Jambret Cantik

Jambret Cantik
Nikah Express


__ADS_3

Malam pun tiba, Viana datang ke mansion keluarga Verrel untuk di perkenalkan kepada Mama Venna. Sesuai isi perjanjian kontrak, Viana harus mengikuti apapun sandiwara yang akan Verrel mainkan. Termasuk saat ini, Viana berpura-pura menjadi calon istri Verrel.


“Selamat malam ma, om dan tante maaf kami terlambat,” sapa Verrel sambil mengapit lengan Viana.


Semua tatapan mata menatap kearah dimana Verrel dan Viana tengah berdiri.


Viana pun membalas tatapan mereka satu persatu dengan tersenyum ramah kearah Mama Venna dan juga sepasang keluarga yang terlihat memandang tak senang kearahnya.


“Nak Verrel apakah gadis itu calonmu?” tanya pak Ramdan tamu yang Mama Venna undang makan malam ke rumah bersama istri dan juga anak gadisnya yang berniat ia jodohkan dengan Verrel.


Verrel menarik tubuh Viana dan semakin mendekatkan pada tubuhnya. Dan memulai sandiwara.


“Benar sekali pak Ramdan, gadis cantik ini adalah calon istri saya. Maaf saya baru sempat mengenalkannya kepada kalian, Perkenalkan namanya....”


“Maaf Verrel sepertinya kami buru-buru, Bu Venna kami permisi dulu. Saya lupa bahwa ada urusan keluarga mendadak barusan. Terima kasih atas undangan makan malamnya, kami permisi.” pamit pak Ramdan yang seketika kecewa mengetahui Verrel sudah memiliki calon istri.


“Ma, Tasya ayo kita pulang!”


“Tapi mas”


“Ma, ayo!”


“Loh mas Ramdan dan jeng Lastri kok buru-buru sih, padahal Verrel nya baru datang loh ini.”


“Sekali lagi kami minta maaf ya jeng, mungkin lain kali lagi. Permisi,” balas bu Lastri yang mewakili sikap suaminya.


“Silahkan jeng.”


Istri dan seorang gadis berkacamata itu hanya memandang kearah Verrel dengan tatapan penuh damba. Sampai bayangan gadis itu menghilang di balik penyekat ruangan.


“Verrel, apakah gadis itu calon istrimu?” tanya Mama Venna dengan hati-hati sambil menelisik penampilan Viana dari atas hingga ke bawah.


“Bagaimana menurut mama?” tanya balik Verrel.

__ADS_1


“Oke.” Mama Venna pun menyodorkan dua jarinya sebagai isyarat.


Tanpa terasa Mama Venna pun terlibat obrolan yang seru bersama Viana. Mama Venna sangat menyukai Viana yang ternyata bersikap dewasa dan berfikiran luas. Padahal jika di telisik dari penampilan, Viana terlihat seperti gadis yang manja.


“Ayo sayang, makan yang banyak. Ayo dong Verrel ambilkan calon istrimu steaknya juga.”


“Ini masih banyak tante,” tolak Viana sambil tersenyum.


“Tahu nggak Viana, tante tu seneng banget akhirnya Verrel membawa seorang gadis ke rumah ini. Rumah ini terasa sepi bagaikan kuburan karena hanya di huni nenek tua seperti tante,” celoteh Mama Venna sambil tergelak.


“Masa sih tante?”


“Oh..iya, kira-kira kapan kalian akan menikah? Mama sudah tidak sabar untuk menimang cucu,” seloroh Mama Venna membuat Verrel dan Viana tersedak bersamaan.


Uhuk! Uhuk!


“Lah kenapa kalian malah tersedak sih, hati-hati dong makannya.”


“Ma, Verrel tu tersedak karena mama. Masa nikah aja belum mama sudah pengen cucu dari kami. Gimana caranya?”


Ucapan ngawur Mama Venna sukses membuat Viana tersedak dua kali. Sampai terbatuk-batuk.


“Ma, sudah ya bercandanya. Kasihan Viana tu.”


“Maafin tante ya Viana, tante cuma bercanda. Tapi mama sungguh berharap pernikahan kalian di percepat. Kalian tidak perlu khawatir, semuanya akan mama yang atur. Jadi mama putuskan besok malam, kalian akan menikah.”


“Apa menikah?” Kali ini suara Viana menyaingi suara Mama Venna.


“Ah, maaf saya hanya terkejut.” Viana pun kembali menunduk.


“Iya sayang kalian akan menikah, berhubung kedua orang tuamu yang sudah tidak ada. Makanya tante akan mengurus segala keperluanmu dan Verrel untuk persiapan pernikahan kalian nanti.”


“Bagaimana Verrel?” imbuh Mama Venna.

__ADS_1


“Terserah mama saja,” sahut Verrel cuek.


Karena pada dasarnya Verrel hanya tidak ingin di paksa terus menerus untuk menikah oleh mamanya. Lagian pernikahan yang akan ia jalani nanti hanya pura-pura saja. Beruntung Verrel menemukan gadis yang tepat, yang bisa ia ajak kerja sama bersandiwara.


*


*


Hari pernikahan pun tiba, semua dekor dan riasan di siapkan seminimalis mungkin oleh mama Mama Venna. Karena memang pernikahan yang di bakal di selanggarakan begitu mendadak. Hanya beberapa keluarga dan kolega bisnis yang di undang.


Viana yang terbalut gaun pengantin pun nampak gugup meski pernikahan yang ia jalani nanti hanyalah pernikahan kontrak. Berbeda dengan Verrel yang memasang raut wajah santainya seolah tidak ada beban sama sekali.


Viana pun berdiri di samping Verrel sambil menyalami satu persatu tamu undangan.


“Pak Verrel, selamat ya. Saya terkejut tiba-tiba saja dengar bapak menikah. Padahal selama ini saya tidak melihat pak Verrel berkencan dengan gadis mana pun. Tapi ternyata pilihan pak Verrel, top markotop!” puji pak Badrun kolega bisnis Verrel yang lain.


Verrel pun tersenyum pongah. Tidak salah lagi ternyata pilihannya jatuh kepada Viana memanglah tepat.


“Pak Badrun bisa saja, terima kasih atas waktunya silahkan di nikmati hidangan seadanya pak,” balas Verrel ramah.


“Sama-sama, saya sudah memberikan kado spesial buat pak Verrel. Jangan lupa di cobain ya,” bisik pak Badrun.


“Kado spesial apa pak?”


“Ada deh, nanti pak Verrel juga tahu.”


Kedua kolega bisnis itu pun akhirnya tergelak satu sama lain setelah Verrel mengetahui apa yang di maksud oleh pak Badrun kolega bisnisnya itu.


Tak lama, acara pun usai. Kini hanya meninggalkan sepasang pengantin dan juga beberapa sanak saudara.


Viana pun pergi kamar Verrel yang ada di lantai atas. Sudah seharian ia sibuk akan acara pernikahan yang tak pernah ia rencanakan seumur hidupnya. Membuat tubuh gadis cantik itu merasa lelah. Dan akhirnya Viana pun tertidur tanpa melepas gaun pengantinnya.


Verrel baru masuk ke dalam kamarnya sambil melepas jas dan juga dasi yang melekat pada kerah kemejanya. Namun sebuah pemandangan membuat Verrel melongo di tempat.

__ADS_1


TBC..


__ADS_2