
Hari-hari terus berlalu. Waktu dunia terus bergulir. Tanpa terasa sudah berbulan-bulan lamanya Verrel merasakan hal yang membingungkan itu. Verrel anggap mungkin itu hanya karena perubahan cuaca yang tak kondusif untuk saat ini. Sehingga ia kerap merasakan mual dan tak jarang sering muntah di waktu pagi hari mau pun malam hari.
Selama itu Amelia tak menyerah untuk mendekati Verrel terus menerus. Untuk merayu hati Verrel kembali, Amelia memberi perhatian lebih kepada pria tampan itu dengan memberikan makanan kesukaannya pria tersebut yang sengaja ia pesan dari restauran ternama di kota ini.
Sampai kapan pun Amelia akan terus berusaha membuat Verrel kembali bersamanya, sampai ia bisa mendapatkan apa yang wanita sexy itu inginkan.
Ditempat lain
Seorang wanita dengan perut buncitnya nampak berjalan tertatih. Tenaganya sudah mulai berkurang, apalagi kini janin dalam kandungannya nampak sudah tumbuh membesar. Kini wanita itu mudah sekali merasakan lelah, di usia kandungannya yang sudah memasuki tri semester tiga atau semester terakhir.
“Fyuh! Rasanya begitu lelah...tapi aku harus terus bertahan, biaya melahirkan jaman sekarang tidaklah murah. Semangat Via!” gumam wanita cantik itu sambil menyemangati diri sendiri.
Rupanya Viana tengah menjajakan kue handalannya. Demi mengumpulkan rupiah untuk biaya persalinannya nanti. Rasanya memang terasa sakit, bagaimana tidak? Hamil tanpa suami adalah hal yang buruk dan menyakitkan bagi siapa pun yang pernah merasakan. Namun Viana memilih membesarkan dan merawat anak itu seorang diri kelak.
Tak jarang, beberapa ibu-ibu penghuni sekitar rumah Viana mencibirnya. Sampai Viana di sebut wanita pezina karena tidak jelas hamil anak siapa. Meski Viana sudah menjelaskan bahwa ia sudah menikah.
Apalagi memberi tahu bahwa suaminya adalah Verrel Bramanstya, justru respon mereka malah meremehkan bahkan menertawakan. Dan menganggap bahwa Viana sedang berhalu atau bahkan gila bisa bersanding dengan pengusaha kaya raya di kotanya itu.
Viana sampai pindah tempat dan memilih mengontrak demi kelangsungan hidupnya. Tinggal dan hidup di lingkungan yang toxic membuat Viana harus berusaha mempertahankan kewarasannya setiap hari. Kini ia harus bekerja keras untuk bertahan hidup, dan mengumpulkan rupiah untuk biaya persalinannya nanti.
Kini, tibalah Viana di tempat dimana para ibu-ibu rumah tangga tengah duduk menggerombol sambil bergibah ria. Viana pun mencoba menghampiri kumpulan ibu-ibu itu untuk menjajakan sisa kue dagangannya yang belum terjual.
“Maaf ibu mengganggu waktunya sebentar, barang kali ibu-ibu ini berminat sama dagangan kue saya. Silahkan ibu di coba dulu boleh,” tawar Viana seraya mengangsongkan dagangannya yang ia bawa di atas nampan.
“Wah! Sepertinya enak neng. Boleh di coba ya? Asyik!” sahut ibu berkacamata dengan senang karena dapat mencicipi makanan dengan gratis.
Viana sangat paham betul, biasanya ibu-ibu suka jika di tawarkan dengan makanan gratis seperti itu. Dengan senyum merekah, Viana pun mulai membuka kertas koran penutup kue itu. Lalu mengeluarkan kantong putih yang biasa di gunakan untuk membungkus makanan.
__ADS_1
“Boleh ibu, mau yang mana? Semuanya serba seribuan," terang Viana gamblang.
Ibu itu pun mulai menunjuk beberapa kue yang ia minati sambil mulutnya terus menguyah. Tidak salah lagi, kue buatan Viana memang tiada duanya. Rasanya khas dan pas. Manisnya tidak berlebihan. Lembut dan mengeyangkan tentunya.
“Semua sepertinya enak, bolehlah di bungkus semua,” pinta si ibu yang lain.
Tiba-tiba saja ada ibu-ibu berambut pirang datang sambil membawa motor G-max miliknya. Sepertinya ia usai mengantar sekolah sang anak.
“Jeng Saras, sini beli kue yuk lumayan enak loh. Harga murah lagi,” ajak temennya yang berkerudung.
Wanita bernama Saras itu nampak menoleh lalu menghampiri dimana kumpulan ibu-ibu itu sedang membeli makanan.
“Kalian beli kue murahan ini? Kita belum tahu higinis Pa enggaknya loh jeng. Tau sendirikan Yang murah biasanya kurang higinis,” celoteh wanita itu sambil membuka kacamata hitamnya.
Viana yang mendengarkannya pun hanya bisa beristigfar dalam hati. Dan mohon kepada Tuhan untuk di beri kesabaran yang luas.
“Maaf ibu, saya yang membuat dan mengemasnya sendiri. Jadi saya sudah pastikan semua higinis dan bisa di makan,” sahut Viana dengan tenang.
Teman-temannya yang sejak tadi makan pun berusaha melepehkan sisa makanan yang belum sempat mereka telan. Sepertinya mereka mulai terpengaruh akan ucapan Saras selaku ketua geng mereka.
Perempuan bernama Saras itu pun tersenyum miring. Sudah lama ia ingin melakukakan ini, karena berulang kali ia memergoki sang suami rutin membeli dagangan dari wanita hamil yang ada di depannya saat ini.
Viana berusaha merendam amarahnya. Salah satu telapak tangannya mengepal kuat. Jika saja ia tak lagi hamil, sudah pasti ia ingin menyumpal mulut ibu-ibu rambut pirang itu dengan cabai atau kue dagangannya itu.
“Maaf ibu, saya belum mampu membelinya. Jadi saya pakai barang rumah tangga saya seadanya,” sahut Viana lagi.
“Cih! Alasan saja! Oiya..kamu wanita yang hamil tanpa suami itu kan? Yang baru pindah dari kampung sebelah?” ucap Saras dengan lantang agar semua teman-temannya tahu.
__ADS_1
Sebelumnya Saras penasaran dengan wanita hamil penjual kue yang jadi langganan suaminya. Usut punya usut, ternyata Saras memiliki kenalan orang kampung sebelah. Dimana Viana tinggal sebelumnya.
Dan kini Saras merasa jadi pemenang karena sudah berhasil mempermalukan Viana di depan teman-temannya.
Setelah Saras berkata itu nampak teman-teman yang tadi ingin membeli dagangan Viana pun, menatap jijik ke arah Viana.
“Hei ..ibu..ibu hati-hati ya, wanita ini hamil tanpa suami. Nggak jelas juga suaminya yang mana, tiba-tiba saja hamil. Hati-hati suami kalian nanti bakal di rayu sama dia. Asal tahu saja Suamiku aja udah kena pelet dia ,” fitnah Saras dengan kejam.
“Yang bener jeng? Kok kamu nggak cerita ke kita sih?”
“Ih..cantik-cantik berbisa juga ya ternyata, kayaknya ia lagi nyari bapak buat anaknya itu,” sahut teman Saras yang lain.
Saras pun tersenyum puas. Semua temannya kini percaya akan ucapannya.
“Astagfirulloh,” lirih Viana.
Viana hanya bisa menangis terisak. Bagaimana pun ia kini tidak punya daya dan upaya untuk membela dirinya sendiri.
“Ini kuenya aku kembalikan! Ternyata buatan pez*na, pantas saja kalau laki-laki pada suka!” cemooh para ibu-ibu itu sambil melempar kue yang sudah Viana bungkus.
“Iya, mulutku mendadak pahit habis makannya. Nih kami kembalikan! Udah sana pergi! Jangan lagi jualan di kampung ini!” usir teman Saras.
Ibu-ibu itu mendorong Viana untuk segera pergi dari kampung itu. Karena mereka tak ingin, Viana sampai merayu suami mereka.
Disaat terlihat aksi dorong mendorong antara si ibu dengan Viana, tiba-tiba saja ada seorang pria menghardik tindakan mereka.
“Hentikan! Apa-apaan kalian ini!”
__ADS_1
Bersambung...
Kira-kira siapa pria itu? Please komment biar otor semangat 💪 jgn lupa giftnya ya..🤭