Jambret Cantik

Jambret Cantik
Seperti Nyidam


__ADS_3

“Kamu!”


“Apa kamu-kamu, emangnya om kenal sama saya?!” ketus Aisyah dengan berani.


Astaga! Ini anak ketus sekali, apa dia tidak ingat bahwa aku pernah menabraknya tempo hari?


“Hei om! Malah bengong lagi! Emang om kenal sama saya?” tanya Aisyah lagi.


“Eh..tidak..tidak, emang namamu siapa?” tanya balik Dany yang memang berniat ingin tahu siapa nama gadis pemberani itu.


“Huh! Bilang aja modus om. Gitu aja kok repot,” ejek Aisyah penuh percaya diri.


“Astaga! Ini anak, emang beneran nggak tahu juga malah di bilang modus.”


“Halah, Aisyah mah udah hafal modus om-om hidung belang seperti om ini,” sanggah Aisyah yang berhasil membuat Dany kesal.


“Hei gadis berseragam putih abu-abu, pertama hidungku ini tidak belang. Dan satu lagi jangan panggil aku om, kapan aku nikah sama bibimu coba,” sahut Dany menahan kesal setengah mati.


Orang-orang yang mendengar perdebatan mereka pun tertawa. Hingga tak terasa antrian pun sudah mengurai, kini tinggal Aisyah dan Dany yang masih bersitenggang.


“Buat om sama adiknya, jangan bertengkar ya. Ini pesanan untuk kalian berdua.”


“Pak jangan panggil saya om, saya ini masih bujangan belum menikah apalagi punya anak.”


“Pffftt! Bwhaahaa....tuh kan apa yang saya bilang juga anda itu pantasnya di panggil om sesuai dengan wajah anda yang terlihat seperti om-om, oke saya duluan ya om..bye.”


“Astaga! Itu anak ternyata menyebalkan,” gerutu Dany kesal.


“Mas, bagaimana ini nasi gorengnya jadi nggak?” tanya si tukang penjual nasi goreng.


“Jadi pak, ini uangnya sisanya ambil saja.”

__ADS_1


“Terima kasih mas ganteng.”


Dany pun berlalu menuju mobilnya sambil menggerutu sepanjang jalan yang ia lalui.


“Tadi bilangnya om, eh pas di baikin bilangnya mas ganteng. Jadi yang bener yang mana?”


Enggan berfikir panjang karena ia dalam menjalankan misi berat dari Verrel. Dany pun memilih untuk tancap gas dengan kecepatan sedang agar segera sampai di apartemen tuannya itu.


Sampainya Dany di apartemen Verrel, pemuda itu langsung memarkirkan kendaraan roda empatnya asal. Dan segera memungut barang belanjaan yang sempat ia beli di jalan. Lalu segera masuk ke apartemen dan memberikan pesanan makanan kepada Verrel.


“Dany, kenapa semua makanannya hangat? Aku tidak mau makan, mauku makan yang panas yang ada asapnya mengempul!” Verrel pun membuang muka kearah lain sambil bersidekap tangan persis wanita tengah merajuk.


Sedangkan Dany pun memijit kepalanya yang sedikit pusing menghadapi sikap Verrel yang tiba-tiba aneh seperti orang yang tengah nyidam. Dany ingat betul, saat bibinya tengah hamil dan ingin makan buah mangga malam hari. Pamannya pun sampai belain memetiknya langsung dari pohon saat itu juga.


Apa tuan Verrel tengah nyidam ya? Tapi tidak mungkin, nyidam kan hanya untuk perempuan. Masa laki-laki bisa nyidam? Apa tuan Verrel bisa hamil?


Dany yang tak begitu paham soal seperti itu pun berasumsi bahwa bisa jadi Verrel tengah hamil. Tapi apakah ada pria yang bisa hamil di muka bumi ini? Pikir Dany polos.


“Baik tuan Verrel, tunggu sebentar.”


Dany mulai mengambil teflon untuk menghangatkan makanan yang baru saja ia beli. Beruntung Dany menguasai ilmu permasakan, sehingga tidaklah sulit baginya jika itu hanya memanaskan makanan saja. Bahkan untuk membuat makanan itu gosong pun, Dany juga bisa.


Sambil memanaskan sup kepiting itu, Dany menatap ornamen-ornamen dalam ruangan masak di apartemen Verrel. Dulu sebelum ada Viana, ruangan itu nampak kosong. Hanya berisi kulkas dan dispenser air minum saja. Karena Verrel jarang memasak. Bukan lagi jarang, tapi tidak pernah.


Pria maskulin yang cukup tampan dan mapan tapi belum menikah itu, lebih senang makan di luar daripada makan masakan rumahan. Dany masih ingat betul, Verrel jarang sekali menyentuh masakan buatan Viana. Padahal masakan buatan Viana, menurut Dany rasanya lumayan enak.


Kini peralatan-peralatan masak itu teronggok tidak terpakai begitu saja, semenjak kepergian Viana untuk terakhir kalinya.


“Nona Viana, dimana kamu berada?”


Dany cukup terhibur akan hadirnya Viana. Viana adalah gadis yang humoris. Viana juga gadis yang polos, dari matanya saja Dany bisa melihat. Setiap apa yang di lakukan oleh gadis itu tulus berasal dari hatinya. Jika saja Viana bukan milik tuannya, Dany pun mau dengan Viana. Masalahnya apa Viana mau dengannya?

__ADS_1


Berbagai fikiran menghampiri dan menyergap isi fikiran Dany. Dany pun berusaha menepis fikiran-fikiran konyolnya itu. Disaat ia tengah memikirkan Viana, tiba-tiba bayangan gadis berseragam abu-abu lewat begitu saja dalam ingatannya.


“Aish! Malah jadi keingat gadis ketus itu lagi!”


Dany mempercepat aksinya, sup kepiting panas sudah jadi tinggal di santap oleh Verrel.


“Tuan Verrel, supnya sudah panas silahkan di makan.”


“Oke, thanks Dany! Sekarang panaskan nasi gorengnya juga ya! Ingat jangan sampai gosong dan jangan di tambah minyak lagi, aku tak suka yang licin-licin!” titah Verrel sambil menyuapkan sup kepiting sendok demi sendok.


“Baik tuan.”


Dany pun membawa nasi gorengnya ke dapur untuk di panaskan kembali. Sudah menjadi nasibnya, menjadi seorang pengabdi bawahan haruslah patuh dan siap siaga. Termasuk meladeni hal-hal aneh yang di inginkan oleh majikannya seperti sekarang.


“Habis ini apalagi ya?” gumam Dany sambil terus membolak balikkan nasi goreng agar tidak gosong dan panas menyeluruh.


Dany terus membolak balik olahan nasi yang di campur dengan bumbu penyedap itu. Harum semerbak dari aroma nasi goreng begitu menggugah selera. Sampai Dany sendiri baru ingat, sedari siang ia belum sempat makan. Karena di sibukan mengurus pekerjaan Verrel yang tertunda karena insiden bersama Amelia.


Karena penasaran rasanya, Dany pun ingin menyicipi sedikit rasa dari nasi goreng tersebut. Aromanya sungguh semerbak membuat rasa lapar pada perutnya semakin melilit.


Namun belum sempat memasukkan sesendok nasi dalam mulut, suara Verrel sudah menginterupsinya.


“Dany! Cepat kesini!”


“Iya tuan!” balas Dany setengah berteriak.


“Mampus, apa aku ketahuan?” gumamnya.


Dany pun tergopoh-gopoh dari dapur sambil membawa nasi goreng panas pesanan Verrel. Namun alangkah terkejutnya Dany saat melihat Verrel.


“Astaga! Tuan Verrel!”

__ADS_1


Kira-kira apa yang terjadi sama Verrel ya? Please koment y kalau suka. Jgn lupa giftnya..🤩😘


__ADS_2