
Kurang lebih 3 hari 2 malam usai Viana dan bayinya di rawat intensif di rumah sakit, kini mereka sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Karena keadaan Viana usai melahirkan sudah membaik.
Selama 3 hari pula, Dany tak pernah absen untuk mengunjungi Viana dan juga bayinya. Kini Dany membantu Viana membereskan semua keperluan bayinya untuk di bawa pulang. Dany begitu sigap bagaikan seorang suami sungguhan bagi Viana.
Andai Verrel seperhatian itu, ya mungkin aku tidak perlu sembunyi. Aishh...apa yang kamu harapkan dari pernikahan omong kosong ini Viana!
Viana mencoba menghalau segala fikirannya tentang Verrel. Karena saat ini juga Viana tidak mungkin bisa muncul di hadapan pria itu dan mengaku sudah memiliki anak darinya. Itu sama saja mempermalukan diri sendiri.
“Via...halo Via? Apa kamu kamu sudah siap?” tanya Dany membuyarkan lamunan Viana.
“Akh! Memangnya setelah ini kita mau kemana Dan?”
“Kita akan ke suatu tempat, aku jamin kau pasti akan terkejut. Jadi persiapkanlah dirimu,” peringat Dany sambil tersenyum.
“Baiklah, yang penting jangan bawa aku ke hadapan Verrel saja.”
“Tidak akan.”
Dany pun tersenyum sumringah. Entah hatinya kali ini berbunga-bunga, bisa menemukan Viana kembali dan duduk di samping gadis penjambret hati itu, adalah suatu hal yang ingin dia lakukan selama ini.
Dany masih mengingat dengan baik, kala itu Viana yang tiba-tiba saja masuk ke gedung Verrel. Ia sangka, Viana adalah salah satu finalis calon istri atasannya itu. Tapi ternyata Viana adalah gadis penjambret yang berusaha sembunyi dari kejaran massa.
Lucunya lagi, Dany malah menyuruh Viana untuk mengganti pakaiannya. Tapi Viana justru menuruti saja karena memang kala itu ia bersembunyi dari kejaran massa.
Dan setelah Viana berpakaian feminim, ternyata gadis itu nampak cantik. Padahal saat itu, dalam hati Dany berharap semoga Verrel menolak Viana seperti yang pria itu lakukan kepada gadis-gadis yang lain. Tapi ternyata Verrel malah memilih Viana untuk menjadi istri kontraknya.
Mengingat itu semua, membuat Dany mengulum senyum seorang diri. Sambil bersiul-siul, ia fokus menyetir membelah jalanan ibu kota yang begitu ramai akan kendaraaan.
“Dany, kenapa kamu tiba-tiba saja tersenyum seorang diri? Kelihatannya kamu sedang bahagia ya?” tanya Viana sambil menepuk-nepuk pelan bayinya agar tertidur.
__ADS_1
“Apa sangat ketara sekali ya?”
“Ya begitulah.”
“Viana, apa kamu yakin akan membesarkan bayi itu seorang diri? Maksudku, seorang anak akan tetap membutuhkan sosok ayah di sampingnya bukan?” tanya Dany ambigu.
“Mungkin, tapi tidak untuk saat ini. Aku belum siap untuk jatuh cinta lagi Dan.”
“Maksudku, jika kamu butuh. Aku bisa membantumu, aku siap menjadi sosok ayah untuk baby Vier,” ucap Dany yang terdengar ambigu di telinga Viana.
Viana menamai bayi laki-laki dengan nama Vier putra Bramanstya.
“Maksudmu Dany? Apakah aku harus jatuh cinta padamu?”
*
*
“Cckkk! Kemana perginya si Dany sih?! Sudah beberapa hari ini ia susah sekali di hubungi. Awas ya kau Dany, aku pastikan potong gajimu 20%,” gerutu Verrel seorang diri sambil terus melakukan Panggilan pada nomor milik Dany.
Sayangnya panggilan dari Verrel di alihkan terus menerus oleh Dany. Seolah pria itu sedang sibuk sekali. Hingga telepon dari atasannya saja di alihkan.
“Kau benar-benar telah membuatku marah Dany!” geram Verrel sambil melempar ponselnya ke dinding hingga hancur.
Lalu dalam sekejap Verrel pun baru mengingat sesuatu.
“Astaga! Ponselku hancur! Semua ini gara-gara ulah kau Dany. Coba saja itu anak tidak mengabaikan panggilanku. Menyebalkan!” gerutu Verrel sambil memunguti puing-puing ponselnya yang telah hancur.
Hari ini Verrel berencana melakukan meeting di sebual mall yang ia kelola. Tentu saja sebagai Ketua Direktur ia harus di wajibkan untuk hadir, karena menyangkut proyek pengembangan mall tersebut.
__ADS_1
Namun berulang kali menghubungi asistennya tetap tidak bisa tersambung, akhirnya Verrel putuskan untuk pergi menyetir seorang diri.
“Ayaankk!” teriak seorang wanita begitu pintu ruangannya terbuka sepenuhnya.
“Amelia!” lirih Verrel.
“Mau pergi kah? Aku ikut ya...ya please!” pinta Amelia sambil memohon-mohon.
“Baiklah.”
“Yeeaach!”Amelia terlonjak kegirangan hingga seluruh anggota badannya ikut bergetar. Namun Verrel justru membuang muka. Karena berulang kali pertahanannya hampir roboh karena ulah nakal Amelia.
Amelia masih dengan pendiriannya, bersikeras untuk mendapatkan hati Verrel kembali. Sedangkan Verrel merasa bingung, rasa untuk Amelia sedikit memudar. Hatinya kini tersimpan satu nama yang entah dimana keberadaannya. Verrel sendiri pun tak tahu. Dan untuk memutuskan Amelia, Verrel belum mempunyai alasan yang tepat agar Amelia tidak merengek seperti anak kecil seperti tempo hari saat Verrel meminta wanita itu untuk pergi.
Verrel pun memasuki mobilnya, di ikuti Amelia yang duduk di kursi penumpang di samping Verrel. Mobil pun melaju meninggalkan perusahaan, menuju jalan raya.
Hari itu panas matahari sangat terik. Apalagi jalanan macet karena ada perbaikan jalan. Mau tak mau Verrel harus bersabar hingga kemacetan terurai.
“Meli! Kenapa tidak pakai sabuk pengamannya?” tegur Verrel yang mendapati Amelia tidak memakai sabuk pengamanan. Padahal itu sangat berbahaya jika sesuatu hal terjadi.
“Aku tidak mau! Tapi kalau ayank yang masangin boleh dong,” pinta Amelia dengan manja.
Verrel menggeleng-geleng pelan. Amelia selalu ada celah untuk bisa dekat dengannya. Namun Verrel tetap saja melakukan hal semudah itu untuk Amelia.
Saat Verrel berusaha meraih sabuk pengaman itu, Amelia dengan sengaja membusungkan dada agar menempel pada wajah Verrel.
Dari seberang nampak seseorang orang tengah memperhatikan pemandangan itu dengan menahan rasa sesak di dadanya.
“Verrel.”
__ADS_1
Bersambung...