
“Hai, sendirian saja?” seru seorang pria yang tiba-tiba duduk di sebelah Viana sambil menggenggam segelas minuman berwarna merah anggur.
Sepertinya pria itu tengah dalam pengaruh alkohol, karena begitu tercium tajam di indera penciumannya. Viana pun sampai sesekali menutup hidung mancungnya karena merasa tidak kuat akan baunya. Jika langsung pergi, ia juga tidak merasa enak.
“Iya.”
“Boleh abang temani? Abang juga sendiri, barang kali kita jodoh,” kelakar pria itu sambil tertawa sesekali meminum alkohol yang ia bawa.
Pria itu sebenarnya tampan, nampak dari kulit dan wajahnya yang bersih. Namun pria itu adalah pria peminum. Viana tidak menyukainya. Apalagi pria itu berani memegang lengannya tanpa permisi dan Viana pun memilih menghindar dengan sopan.
“Maaf mas, saya mau ke toilet! Permisi!”
Viana pun berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria itu. Tiba-tiba ada seorang pria lain yang memegang pundak pria tersebut, dan meminta untuk melepaskannya.
“Maaf bro! bisa lepaskan pegangan tangan anda?!” ucap pria iti dingin.
Viana pun langsung menoleh kearah suara itu dan berucap.
“Verrel!” pekik Viana lirih.
Tentu saja Viana tahu pria itu, nampak dari sorot matanya yang begitu tajam. Lebih tajam dari pada siapa pun.
Sepertinya wanita yang ada di hadapannya sedikit terkejut saat melihatnya. Mungkinkah mereka saling mengenal?
__ADS_1
Verrel mencoba bersikap gentle di hadadapan wanita dan pria mabuk itu. Sebagai pemilik acara, ia tak ingin acaranya di hancurkan oleh-oleh peganggu seperti mereka.
“Cih! Siapa kamu ikut campur saja! Pergi sana!” ujar pria mabuk itu mengusir.
“Dia kekasihku! Apa kau ingin aku panggilkan pihak keamanan agar menyeretmu ke kantor polisi?!” ancam Verrel yang tiba-tiba mengakui Viana sebagai kekasihnya dan membuat gadis itu sedikit terkejut.
“Oh, pacarmu ternyata. Sory aku fikir dia sendiri. Kalau begitu maaf ya mbak, maaf ya mas.”
Pria pemabuk itu akhirnya berlalu. Verrel pun nampak menelepon seseorang untuk membersihkan areanya dari pria pemabuk seperti tadi.
Usut punya usut, ternyata hotel yang Viana tinggali adalah hotel milik keluarga Verrel. Dan pesta topeng yang di adakan memang untuk meresmikan Ceo baru yaitu Verrel. Dan tema yang di usung pun dewasa, Gentle and Glamour wajar saja bila ada minuman alkohol dan sebagainya.
“Maaf ya, aku harus mengakuimu sebagai pacar di hadapan pria tadi,” ujar Verrel memohon maaf.
“Tidak apa-apa, terima kasih sudah memban-tuku,” balas Viana dengan suara yang ia buat berbeda agar tidak cepat ketahuan.
“Tidak masalah, kamu baik-baik saja?”
Viana pun mengangguk sebagai isyarat, ia tidak ingin banyak bicara takut Verrel memgetahuinya. Viana harus membuat image lain di hadapan suami kontraknya itu.
Tak lama mc memberi tahu bahwa pesta dansa sebagai acara pembuka pun di mulai. Seluruh pengunjung yang membawa pasangan mereka pun di harapkan turun ke lantai dansa untuk mengikuti sesi dansa yang akan di mulai.
Verrel dan Viana yang kebetulan sudah lebih dulu berdiri di lantai dansa pun, nampak canggung saat beberapa pasangan mulai berbaur di lantai dansa bersama mereka. Baik Viana mau pun Verrel sama-sama bingung. Sudah kepalang basah, akhirnya Verrel menawari wanita yang ada di hadapannya untuk berdansa.
__ADS_1
“Mau kah kamu berdansa denganku?” tawar Verrel dengan sopan.
Viana pun terkesiap seketika, baru kali ini ada seorang pria yang mengajaknya berdansa. Siapa lagi kalau bukan suami kontraknya sendiri yaitu Verrel. Viana di buat gugup oleh sikap Verrel yang tiba-tiba romantis seperti ini.
Padahal jika bertemu setiap hari mereka bagaikan anjing dan kucing. Selalu bertengkar, apalagi Viana yang mempunyai pendirian keras. Terakhir bertemu saja, mereka tidak saling menyapa.
Dan kini takdir menyatukan mereka dalam acara yang tak terduga. Tidak bisa menolak, Viana pun menerima uluran tangan Verrel dengan jantung berdebar-debar. Semenjak ciumannya bersama Verrel kemarin, jujur membuat Viana tidak bisa melupakannya begitu saja. Ia merasakan ada yang aneh dalam hatinya.
Viana pun mengikuti apa yang di arahkan oleh Verrel sambil tersenyum untuk menetralisir rasa kegugupannya. Mengingat pria itu pasti sudah terbiasa menghadiri pesta- pesta seperti yang ia hadiri saat ini.
Tak lama baik Verrel mau pun Viana mampu menyesuaikan gerakan dengan musik yang mengalun merdu memenuhi ruangan itu.
Verrel nampak tidak canggung saat menyentuh pinggul gadis itu tanpa permisi. Dalam hati Viana mencibir, pasti Verrel yang sudah terbiasa menyentuh tubuh wanita lain makanya pria itu tidak merasa segugup dirinya.
Viana yakin pasti Verrel merasakan apa yang tangannya rasakan. Karena Viana gugup sampai tangannya bergetar. Namun wajah pria itu nampak biasa saja.
“Kamu gugup?”
“I..iya, ini yang pertama buatku,” sahut Viana terdengar jelas di telinga Verrel.
Verrel pun tersenyum untuk memaklumi. Sedangkan Viana merasa wajahnya terasa memanas melihat senyum Verrel dari dekat seperti ini. Beruntung ia memakai topeng yang membantunya menyamarkan rasa gugup yang ia rasakan.
“Sebelumnya, apakah kita sudah pernah bertemu?” ucap Verrel seraya menatap wajah Viana dari dekat.
__ADS_1
Deg!
Bersambung..