
“Astaga! Tuan Verrel!”
“Wajah anda?” imbuh Dany lagi.
“Sial! Tolong ambilkan cermin untukku Dan! Cepat!” perintah Verrel sambil meraba-raba wajahnya sendiri.
“Baik Tuan!”
Dany segera masuk ke dalam kamar Verrel untuk mengambil cermin seperti apa yang di minta oleh atasannya itu. Dengan tergesa-gesa, Dany membawakan cermin itu untuk segera di serahkan kepada Verrel.
“Ini tuan cerminnya.”
Verrel pun menerima uluran cermin dari Dany, dan segera mengarahkan kepada area wajahnya yang di rasa agak aneh. Dan benar saja, sesuatu hal yang sempat Verrel lupakan terjadi.
“Wajahku? Tiidaaaak!!!!!” teriak Verrel membahana.
Setelah berteriak dengan cukup sangat keras, Verrel pun pingsan di tempat. Dengan segera Dany menelepon petugas kesehatan beserta ambulance untuk segera membawa Verrel ke rumah sakit.
Tak lama petugas kesehatan beserta ambulance pun datang dan segera mengusung Verrel menuju rumah sakit terdekat.
Di rumah sakit
Nampak seorang pria tampan tengah terbaring lemah dengan jarum infus menancap sempurna pada salah satu pergelangan tangannya.
Di sampingnya, duduklah seorang asisten yang dengan setia menanti sadarnya sang majikan. Karena kata dokter, tuannya hanya pingsan sesaat karena shock.
Tiba-tiba jari-jemari pria itu bergerak. Kelopak matanya mulai membuka dan menyesuaikan penglihatan retina dengan cahaya di sekitarnya yang nampak serba putih.
“Aku..aku ada di mana,” ucap Verrel lemah.
“Tuan Verrel sudah sadar, kita sekarang ada di rumah sakit tuan,” jelas Dany.
“Kenapa..aku..bisa ada di sini?” tanya Verrel lagi.
__ADS_1
“Karena tuan Verrel pingsan, akibat alergi anda terhadap seafood kambuh tuan.”
“Apa??!”
Seketika Verrel pun membulatkan matanya. Ia pun menatap seluruh pergelangan tangan serta ruas jarinya yang nampak membengkak. Dan Verrel pun baru mengingat jika ia pingsan sehabis melihat wajahnya dari cermin.
Kini Verrel meraba-raba bibirnya yang terasa sedikit menebal. Pantas saja, Verrel merasa kesulitan untuk berbicara. Seluruh wajahnya nampak membengkak bagaikan tersengat lebah. Bahkan untuk mengangkat kelopak matanya saja begitu sulit.
Verrel memang mempunyai riwayat alergi akan jenis makanan apa pun yang berbahan dasarkan makanan laut atau seafood. Apalagi barusan pria tampan itu sudah menelan habis sup kepiting panas yang sudah Dany belikan.
“Maaf tuan, sebelumnya saya sudah mengingatkan. Bahwa anda mempunyai riwayat alergi makanan seafood. Tapi anda....”
“Diam kau! Ini salahmu juga sudah tahu tapi masih menuruti inginku!” sanggah Verrel kesal.
“Habis tuan Verrel nampak aneh, tiba-tiba saja ingin makanan yang jelas-jelas harus anda hindari agar tidak terjadi hal seperti ini lagi,” tutur Dany lagi.
“Aku juga tidak tahu Dany, tiba-tiba saja indra penciumanku jadi sensitif. Bahkan tadi aku merasa ingin sekali makan makanan itu sampai aku lupa kalau aku punya alergi,” ucap Verrel menyesal.
“Ya sudah, lebih baik tuan Verrel sekarang istirahat saja agar cepat pulih.”
Selama proses penyembuhan di rumah sakit, Amelia kerap kali mengunjungi Verrel dengan membawa berbagai makanan kesukaan pria itu. Dan berbagai bingkisan buah-buahan segar serta bucket bunga. Namun setiap ada Amelia, Verrel selalu merasa mual-mual dan muntah hebat. Seolah Amelia adalah sesuatu hal yang menjijikan. Seperti pagi ini.
“Sayang! Apa kabarmu? Kamu kangen nggak sama aku? Aku kangen banget tahu nggak,” ucap Amelia tiba-tiba muncul dari balik pintu dan langsung lari ke pelukan Verrel yang habis sarapan bubur.
“Hmmp! Hmmp!”
“Sayang! Kenapa kamu hmmp! Hmmp begitu? Coba bicaralah tidak usah kamu tahan-tahan," ucap Amelia dengan nada sensualnya.
“Huueeekk! Huueeekk!”
“Huuuaaa! Verrel kenapa kamu begini lagi sama aku! Padahal aku sudah dandan cantik buatmu pagi ini! Hu..hu”
“Ma..af Amelia, tubuhmu bau sekali. Seperti perpaduan antara bau petai dengan jengkol,” ungkap Verrel sambil menutupi hidungnya.
__ADS_1
“What?! Kau menghinaku yank? Aku sudah mandi kembang 7 mata air. Sudah Berendam air sabun selama 12 jam. Dan luluran sampai kulitku kering kerontang. Apa itu tidak cukup? Bahkan minyak wangiku pun refill limited edition dari Paris!” ungkap Amelia menggebu-gebu.
“Beneran aku tidak bohong!! Lebih baik kamu keluar saja Mel, rasanya perutku seperti di aduk-aduk!” usir Verrel dengan halus, namun Amelia tidak terima.
“Aku tidak mau yank! Aku mau di sini terus temeni kamu. Pokoknya aku tidak mau titik!” rajuk Amelia sambil mendudukan diri di sofa empuk sebrang brankar Verrel.
Verrel pun nampak kewalahan meladeni Amelia yang bebal. Lalu ia pun memencet tombol darurat khusus asistennya. Dan tak lama, Dany pun datang. Melihat Amelia yang tengah merajuk, dan keadaan Verrel yang mual lagi. Dany cukup memahaminya.
“Nona Amelia, tolong keluar lah. Biarkan tuan Verrel istirahat sejenak. Keadaannya benar-benar kurang baik,” ungkap Dany berusaha memberi pengertian pada wanita sexy itu.
“Tidak mau! Siapa kau berani-beraninya menyuruhku! Aku tak peduli, aku akan tetap di sini menemani pacarku Verrel yang sakit!” keukeh Amelia.
“Baiklah, terserah anda. Tapi tuan Verrel akan muntah terus menerus jika nona bersikeras untuk ada di sini! Tidak mengapa, jika anda betah,” tegas Dany menakut-nakuti Amelia.
“Benarkah? Apa kita harus puasa bertemu dulu yank? Ah..tapi demi kebaikanmu akan ku tahan rasa rindu itu,” sahut Amelia yang percaya akan ucapan Dany.
Verrel pun memberi aba-aba untuk segera Dany mengusir Amelia. Karena ia sudah tidak tahan lagi untuk muntah.
“Hmmp! Hmmp!”
“Tuh kan apa kata saya barusan benar.”
“Eh..iya, baiklah aku akan segera pergi. Cepat sembuh ya yank. Dan jangan lupa di makan buahnya. Itu langsung ku petik sendiri dari pohon untukmu.”
“Hmmmp! Hmmp!”
“Cepat, nona sebelum tuan Verrel menyemburkan lagi cairannya.”
“Baiklah...baiklah..”
Lalu Amelia pun lari terbirit-birit keluar dari ruangan rawat Verrel. Sampainya di luar, Amelia nampak menggumam pelan.
“Brengsek! Apa yang sebenarnya terjadi dengan Verrel? Apa ini hanya akal-akalannya saja untuk menghindariku? Tidak akan pernah ku lepaskan dirimu lagi Verrel! Tidak akan pernah!”
__ADS_1
Bersambung...