
“Apa? Jogja?”
“Iya nona, memangnya kenapa?” tanya balik Dany.
“Wanita bernama Amelia itu juga ikut?"
“Tentu saja, karena nona Amelia termasuk bagian dari relasi bisnis tuan Verrel. Sudah pasti beliau harus ikut,” jawab Dany dengan mantap.
Tanpa Dany sadari jawaban dari bibirnya membuat hati Viana kalang kabut. Viana sendiri juga bingung harus menjelaskan bagaimana ke Dany tentang rencana jahat Amelia. Namun ia tidak mempunyai bukti konkrit yang kuat untuk menuduh Amelia. Akhirinya sebuah ide brilian muncul di otaknya begitu saja.
“Dany, bisakah kamu membantuku? Maksudku tolong pesankan tiket juga untukku ke Jogja. Aku akan memberimu tips lebih, tapi jangan bilang-bilang pak Verrel. Bagaimana?” tawar Viana.
Dany pun menautkan ke dua alis tebalnya.
“Lalu dengan tawaran kontrak jadi model kemarin bagaimana nona? Apa nona menolaknya?”
“Tidak, aku tidak ingin terjerat dengan kontrak mana pun yang akhirnya menjerat kebebasanku. Kontrak kerjaku dengan pak Verrel saja sudah cukup, aku kapok! Masa aku akan jadi model terkenal asal mau menikah dengan putranya yang impoten? Kau tau sendiri, kontrakku dengan pak Verrel masih panjang.”
“Jadi bagaimana? Mau ya, Mau dong ayolah mas Dany? Mau ya..ya...” pinta Viana setengah memohon.
Mendengar nama panggilan ‘mas’ dari bibir Viana membuat hati Dany menghangat seperti ada ribuan kupu-kupu menggelitiki diafragmanya.
“Baiklah, tapi.....”
“Yes! Terima kasih mas Dany!”
Belum sempat Dany meneruskan ucapannya, sudah terpotong karena tiba-tiba Viana memeluknya sambil mengucapkan terima kasih. Membuat Dany terpaku sesaat ketika Viana memeluknya.
Tanpa Viana sadari, tindakannya sungguh mengancam jiwa dan raga Dany yang masih gersang dan butuh pelukan hangat seperti yang ia lakukan barusan. Sayangnya Viana hanya memeluknya sesaat, sedikit membuat Dany merasa kecewa saat gadis itu melerai pelukannya.
*
__ADS_1
*
Tak lama Verrel dan Amelia pun turun dari apartemen sambil membawa dua buah koper berisi perlengkapan kebutuhan keduanya selama perjalanan bisnis saat nanti di Jogja.
Verrel pun melihat pemandangan yang membuatnya tak suka saat Viana tengah bersenda gurau bersama Dany sang asisten.
Sejak kapan mereka bisa jadi akrab seperti itu? Bikin mood buruk saja!
Batin Verrel menggerutu kesal. Karena tidak di hiraukan baik Viana mau pun Dany membuat Verrel kesal lalu meneriaki Dany.
“Dany! Cepat angkut koper-koper ini. Waktu kita sudah tidak banyak lagi!” titah Verrel dengan tegas sampai Dany pun terperajat di tempat.
“Tuan Verrel, maaf! Baiklah kita berangkat sekarang!”
“Saya pergi dulu nona Viana!” pamit Dany kepada Viana lalu di balas anggukan oleh gadis itu.
Viana pun memasang wajah juteknya kearah Verrel lalu melenggang pergi melewati pria itu untuk masuk ke apartemen. Sedangkan Verrel, tangannya hendak melambai untuk menggapai tangan Viana namun di hentikan oleh Amelia.
“Tapi....”
“Sudahlah tunggu apa lagi, ayo buruan!” Amelia pun menarik lengan Verrel dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Amelia sengaja tidak memberi ruang antara Verrel dan Viana untuk bertegur sapa. Biarkan Viana dengan ke salah pahamannya karena ia yakin gadis itu tengah merajuk. Amelia tak ingin Verrel jadi berempati kepada gadis yang menjadi saingannya untuk mendapatkan hati Verrel kembali.
Amelia akui, Viana itu gadis yang cantik. Cepat atau lambat lama-lama hati Verrel pasti akan luluh akan perhatian dan pesona Viana. Dan Amelia tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi.
Setelah Verrel dan Amelia masuk ke dalam mobil beserta Dany sang asisten, kendaraan roda empat itu segera melaju cepat ke tempat yang akan mereka tuju selanjutnya.
Selepas kepergian mobil Verrel, Viana menggerutu dengan kesal.
“Dasar bujang lapuk dan janda jamuran. Kalian tega nggak ngajak-ngajak aku piknik! Padahal aku kan belum pernah ke Jogja!”
__ADS_1
Viana pun hanya memandang kepergian Verrel dengan sedih, dalam hati berdoa semoga saja Dany bisa menepati janjinya. Entah Viana sendiri tidak yakin, kenapa pula ia harus ikut campur masalah Verrel.
Toh apa pun yang mereka lakukan tak merubah apa pun. Justru akan membebaskannya dari kontrak pernikahannya bersama Verrel. Jika akhirnya Verrel bersama Amelia.
Namun dalam hati Viana nampak risau tengah mengkhawatirkan sesuatu. Gadis itu seakan mampu mencium gelagat buruk yang akan Amelia lakukan.Terlebih sebelum mobil melaju pergi, Amelia masih sempat melempar senyuman sinis ke arahnya. Apakah ini artinya Viana mulai peduli kepada Verrel dan memiliki perasaan ke pria bujang lapuk itu?
Viana pun menggeleng pelan. Ini semata-mata untuk membalas perlakuan Mama Venna selaku mertuanya yang selalu bersikap baik kepadanya. Viana merasakan perhatian dan kasih sayang orang tua yang ia peroleh dari Mama Venna. Meski setiap hari wanita paruh baya itu mengharuskannya untuk meminum susu penyubur kandungan.
Saat Viana hendak masuk ke dalam lift apartemen, tiba-tiba Rojali menghentikannya.
“Nyonya Viana!” teriak Rojali seorang satpam penjaga apartemen Verrel.
Viana pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah suara yang memanggilnya.
“Eh..Aa Rojali, Ada perlu apa ke sini a?”
Mendengar panggilan ‘Aa’ dari Viana membuat Rojali merasa malu sendiri. Pasalnya Rojali mengira Viana dulu adalah asisten rumah tangga baru. Karena penampilan gadis itu yang sederhana dan simple.
“Panggil Rojali saja Nyonya, isin saya mah cuma pekerja Nyonya pan majikan. Nanti pak Verrel bisa marah lagi.”
“Ya sudah, ada apa Rojali?”
“Tadi ada yang nitipin ini Nyonya, minta di kasihin ke Nyonya Viana.”
“Oh..iya, terima kasih ya Jali.”
“Sama-sama Nyonya, saya permisi.”
Viana pun menerima sebuah amplop putih panjang. Lalu di bukanya isi amplop itu, sedetik kemudian Viana berteriak kegirangan.
“Asyiikkk!! Goes to Jogja!”
__ADS_1
Bersambung..