Jambret Cantik

Jambret Cantik
Kelaparan


__ADS_3

Lebih tepatnya hanya Dany yang lebih dominan merasakannya. Hatinya yang tadinya tandus akan perhatian, kini seraya di siram oleh air dari lembah pegunungan. Terasa sejuk meresap di dalam sanubari pemuda berumur tiga puluh tahunan itu. Dany menjadi salah tingkah sendiri akan perhatian yang Viana berikan.


“Ma..maaf nona, sa..saya bisa sendiri,” lirih Dany tanpa berani menatap manik mata almond milik Viana.


Reflek Viana pun memberikan kapas yang sudah basah oleh alkohol itu kepada Dany.


“Oh, baiklah...gue mau meneruskan makan lagi. Gue tidak munafik, gue sangat lapar asisten Dany,” seru Viana seraya mencomot udang goreng tepung kembali.


Dany hanya bergeming, bahkan kapas basah yang Viana berikan hanya ia genggam tanpa berniat membubuhkan pada lukanya. Karena menurut Dany, lukanya itu tidaklah begitu serius.


Sedetik kemudian, pemuda pendiam itu tersenyum samar. Baru kali ini ia melihat seorang wanita makan tanpa sungkan di hadapan seorang pria. Biasanya para wanita yang berusaha mendekati Verrel akan melakukan hal yang begitu anggun untuk terlihat cantik.


Namun berbeda dengan Viana. Gadis itu makan dengan santai tanpa di embel-embelin dengan akting. Bahkan yang lebih mencengangkan lagi, kaki gadis itu di angkat satu di atas kursi yang ia duduki mirip kuli bangunan yang suka makan di warung pinggiran.


Dany menjadi tersenyum penuh arti.


“Benar-benar gadis yang unik,” desis Dany yang langsung dapat di dengar Viana meski samar-samar .


“Apanya yang unik?” sela Viana sambil menguyah makanan. Bahkan mulutnya kini di penuhi makanan.

__ADS_1


“Oh..tidak, hati-hati makannya nona.”


“Aku habiskan semua ya asisten Dany, kamu kan pintar masak pasti bisa masak lagi. Aku sangat lapar karena belum makan dari kemarin sore,” tutur Viana.


“Saya tahu, oleh karena itu nona Viana pingsan karena kelaparan kan?”


Tuing!


Viana hanya nyengir kuda sambil memamerkan gigi kelinci miliknya karena ucapan Dany sungguh benar adanya. Sungguh tidak elit kedengarannya, pingsan karena kelaparan. Benar-benar konyol.


*


*


“Nona sudah makannya, kalau begitu akan saya antar nona pulang. Tuan Verrel pasti sedang kebingungan mencari anda.”


“Biarkan saja, baginya Amelia lebih penting daripada diriku. Apalah daya gue Dany, gue hanyalah istri di atas kertas yang bisa ia buang kapan saja,” lirih Viana dengan lesu.


“Nona, bagaimana pun anda akan tetap menjadi istri tuan Verrel sampai masa kontrak itu habis.”

__ADS_1


Viana pun menghela nafas beratnya. Rasanya hidup hidup dalam kekangan seseorang itu tidaklah enak. Viana rindu hidup bebas sebagai tukang jambret. Bebas melakukan apa saja, dan pergi dengan siapa saja. Dan melakukan apa yang ingin ia lakukan.


“Apa kamu tahu Dany? sebenarnya gue tak ingin terlibat hubungan seperti ini. Cita-cita gue ingin bertemu orang yang bisa membuat hati gue ini berdebar-debar lalu menikah dengannya karena cinta. Pasti akan menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama, merajut kasih bersama. Ahh...semua itu hanya mimpi! Mana ada pria yang mencintai gadis miskin seperti gue,” keluh Viana.


Sesederhana itu cita-cita seorang Viana. Ia tidak ingin berharap terlalu tinggi akan hidupnya yang sudah di rancang oleh Tuhan sedemikian mungkin.


Pernikahannya dengan Verrel hanya sandiwara. Rasa yang sempat membuatnya berdebar-debar ternyata hanya hinggap sesaat. Viana harus menepisnya jauh-jauh dan membelakangkan perasaan itu.


Dany hanya mendengar ucapan Viana dengan seksama tanpa memberi komentar atau pun bantahan.


“Ya sudah asisten Dany, ayo antar gue pulang. Gue harus kembali bekerja.”


Meski hanya sebagai istri di atas kertas, tetap saja Viana harus mengerjakan kewajibannya dengan baik. Meski akhirnya Amelia lah yang akan mengeklaim semua hasil pekerjaannya.


“Baik, nona saya siapkan mobilnya.”


**Bersambung...


Jangan lupa dukungannya, tinggalkan jejak like, koment dan gift/vote y readers otor..😘😘**

__ADS_1


__ADS_2