Jambret Cantik

Jambret Cantik
Teror Mama Venna


__ADS_3

“Jangan jatuh hati padaku.” Ucap Verrel tiba-tiba.


Viana pun kembali terdiam, lalu sedetik kemudian gadis cantik itu tertawa terpingkal-pingkal.


“Hwahhaa...haahaha..”


“Kenapa tertawa memangnya ada yang lucu?”


“Iya, pak Verrel lucu! Bapak fikir saya menyukai bapak. Big nooo!! Cita-cita saya juga ingin bertemu dengan laki-laki yang bisa membuat jantung saya bergetar bagaikan genderang yang mau perang, lalu kita pacaran terus menikah. Happy ending deh.” Senyum ceria terbit dari wajah cantik itu.


Verrel pun menyentil kening Viana kembali. Namun kali ini berhasil membuat gadis itu meringis.


“Memang kau fikir kehidupan nyata seperti di novel-novel atau di drama Korea? Tidak akan semudah itu!”


“Masa iya pak? Pastilah ada kehidupan bahagia seperti itu,” Viana pun mendelik untuk menanti jawaban Verrel selanjutnya.


“Bagaimana kalau pasanganmu selingkuh terus kamu di tinggal nikah olehnya? Apa yang akan kamu lakukan?” tanya balik Verrel.


Viana pun nampak terdiam untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan Verrel barusan.


“Ya mungkin saya akan datang ke acara pernikahannya dan menghancurkan pestanya pak. Masa cuma hati saya yang sakit, tidak bisa dong,” jawab Viana enteng.


Verrel pun sampai tersedak ludahnya sendiri saat mendengar jawaban bar-bar dan konyol Viana.


“Tapi bagaimana jika kamu masih mencintainya? Bukankah, definisi cinta sebenarnya adalah merelakan dirinya bahagia dengan yang lain?”


“Pak Verrel, maaf Viana belum pernah jatuh cinta. Oh..Viana tahu apakah ini pengalaman pribadi pak Verrel sendiri?” selidik Viana sambil menaik turunkan alis tebalnya yang simetris.


“Ah!..tidak-tidak, aish..sudahlah lebih baik kau bukankan pintunya. Sepertinya pesanan kita sudah datang,” titah Verrel mengalihkan topik pembicaraan.


“Siap, bos!”

__ADS_1


Viana pun beranjak dari pembaringannya, lalu berjalan kearah daun pintu untuk membukanya karena bel pintu itu terus berbunyi. Sedang Verrel hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah konyol Viana yang berjalan sambil bergoyang-goyangkan tubuh rampingnya.


Setidaknya Verrel merasa tenang, hubungannya bersama Viana hanyalah atas dasar bisnis dan kerjasama belaka. Dan tidak ada perasaan di dalamnya. Karena hati Verrel masih mengharapkan Amelia kembali ke dalam hidupnya suatu hari nanti. Lagian tidak mungkin Verrel menyukai orang asing yang baru saja ia kenal seperti Viana.


Saat pintu Viana buka, betapa terkejutnya Viana. Lalu reflek gadis itu menutup pintunya kembali. Sedangkan seseorang yang berada di luar pintu hanya mengernyitkan dahinya sambil menatap pintu yang di tutup kembali.


Bel pintu pun berbunyi kembali, kali ini lebih lama dan lebih beruntun dari sebelumnya.


“Kenapa segera tidak kau buka pintunya Viana?Kenapa kamu malah terdiam begitu?” hardik Verrel.


“Pak Verrel, ini gaswat darurat. Bahaya..bahaya!” oceh Viana panik.


“Bahaya kenapa? bicaralah yang benar!” sentak Verrel lagi


“Aish! Di luar ada nyonya Venna alias mamanya pak Verrel. Saya suka bingung harus bersikap bagaimana, saya belum pernah pengalaman jadi menantu.” gelisah Viana sambil *******-***** telapak tangannya sendiri.


“Sudah ku bilang, jangan banyak bicara. Ikuti saja sandiwara yang akan aku buat nanti. Dan turuti saja semua yang mama ucapkan. Mengerti?”


“Mengerti pak!”


“Bagus siap?”


1


2


3


Pintu apartemen pun terbuka dan menampilkan Mama Venna yang menatap tajam kearah Verrel dan juga Viana yang menunduk di belakang pria tampan itu.


“Kenapa pintunya di tutup kembali Viana, mama menunggu di luar sampai darah mama habis di gigitin nyamuk,” keluh Mama Venna mendramalisir.

__ADS_1


“Maaf ma, tadi Viana hanya terkejut tiba-tiba mama datang kesini tanpa memberi tahu kami sebelumnya,” bela Verrel.


“Memangnya kenapa? Oiya..kenapa baju kalian tampak kumal dan berkeringat seperti ini?” tanya Mama Venna mengintimidasi.


“Kami habis berolahraga ma, iyakan Viana?” (Berolahraga mengepel apartemen) lanjut Verrel dalam hati.


Viana pun mengangguk mengiyakan ucapan Verrel. Memang apa yang barusan mereka lakukan seperti tengah berolahraga. Membuat tenaga mereka terkuras habis secara bersamaan.


Mendengar itu, Mama Venna menatap dengan binar bahagia. Dalam benak Mama Venna olahraga yang di ucapkan Verrel adalah olahraga hubungan suami istri.


“Katakan, apa kalian puas?” tanya Mama Venna dengan senyum merekah.


“Puas tante, bahkan kami sampai kelelahan,” ceplos Viana begitu saja.


“Aish! Sudah mama bilang panggil mama jangan tante. Sini sayang ikut mama, mama bawakan sesuatu untukmu. Tadaaa..ini dia susu penyubur kandungan, mama jamin sebentar lagi bibit Verrel akan tumbuh subuh dalam rahimmu nanti.”


Verrel pun tersedak ludahnya sendiri. Niat hati pindah ke apartemen agar ia dan Viana bisa bebas kini malah mamanya menyatroni apartemennya. Rasanya seperti tengah di teror oleh mamanya sendiri.


Sedangkan Viana dengan susah payah menelan salivanya yang terasa kering dan berat. Membayangkan meminum susu yang berbau anyir perpaduan susu sapi murni dan juga berbagai rempahan di dalamnya membuat Viana mendadak merasa mual sendiri.


“Ayo sayang, di minum susunya. Ini sangat baik untuk kesehatan dan juga kesuburan rahimmu. Ayolah.. Mama sudah susah-susah membuatkan ini untukmu,” pinta Mama Venna memelas.


Verrel pun menatap Viana untuk memberi peringatan agar segera meminum saja susu buatan mamanya itu. Dan terpaksa Viana pun menuruti meminum susu tersebut.


Dengan gerakan ogah-ogahan, Viana mulai meraih segelas penuh susu kental itu. Memencet hidungnya dan mulai meminum susunya dengan cepat. Sedangkan Verrel yang melihat hanya tertawa tertahan melihat penderitaan istri kontraknya itu.


Viana hampir saja menyemburkan kembali susu itu saat tiba-tiba rasa mual begitu memenuhi rongga mulutnya. Namun sebisa mungkin ia berusaha menelannya dengan susah payah.


Awas kau pak Verrel! Suatu saat aku akan membalasnya! Tunggu saja tanggal mainnya.


Begitulah rutinitas Viana selama ini, setiap hari Mama Venna selalu membuatkan ramuan khusus untuk penyubur kandungan. Padahal selama ini Verrel dan Viana tidak melakukan hubungan apa pun. Tentu saja susu penyubur itu tidak berfungsi apa pun.

__ADS_1


Hubungan sandiwara mereka juga berjalan sempurna sampai dua bulan lamanya. Hubungan keduanya juga semakin dekat, bagaikan pasangan teman yang melengkapi satu sama lain. Namun ada penyekat di antara mereka.


Bersambung...


__ADS_2