Jambret Cantik

Jambret Cantik
Bukan Malam Impian


__ADS_3

Warning 21± !!


Belum sempat Viana berganti pakaian, tiba-tiba seseorang memeluknya erat dari belakang.


Grep!


“Akh! Ve...Verrel!” Pekik Viana terkejut setelah tahu siapa yang telah memeluknya dari belakang.


“Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan!”


“Meli! Badanku kepanasan tolong aku!” Verrel memeluk Viana yang kini ia sudah bertelanjangkan dada.


Viana mampu merasakan sapuan lembut dari bulu-bulu halus yang tumbuh pada area dada bidang Verrel. Area yang tidak pernah Viana jamah sekali pun. Dan itu berhasil membuat bulu kuduk gadis itu meremang.


“Aku bukan Meli, a..akku Viana Verrel sadarlah!” Viana berusaha menyadarkan Verrel yang tanpa gadis itu tahu dalam pengaruh obat perangsang.


Bukannya sadar Verrel malah mengeratkan pelukannya, memberi sentuhan-sentuhan pada bahu Viana yang terbuka sehingga menggelitik naluri kewanitaan gadis itu yang pada dasarnya belum pernah tersentuh oleh laki-laki mana pun.


Lalu suatu bisikan mampu membuat pandangan Viana pias. Meski dia belum berpengalaman, namun ia cukup dewasa untuk menangkap maksud yang di ucapkan oleh Verrel.


“Aku menginginkanmu!”

__ADS_1


Verrel pun langsung membalikkan tubuh mungil Viana hingga kini mereka saling berhadapan. Saat Viana hendak berteriak, Verrel langsung membungkamnya dengan sebuah ciuman. Seolah sudah berselimutkan gairah, Verrel tidak memberi kesempatan Viana untuk menarik nafas.


Ciuman yang tadinya biasanya saja kini semakin dalam. Verrel semakin jauh mengekplor dalam diri Viana memberi kecupan beserta *******-******* yang membuat Viana terhanyut.


Viana yang tak mampu menolak hanya bisa menangis, air matanya jatuh semakin deras saat Verrel melucuti gaunnya hingga robek. Namun masih dalam keadaan membungkam mulutnya dengan kedua mata terpejam seolah tengah menikmati aksinya.


Entah bagaimana jadinya, kini keduanya sama-sama terhanyut dalam sebuah permainan. Permainan yang seharusnya sedari dulu mereka mainkan sebagai pasangan suami istri. Namun karena perjanjian pra nikah yang mereka buat, membuat hubungan keduanya hanya jadi hitam di atas kertas. Meski sebenarnya hubungan keduanya sah secara hukum, agama, bangsa dan negara.


Air mata Viana terus mengalir setiap Verrel melakukan hentak demi hentakan yang menyakitkan bagi dirinya yang baru pertama melakukan. Bahkan Viana tak berani menatap Verrel yang gencar menyerangnya tanpa ampun.


Mata Viana terus terpejam, namun air mata terus merembes tanpa henti dari sela-sela sudut matanya. Hingga saat Viana tidak kuasa dengan apa yang ia terima, gadis itu pingsan dalam keadaan masih bermain bersama Verrel.


Seolah tidak puas hanya melakukan sekali atau pun dua kali, Verrel terus menggagahi tubuh Viana yang sudah diam tanpa henti hingga akhirnya pria matang itu mendapatkan pelepasannya. Dan terjatuh ke dalam pelukan gadis yanh sudah lebih dulu tak sadarkan diri. Tak lama pria itu melepaskan diri dan tertidur dengan nyaman di samping tubuh Viana yang polos tanpa sehelai benang.


*


*


Dan kedua bola matanya melotot seolah ingin keluar dari tempat, saat mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benang. Jantungnya semakin berdetak kencang saat mendengar dengkuran halus yang di sebelah tubuhnya.


“Ja..Jadi, yang semalam kemarin itu bukan mimpi? Aku..aku sudah melakukannya?” Pandangan Viana mengabur seketika, jari jemarinya meremat kuat selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya yang polos.

__ADS_1


Viana merasa sangat sakit. Malam yang ia lakukan bersama Verrel bukanlah malam impiannya. Dimana ia seharusnya menyerahkan kehormatan kepada orang yang ia cintai bukanlah kepada pria yang sudah memiliki kekasih. Sedangkan Verrel, Viana masih mengingat dengan benar bahwa Verrel mengira ia adalah kekasihnya Amelia.


Viana pun menghapus air matanya dengan gusar, ia memandang sesaat hasil perbuatan Verrel semalam. Gaun yang ia beli dengan harga mahal pun harus terkonyak kan. Ia hanya memunguti beberapa barang pribadi miliknya. Memakai setelan pakaian yang ia bawa, menutupi wajah sembabnya menggunakan topi dan masker.


Sepanjang jalan menuju keluar hotel Viana terus menangis. Matanya memerah tak mampu menahan sesaknya hati yang ia rasakan. Wanita mana yang kuasa bertahan karena telah kehilangan kehormatannya? Viana juga tidak yakin, akankah ada hati yang bisa menerima kekurangannya yang sudah terenggut itu?


*


*


Mentari semakin naik ke permukaan. Sinarnya menembus celah-celah gorden yang tidak tertutup sempurna. Nampak seorang pria menggeliatkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan namun ia kembali terlelap. Tidurnya terasa nyenyak semalam, hingga tubuhnya enggan untuk beranjak bangun.


Namun suara-suara bising dari luar sangat menganggu indera pendengarannya. Membuat pria tampan itu harus menarik kembali kesadaran yang sempat ia acuhkan.


“Hoaammz! Siapa sih pagi-pagi ganggu istirahat orang saja!” gerutu Verrel dengan mata masih terpejam. Tangannya meraba-raba sesuatu yang biasa ia taruh di atas nakas, namun tak kunjung ia temukan.


“Tuan Verrel! Tuan Verrel!” teriak suara dari luar kamar.


“Iya ya...sebentar! Ini pasti Dany pagi-pagi sudah berisik!” seru Verrel sambil mengucek-ngucek kedua kelopak mata untuk memfokuskan penglihatannya.


Dengan gerakan malas-malasan, akhirnya Verrel bangun dari ranjang dan berjalan lamban menuju daun pintu. Saat pintu terbuka, suara teriakan wanita berhasil menarik sisa-sisa kesadaran Verrel yang belum sepenuhnya terdiri.

__ADS_1


“Astaga! Tuan Verrel!”


Bersambung...


__ADS_2