Jambret Cantik

Jambret Cantik
Meet You


__ADS_3

“Permisi, saya ingin mengantarkan kopi.”


“Masuk!”


Sebuah suara menginstruksi dari dalam memerintahkan Viana untuk masuk. Viana pun menarik handle pintu kokoh itu dengan yakin lalu menutup pintunya kembali secara perlahan.


Sepertinya ada dua orang di dalam ruangan itu. Namun Viana tak berani menatap mereka langsung karena menurut karyawan seniornya itu tidak sopan. Viana terus menunduk sambil meletakkan cangkir-cangkir berisi kopi itu dekat di hadapan sang presedir dan tamunya.


“Bagaimana pak Verrel? Jika pak Verrel bersedia menjadi wakil direktur , sudah pasti saya merasa senang. Karena saat ini saya merasa sudah tidak mampu untuk mengatur kekacauan yang ada di sini sendirian. Jadi maukah pak Verrel menjadi wakil saya di perusahaan ini? Saya yakin, perusahaan akan semakin berkembang jika itu berada di bawah kendali tangan dingin pak Verrel,” ucap sang presedir seraya memuji kinerja Verrel yang sudah tidak di ragukan lagi.


Deg!


Viana terhenyak saat mendengar nama orang yang sangat-sangat ingin ia hindari. Kini disebut dan sepertinya berada sangat dekat dengannya.


Viana mencoba mendongakkan wajahnya untuk melihat, apakah benar Verrel yang di maksud sama dengan Verrel yang ada di fikirannya. Bibir mungil Viana berkomat-kamit agar apa yang ia khawatirkan tidak benar-benar terjadi. Namun na'as, orang yang kini duduk di hadapannya adalah orang yang sama yang ada dalam fikirannya.


“Verrel.”


Seperti terpanggil, netra Verrel dan Viana sama-sama saling memandang. Mengunci satu sama lain membuat dunia keduanya seakan berhenti berputar. Baik Viana mau pun Verrel terpaku dalam kediaman masing-masing hingga sebuah suara menyadarkan keduanya.


“Pak..pak Verrel! Anda kenapa pak? Memandangi karyawan saya seperti itu?”


“Akh! tidak tuan Heru hanya saja karyawan bapak seperti mirip seseorang yang saya kenal. Ya hanya mirip saja, apakah dia karyawan baru? Sepertinya saya baru kali ini melihatnya,” sahut Verrel sambil memandangi Viana dengan intens.

__ADS_1


“Oh, begitu. Iya memang benar ia karyawan baru saya bagian office girls. Namanya kalau tidak salah Viana ya ?”


“I..iya pak, kalau begitu saya permisi.”


Viana buru-buru menyudahi pertemuan tak terduga dengan mantan suami kontraknya itu. Agar Verrel tidak berbicara yang aneh-aneh tentang dirinya di hadapan sang presedir karena itu bisa mengancam posisi pekerjaannya saat ini.


Apa pun yang terjadi, Viana tidak ingin sampai di pecat oleh perusahaan secara tidak hormat. Viana hanya ingin bekerja dengan damai. Namun sepertinya, bayang-bayang Verrel akan menghantui hidup Viana kembali.


Sebelum Viana sempat melangkah, lagi-lagi Verrel membuat jantungnya ingin melompat keluar.


“Viana, aku menyukai kopi yang kau buat rasa manisnya pas,” seru Verrel kearah Viana yang masih terpaku di tempat sambil tersenyum manis.


Deg!


“Terima kasih banyak Bapak Verrel, saya permisi.”


Viana pun langsung lari terbirit-birit menjauhi ruang presedir itu. Entah mimpi apa semalam, sampai-sampai kesialan datang kepadanya hari ini.


Tanpa di duga ia bertemu dengan Verrel kembali. Pria maskulin itu masih tetap tampan, sama seperti terakhir kali mereka bertemu. Sungguh, sebenarnya dalam hati Viana yang terdalam sangat merindukan pria itu. Namun Viana tidak ingin terjebak dalam hubungan yang tidak pasti dengan Verrel lagi. Karena Viana tahu siapa dirinya dan juga siapa Verrel.


Sampainya di pantry yang ada di lantai bawah. Viana buru-buru mengambil segelas air dari dispenser dan meminumnya hingga tandas. Sambil mengingat-ingat pertemuan tak terduganya bersama Verrel barusan.


Selama ini ia tak begitu mengetahui tentang seluk beluk perusahaan dimana tempatnya bekerja saat ini. Tidak ada yang bisa di mintai tanya, Viana pun mencoba mencari tahu melalui ponsel pintar miliknya. Namun ia tak menemukan apa pun yang berkaitan dengan Verrel. Perusahaan itu bukan milik Verrel, lalu kenapa pria itu ada di perusahaan itu?

__ADS_1


Viana tak begitu memahami dunia bisnis. Kehidupannya terlalu sederhana. Apa yang ia jalani yaitulah yang bisa ia mengerti.


Beruntung jam kerjanya kini telah usai dan Viana buru-buru pulang agar tidak bertemu Verrel kembali. Hanya melihat wajah Verrel saja membuat luka lama Viana kembali mencuat ke permukaan.


Sampainya di rumah kontrakan yang Viana sewa dengan hasil jerih payah Viana sendiri, Viana bergegas menemui putranya. Dan kebetulan ada Willy dan penjaganya yang sedang berkunjung. Meski Viana sudah pindah rumah, tetap aja keluarga Rajasa tidak melepaskan Viana begitu saja.


“Willy, kamu ada di sini? Dimana Vier berada Will?”


“Iya ka, Willy bosan kalau harus belajar privat terus menerus. Oleh sebab itu Willy main kesini, baby Vier sekarang sedang bermain bersama grand pa,” jelas Willy.


Karena masalah kesehatan yang tidak kondusif membuat Willy adik asuh Viana itu harus menjalani belajar mandiri di rumah.


“Oh, grand pa juga ikut? Dimana mereka?”


“Di taman belakang kak, ayo kita susul kesana,” ajak Willy .


Sampainya di taman belakang, Viana langsung bergegas berhamburan memeluk putranya Vier yang masih asyik bermain mobil remot.


Entah perasaan Viana kali ini merasa tidak baik, pertemuan tak terduganya bersama Verrel merupakan suatu pertanda buruk yang bisa saja terjadi.


Dan Viana tak ingin Verrel sampai tahu mengenai siapa sebenarnya Vier. Karena Viana takut, Verrel akan mengambil Vier dari hidupnya. Dan itu tidak boleh terjadi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2