Jambret Cantik

Jambret Cantik
Ketemu Lagi


__ADS_3

“Kenapa tuan Verrel aneh sekali? Tiba-tiba saja pengen sup kepiting panas. Padahalkan tuan Verrel alergi sama makanan asin itu?Ahh..sudahlah, lebih baik aku menurut saja daripada gajiku bulan ini di potong. Dan lagi dimana aku harus mencari tukang nasi goreng siang-siang begini? Ya Tuhan.”


Dany terus menggerutu sepanjang jalan. Menjadi seorang asisten adalah nasib yang ia pilih. Meski pun ada rahasia besar yang tak seorang pun tahu, termasuk Verrel sebagai atasannya.


Rahasia yang Dany tutup rapat-rapat tentang jati dirinya. Namun bukan saatnya untuk menguak siapa Dany sebenarnya.


Dany terus menelusuri jalan raya yang penuh dengan kendaraan. Dany melupakan sesuatu, ternyata hari itu bertepatan akhir pekan. Tentu saja banyak kendaraan yang memilih pulang lebih awal. Oleh karena itu jalanan begitu padat dan terjadi macet.


“Sial! Kenapa harus macet sih!”


Dany nampak pusing dan kelelahan. Sudah di pusingkan majikan besarnya nyonya Venna yang ingin jajanan pasar yang rasanya itu saja, Kini giliran atasannya Verrel bertingkah aneh.


Beruntung macetnya tidak berlangsung lama dan cepat terurai. Dany segera menepikan kendaraan roda empatnya begitu pemuda itu lihat ada restoren seafood terkenal di daerah situ. Lalu masuk ke dalam dan memesan makanan.


“Mas, pesan sup kepiting yang panas dan asapnya nggak gampang hilang lalu di bungkus. Cepat! Bos saya sedang menunggu!”


Sang pramusaji hanya melongo di tempat. Mana ada makanan yang tahan panas plus mengepulkan asapnya jika di biarkan lama? Kalau ingin makan panas-panas harusnya di makan di tempat.


“Siap mas, akan kami buatkan pesanannya. Silahkan menunggu.”


Dany pun menggangguk, lalu di mendudukan bokong miliknya ke atas kursi pengunjung. Sesekali melihat arloji pada pergelangan tangannya sambil memainkan benda persegi yang pemuda itu genggam.

__ADS_1


****Di tempat lain****.


Amelia nampak kesal setengah mati. Seluruh tubuhnya basah kuyup dan lagi bau cairan kuning milik Verrel melekat terus pada tubuhnya. Amelia harus membersihkan diri untuk menghilangkan bau menjijikan itu.


Saat hendak memasuki apartemennya, nampak seorang pemuda menatap tajam ke arahnya.


“Bagaimana? Apa kau sudah berhasil membuat Verrel bertekuk lutut padamu?” tanya pemuda itu dengan tenang namun nada suaranya begitu menekan.


“Rexy...dengarkan mama nak...”


“Sudah ku bilang! Aku tidak sudi memanggil mama sama jal*ng sepertimu! Aku tahu, kau menikahi papaku karena harta! Jika kau tak bisa menuruti apa inginku, jangan harap kau pergi membawa sepersen pun harta dari kami Amelia! Sekarang bersiaplah! Kita ke mansion utama. Papaku sedang sakit, ia mencarimu!” titah Rexy dengan tegas.


Lalu berlalu mendahului Amelia. Amelia pun menatap geram ke arah pemuda itu. Ternyata menikah dengan pria tua itu adalah kesalahan besar. Ia fikir setelah menikah, bisa mengambil seluruh harta pria tua itu lalu pergi meninggalkannya begitu saja.


Ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Di balik pria tua yang lemah itu, ada putranya yang begitu galak dan suka memaksa. Setelah tahu niat jahat Amelia, pemuda itu memaksa Amelia untuk melayani nafsunya.


Meski perlakuannya kasar, namun Amelia justru menyukainya. Hitung-hitung bersama Rexy, Amelia bisa menuntaskan hasratnya yang tak pernah terpenuhi untuk tidur bersama Verrel.


Amelia pun segera membersihkan diri. Dan bersiap menuju ke mansion suaminya. Sebenarnya Amelia belum bercerai suaminya yang pesakitan itu. Mau bagaimana lagi, Amelia tidak ingin pergi dengan tangan hampa atau semua usahanya selama ini akan sia-sia.


Di tempat lain.

__ADS_1


Aisyah menatap khawatir kakaknya Viana yang setiap hari hanya makan sedikit. Apalagi makanan yang Viana makan sangat tidak memenuhi gizi untuk ibu hamil.


Akhirnya Aisyah tahu kebenaran bahwa Viana tengah mengandung. Saat tanpa sengaja, gadis itu mengikuti Viana pergi ke seorang bidan dekat rumahnya.


“Kak Via, kenapa menyiksa dirimu seperti ini?"


Aisyah pun merogoh sesuatu dalam saku baju seragamnya dan mendapati beberapa lembar uang yang sengaja ia kumpulkan dari uang saku yang di beri oleh ibu panti.


Aisyah berinisiatip untuk membelikan sesuatu untuk Viana, lalu gadis itu menjumpai sebuah kedai nasi goreng yang kelihatannya ramai pembeli. Akhirnya Aisyah pun mengantri di sana dan tak lama seorang pria menyerobot antriannya.


“Pak nasi goreng panas satu ya, di bungkus tidak pakai lama,” ucap pria berkacamata hitam itu dengan tegas.


“Baik mas, tolong mengantri sebentar ya,” sahut si penjual nasgor.


“Saya akan bayar dua kali lipat sama bapak untuk nasi gorengnya.”


Mendengar ucapan sombong pria itu, membuat bibir Aisyah merasa gatal dan ingin menimpalinya.


“Hei, Om berkacamata! Bisa bacakan, tuh di sana tertulis di harapkan mengantri! Tuh baca!” timpal Aisyah dengan berani.


Dany pun memincingkan matanya, lalu membuka kacamatanya perlahan untuk melihat siapa gadis berseragam sekolah yang berani menegurnya. Tak lama, Dany pun juga terkejut.

__ADS_1


“Kamu!”


Bersambung...


__ADS_2