
“Kak Viana!”
Viana pun terperajat saat sebuah suara yang sangat ia kenal tiba-tiba ada di sana dan memanggil namanya. Viana masih tercenung di tempat, hingga suara itu mengulangi ucapan kenya lagi.
“Kak Viana.”
“Apakah ini mimpi? Ba- bagaimana bisa kamu ada di sini Wil-ly?” tanya Viana terbata.
Seorang anak mendekat ke arah Viana, lalu memeluk wanita itu erat seraya menangis.
“Willy, kangen kak Via.”
“Sama kak Via juga kangen Willy.”
Willy adalah salah satu adik asuh yang paling Viana sayangi. Mengingat terakhir kalinya Willy menderita sakit hingga harus di rawat di rumah sakit. Dan Viana harus berhutang budi kepada Verrel. Tapi beberapa hari kemudian, Viana di kejutkan akan pengadopsian Willy oleh sebuah keluarga.
“Dany, tolong jelaskan semua ini. Bagaimana bisa Willy ada padamu? Apakah orang yang mengadopsi Willy selama ini itu kamu?” tanya Viana tercekat.
__ADS_1
Dany pun tersenyum seraya mengangguk membenarkan apa yang Viana katakan. Dan tak ingin membuat wanita di hadapannya banyak bertanya, akhirnya Dany pun mulai menjelaskannya.
“Pertama kali melihat Willy, aku merasa seperti melihat almarhum adikku Deas. Deas meninggal dunia karena mengidap penyakit gagal ginjal sama seperti yang di idap oleh Willy sekarang. Kala itu, Deas terlambat penanganan dokter. Ibu dan ayahku sampai frustasi lalu sampai mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari pengobatan Deas di Amrik. Seluruh keluargaku sangat terpukul akan kepergian Deas kala itu. Dan lagi, ayah ibuku pun turut menyusul kepergian Deas selamanya.”
“Namun, beberapa bulan kemudian aku bertemu anak yang bermain sendirian waktu itu. Aku fikir anak itu jelmaan adikku, ternyata anak itu bernama Willy. Sulit di percaya, rupa Willy hampir mirip dengan Deas adikku. Deas memang menuruni gen bule dari ibuku Sedangkan aku dari ayahku. Setelah ku tahu Willy baru saja menjalani operasi pencangkokan ginjal, kakekku mengadopsi Willy lalu membawanya ke rumah sakit ternama di Singapore untuk pengobatan lebih lanjut. Karena setelah operasi butuh penanganan medis lebih intens agar fungsi ginjal kembali normal. Maaf, aku tidak memberi tahumu lebih awal. Karena ini adalah rahasiaku Via, baik tuan Verrel atau pun siapa pun tidak ada yang tahu detail mengenai keluargaku,” tutur Dany panjang lebar membuat Viana terperangah mendengarnya.
Viana pun menatap kearah Willy, yang sekarang keadaannya jauh lebih baik. Bahkan tubuh anak bule itu semakin gembul pertanda keadaannya saat ini jauh lebih baik. Willy memang pantas mendapatkan kebahagiaannya saat ini, mengingat masa lalu anak itu sungguh memprihatinkan.
“Jadi kamu beneran anak si raja emas itu?Eh..maksudku anak dari pak Rajasa?” tanya Viana lagi menyakinkan.
“Iya, itu benar.”
“Sebenarnya, aku hanya ingin menjalani kehidupan yang biasa. Tanpa orang lain menganggapku bos mereka. Untuk usaha keluargaku, saat ini kakekku lah yang mengurusnya,” jelas Dany lagi.
Viana pun nampak manggut-manggut mendengar penjelasan Dany yang begitu panjang dan sangat sulit di pahami otak Viana yang speknya tidak begitu luas. Maklum Viana hanya berpendidikan SMP namun tidak sampai tamat.
“Jujur, sebenarnya aku tak paham apa yang kau bicarakan Dan. Orang lain berlomba-lomba ingin menjadi orang kaya. Bahkan banyak manusia jaman sekarang yang berpura-pura kaya agar di pandang terhormat oleh orang lain. Tapi kamu malah ingin jadi orang biasa. Sungguh membingungkan.”
__ADS_1
Dany pun menepuk dahinya pelan. Orang seperti Viana tentu saja tidak akan memahami bagaimana kehidupan orang kaya yang monoton dan penuh aturan. Dany hanya ingin menjalani kehidupan tanpa harus di batasi mau pun di sorot oleh siapa pun. Oleh karena itu, selama ini Dany memilih sembunyi dari publik serta media.
“Sudahlah, lebih baik kita semua makan. Sepertinya kamu juga lapar Vi, apalagi bayimu butuh makan juga kan darimu?”
Viana terkesiap mendengar ajakan makan dari Dany. Ya, sungguh Viana tak mengira seorang Dany begitu perhatian. Pantas saja, Verrel memilih Dany menjadi asistennya. Karena Dany sebagai asisten sangat teliti dan penuh perhatian.
Kini baik Viana, Dany serta Willy sudah duduk di kursi makan yang sudah di siapkan oleh maid. Berbagai hidangan sudah tersaji penuh di atas meja makan di hadapan mereka. Viana pun menelan salivanya berulang kali, karena melihat berbagai makanan enak menanti untuk di makannya.
“Dany, makanan sebanyak ini apa hanya kita bertiga yang makan?”
“Tidak, tunggu sebentar. Kakekku akan ikut bergabung bersama kita di meja ini.”
Glek!
Entah perasaan Viana sedikit tidak enak mendengar kata kakek dari Dany. Sepertinya, kakek Dany itu orang yang sangat terhormat. Anaknya saja pemilik banyak perusahaan emas, apalagi bapaknya mungkin memiliki pulau pribadi seperti yang di drama-drama yang sering Viana tonton.
“Nah! Itu dia kakekku!”
__ADS_1
Bersambung...