Jambret Cantik

Jambret Cantik
Viana Apes


__ADS_3

Meninggalkan Verrel yang sedang berduaann dengan kekasihnya Amelia, Viana memilih keluar apartemen untuk mencari udara segar.


Rongga hatinya terasa sesak melihat Verrel dan Amelia bermesraan tanpa tahu malu. Entah apa yang Viana rasakan, yang jelas Viana sadar ia bukanlah siapa-siapa Verrel. Mereka terhubung karena pernikahan di atas kertas yang kini mereka jalani.


“Apes banget sih hidup ku Tuhan, kenapa aku harus terperangkap ke dalam hubungan mereka berdua? Nasib, nasib dari dulu cuma jadi obat nyamuk,” keluh Viana sambil menendang-nendang batu kerikil kecil hingga terlempar jauh ke depan.


Viana pun memilih berjalan santai mengitari taman kota yang tidak jauh dari apartemen Verrel. Jalanan sudah nampak sepi, karena hari memang semakin larut malam.


Viana membelokkan diri ke sebuah mini maret untuk membeli minuman dan beberapa cemilan. Agar kegundahannya tidak semakin menjadi-jadi.


Usai membeli minuman dan camilan, Viana pun- menghampiri kursi taman dan memilih duduk di sana sambil menikmati kesendiriannya. Malam itu tidak begitu gelap, sinar rembulan membelai lembut wajah Viana yang tengah di rundung perasaan rindu.


Rindu kepada adik-adik asuhnya yang ada di panti, terutama Willy yang mungkin kini tengah berbahagia karena sudah menemukan orang tua angkatnya.


“Apa kabar mereka ya? Kangen tidur beralaskan tikar kaya ikan dendeng,” desis Viana sambil terkekeh saat mengingat kebersamaannya bersama adik-adik asuhnya.


Saat Viana tengah melamuni masa lalunya, tiba-tiba ada tiga orang pria bertatoo yang berjalan sambil sempoyongan dengan masing-masing membawa sebotol minuman keras.


“Blaky, lu lihat di sana ada bidadari turun dari rembulan tidak?”


“Mabuk lu, mana ada bidadari turun ke bumi yang fana ini. Yang ada lu harus mati dulu kalau mau bertemu bidadari,” jawab Blaky yang habis menegak minuman keras dalam genggamannya.


“Serius Blaky! Itu cewek bening banget, kita ajakin minum yuk!”


“Wah, boleh tu biar malam ini kita ada mainan nggak spaneng kaya biasanya,” celetuk teman Blaky.

__ADS_1


Ketiga pria bertatoo itu pun berjalan menghampiri Viana yang tengah asyik melamun memikirkan masa lalu dengan adik-adiknya. Tiba-tiba gadis itu di kejutkan dengan adanya sebuah tangan yang menyentuh lembut pundaknya.


“Cantik, sendirian aja. Boleh dong bang Blaky temani iya nggak temen-temen?” goda Blaky yang ternyata ikut tersihir akan kecantikan Viana.


“Iya cantik, di jamin kamu tidak akan kesepian,” sahut Pedro pria bertatoo yang lain sambil menoel dagu Viana.


“Kalian apa-apaan sih?! gue pengen sendiri jadi kalian pergi saja!” ketus Viana yang sudah bersiap untuk beranjak pergi namun lengannya tertahan oleh salah satu pria bertatoo itu.


“Mau kemana cantik? Main-main dulu lah sama kita di jamin asyik nanti kamu juga keenakan. Daripada cicing di dieu batur na jurig, ih sereemm.” ucap Blaky menakut-nakuti.


“Udah nggak usah jaim deh sama kita, kita tahu lu lagi nunggu pelanggan kan? Kita juga bisa bayar kamu kok cantik, mau berapa kita kasih. Asal ada diskonnya, hahaaaa.” goda Blaky dan Pedro bersamaan.


“Uh..lepasin nggak! Kalau nggak gue teriak nih?!” ancam Viana.


Pedro pun semakin berani meraih pinggul Viana membuat bulu kuduk Viana meremang, dan berusaha memberontak dengan sekuat tenaga.


Viana memang spesialis jambret tapi sayangnya ia tidak jago dalam ilmu bela diri. Namun untuk tipu daya, itu termasuk keahliannya.


“Lihat! Ada polisi tawuran!” teriak Viana sambil menunjuk ke sisi belakang para pria bertatoo itu.


“Eh! Mana-mana?”


Di saat ke tiga pria berotot itu termakan ucapan Viana, kesempatan ini tidak Viana sia-siakan. Viana pun menggigit kuat-kuat tangan pria yang sedari tadi mencekal tangannya.


Krek!

__ADS_1


“Aaarrgh!! sakiit!” teriak Blaky.


Viana pun langsung berlari mengambil langkah seribu bersembunyi dari para pria bertatoo yang ingin melecehkannnya.


“Cih! Rasanya asin belum mandi kayaknya! Huek!” Viana pun meludah beberapa kali sampai rasa asin dari kulit yang ia gigit hilang.


“Kenapa kalian diam saja? Kejar gadis nakal itu jangan sampai lolos!” perintah Blaky yang merupakan bos di antara tiga orang itu.


Kedua teman Blaky pun mengejar Viana yang menghilang di kegelapan malam. Di ikuti Blaky yang masih meringis merasakan kulitnya terkonyak akibat gigitan Viana.


Viana dan ketiga pria bertatoo itu pun terlibat aksi kejar-kejaran di gelapnya malam. Viana terus berlari berharap para pria bertatoo itu lelah dan berhenti mengejarnya. Namun ternyata dugaannya salah, ke tiga pria itu belum menyerah untuk menemukannnya.


Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Mereka tidak menyerah mengejarku, apalagi suasana sudah semakin sepi.


Viana mengatur nafasnya yang nampak ngos-ngosan. Apalagi perutnya mulai terasa perih akibat lapar karena ia lupa mengisi perut tadi sore. Viana pun mencoba berlari lagi namun sungguh sial ia malah terjatuh hingga lututnya berdarah.


“Itu dia mangsa kita!”


Akhirnya mereka pun menemukan Viana yang masih terkulai di tanah. Kini Viana sudah terkepung tidak bisa berlari lagi, karena kakinya kesleo dan berdarah. Viana pun hanya bisa pasrah, saat kedua pria itu mencoba mendekatinya sambil memejamkan kedua matanya.


Namun gerakan mereka terhenti karena teriakan seseorang.


“Hei! Jauhi gadis itu atau tamatlah riwayat kalian!”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2