


“Viana, Aa Rojali.”


Rojali pun tersipu malu sambil menggigit tongkat pukulnya menahan gemas kearah Viana.


“Tuh kan kayaknya kita cocok deh, neng sama Aa..cie ileh...auww...!” goda Rojali lagi.


Viana hanya ikut tertawa sambil meringis tertahan mendengar godaan dari pemuda bernama Rojali itu. Di saat Viana dan satpam Rojali tengah bersenda gurau.


Terdengar sebuah teriakan dari dalam apartemen Verrel.


“Viiaaanaaaa!!!”


Glek!


“Wah ada yang manggil nama neng tuh, kayaknya majikan neng Viana ya?” tanya Rojali masih dengan senyum pepsodennya.


“Eh...iya a, tapi suara itu bukan majikan saya tapi suami saya. Permisi.”


Mendengar itu Rojali hanya bisa mematung di tempat sampai Viana sudah masuk ke dalam apartemen.


“Hah, suami? Berarti tadi istrinya pak Verrel dong? Mati aku!”

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2