Jambret Cantik

Jambret Cantik
Bukan Benih Cinta


__ADS_3

“Kak Via kenapa? Kak Via hamil?”


Deg!


Lagi-lagi Viana tercenung di tempat. Aisyah memang benar-benar begitu peka. Tapi kenapa anak remaja seumur Aisyah bisa tahu kalau ia tengah hamil?


Kembali ke beberapa hari yang lalu. Viana baru menyadari jika kini ia tengah berbadan dua. Setelah ia memberanikan diri memeriksakan keadaannya ke seorang bidan. Tak pernah terbayangkan dalam benak Viana, bahwa cinta satu malamnya bersama Verrel mampu membuatnya mengandung janin dari pria yang sangat ia benci sekaligus ia cintai itu.


Verrel Bramastya. Nama itu terpatri jelas di lubuk sanubarinya. Apalagi kini ia tengah mengandung benih cinta yang tak di harapkan bersama Verrel. Bukan benih cinta lebih tepatnya.


Karena Viana sangat tahu Verrel tak pernah mencintainya. Karena Verrel masih mencintai kekasihnya Amelia.


Viana juga tahu, kalau Verrel masih berhubungan dengan Amelia. Karena beberapa kali wajah Verrel dan Amelia muncul di berbagai media cetak dan juga layar kaca televisi.


Viana sudah bertekat dalam hati tak peduli, sekali pun suatu hari nanti pria itu tak mengakui atau mengharapkan anak yang kini ia kandung. Viana akan tetap merawatnya sepenuh hati, mencintainya segenap jiwa dan raga. Karena menjadi seorang ibu itu adalah anugerah terindah yang datangnya dari Tuhan.


Viana tak mengiyakan pertanyaan Aisyah, namun juga tidak mengelak. Viana pun berusaha mengalihkan perhatian adik-adiknya.


“Kakak tidak apa-apa Ais, ah..lebih baik kita makan saja yuk. Mumpung masih anget!” kilah Viana mengalihkan.


Viana pun beranjak mendahului Aisyah dan juga Tino menuju meja makan sederhana yang ada di rumah tuanya. Aisyah dan Tino pun mengikuti langkah Viana dari belakang.


Nampak Aisyah memperhatikan Viana yang begitu antusias menyambut kedatangannya. Namun ada secercah kesedihan di mata gadis berambut sebahu itu. Tapi bukan Viana namanya kalau tidak piawai dalam menyembunyikannya.

__ADS_1


Viana mulai duduk di kursi miliknya, begitu pula Aisyah dan Tino duduk di kursi mereka seperti biasanya mereka saat masih bersama. Semua tidak ada yang berubah. Hanya keadaan mereka saja yang berubah.


Viana mulai mengambilkan nasi untuk Aisyah dan Tino beserta dengan lauk tempe bacem masakan handalan Viana yang sangat di sukai adik-adiknya dulu.


“Kalian makan yang banyak ya, maaf kak Via hanya punya ini tidak seperti di panti yang banyak macamnya,” ucap Viana merendah.


“Tidak apa-apa kak Via, ini sudah lebih dari cukup,” jawab Tino semangat.


Aisyah dan Tino pun melahap nasi yang ada di depannya dengan lahap. Namun tanpa Viana tahu keduanya tengah menangis dalam diam. Sesekali air mata merembes dari kedua bola mata mereka. Namun, mereka coba tepis agar Viana tidak tahu apa yang kini mereka tengah rasakan.


Viana yang melihat Aisyah dan Tino tengah menyantap masakannya dengan lahap pun, ikut menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Hatinya sedikit teriris sembilu.


Ternyata Viana pun juga menangis dalam diam. Menangis karena kini keadaan mereka tidak seperti dulu. Menangis karena kini ia tengah mengandung dari benih yang tidak ia harapkan bersama Verrel. Viana harus berjuang melawan takdirnya kembali meski kini ia tak sendiri.


Seorang wanita yang memakai pakaian sexy, memberanikan diri duduk di pangkuan seorang pria yang tengah sibuk di depan layar mengerjakan sebuah pekerjaan.


Atasan blousenya yang begitu rendah tak mampu menutupi gundukan kenyal miliknya yang sengaja ia biarkan begitu saja tanpa cup penutup.


“Sayang, sore ini begitu dingin? Apa kamu tidak merasakan kedinginan?” bisik wanita itu kepada pria yang sengaja membiarkan wanita itu duduk di pangkuannya.


Rupanya wanita itu tengah menggoda pria itu. Di bukanya kancing blousenya satu persatu, sambil sesekali memainkan lidahnya. Rok mini yang ia kenakan sengaja ia buka lebar-lebar, agar pria di hadapannya tergoda.


Jujur sebagai pria normal, pria mana yang bisa menolak di suguhkan pemandangan yang menggiurkan itu.

__ADS_1


“Hmm...lumayan,” sahut si pria sambil sesekali menelan salivanya menatap pemandangan yang begitu berani di hadapannya.


“Mau tidak aku hangatkan?” bisik wanita itu dengan genit.


Sesaat si pria nampak tersadar dari fatamorgana. Lalu menggeleng pelan seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Amelia, aku masih ada kerjaan. Tolong menyingkirlah dari pangkuanku,” pinta Verrel sambil menggeram menahan gejolak yang hampir saja menyeruak.


“Tidak! Aku ingin tetap di sini Verrel! Sudah lama aku ingin merasakannya denganmu. Kapan kita bisa menikah?! Aku sudah bersiap menjadi istrimu!” rengek Amelia.


Ya wanita sexy itu adalah Amelia dan juga si pria adalah Verrel. Meski tidak ada kejelasan hubungan dari Verrel, Amelia tidak putus asa terus mengejar dan mendakati Verrel. Sepertinya sulit bagi Verrel untuk melepaskan diri dari jerat Amelia.


“Amelia!” hardik Verrel tegas.


Namun yang di hardik pun malah membusungkan dadanya. Sengaja menampak bongkahan kenyal miliknya dengan jelas tepat di wajah Verrel.


Mendapati Verrel nampak tercenung menatap kemolekan tubuhnya, membuat Amelia semakin nakal. Sesekali memainkan balon miliknya sendiri, sambil memaksa tangan Verrel untuk menjamah tubuhnya.


“Ayo Verrel, lakukan! Apa kamu tak penasaran rasanya? Aku jamin, kamu pasti ketagihan,” bujuk Amelia dengan nada menggoda.


Bagaikan kerbau di cocok hidungnya, Verrel nampak menurut. Tangan Verrel mulai terulur meraih buah melon yang menggelantung manja di hadapannya.


“Lakukan sayang, jangan ragu-ragu!”

__ADS_1


Mata Amelia sudah terpejam untuk menikmati sensasi sentuhan tangan Verrel. Sedangkan Verrel nampak mati-matian menahan rasa penasarannya. Rasa berhubungan dengan wanita dengan sadar.


__ADS_2