
Seorang gadis nampak menyeka keringat yang mengucur deras di pelipisnya. Rasa lelah begitu menyergap seluruh tubuh, hingga tulang dalam tubuhnya serasa mau lepas.
Namun ia bersyukur, meski sempat mendapat musibah namun Tuhan segera menggantinya dengan cepat. Bahkan uang ganti rugi yang di berikan oleh si penabrak melebihi modal dan untung yang harusnya ia dapatkan.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Tuhan masih baik kepada hambamu ini. Meski tadi aku hampir saja ketahuan, syukurlah tidak jadi ketahuan,” gumamnya seorang diri.
Lalu nampak ia memasuki sebuah bangunan bercat putih yang mulai menguning. Atap-atap langit yang bolong seolah menjadi pemandangan biasa untuknya. Melihat deretan tikus yang kadang mengintipnya dari atap yang bolong menjadi hiburan tersendiri. Meski kadang ia harus berbagi makanan dengan hewan pengerat itu.
Sebelum memasuki bilik sederhana miliknya, gadis itu pergi menimba air untuk membasuh tangan serta kaki lalu mengganti bajunya yang basah dengan baju yang baru.
Ia memutuskan langsung beristirahat karena semenjak beberapa hari yang lalu mendadak kepalanya pusing setiap ia berada di bawah sinar matahari. Padahal semenjak kecil ia tidak pernah sakit apa pun.
Karena pusing itulah, sampai ia tidak melihat di depannya ada seseorang yang sama-sama tak melihatnya. Beruntung orang itu tidak marah kepadanya. Dan bersedia mengganti rugi jualannya yang terjatuh. Meski ia sempat shock karena takut ketahuan.
Sambil berbaring menatap atap-atap platpon yang bolong, gadis itu masih mengingat dengan benar pertemuan terakhirnya bersama pria yang akhir-akhir menyita hati dan fikirannya.
“Aku harus berhati-hati mulai hari ini, agar tidak bertemu kembali dengan Verrel. Karena kamu bukanlah jodohku Rel,” gumam gadis itu sambil menyeka air mata yang tiba-tiba mengucur begitu saja.
Entah semenjak kapan, ia memiliki rasa itu. Rasa yang tidak akan pernah tersampaikan karena ia tahu bagaimana isi hati si pria. Ia hanya bisa berharap, waktu bisa menghapus cinta dan perasaannya yang datang seiring berjalannya waktu itu.
__ADS_1
*
*
Kini Verrel berada dalam mansion keluarganya. Setelah kepergian Viana, kesehatan mental Mama Venna mulai terganggu. Perempuan paruh baya itu suka mengamuk jika Verrel tidak membelikan gorengan serta kue pasar yang biasa ia beli di pasar.
“Dany, tolong cari tahu siapa yang bikin gorengan dan kue-kue itu! Kenapa mama hanya ingin makan makanan itu saja, tapi tidak dari tempat lain! Cepat cari tahu Dan! Aku ingin memperkerjakan dia saja sekalian,” titah Verrel dengan tegas.
Verrel sudah pusing mencari makanan yang di minta mamanya. Karena terkesan aneh, mamanya hanya ingin makanan yang biasa wanita itu makan. Bahkan tidak ingin makanan lain meski bentuknya sama, namun Mama Venna bisa mengenali rasanya.
“Baik tuan Verrel.”
Verrel pun menyugar surainya yang hampir panjang ke belakang. Jauh di lubuk hati pria tampan itu, masih kefikiran tentang Viana. Viana yang pergi meninggalkan dirinya tanpa pesan. Salahkan saja dirinya yang selalu menyia-nyiakan gadis itu semasa masih hidup bersamanya.
Rasanya, selepas kepergian Viana. Kehidupan Verrel terasa hampa. Tidak ada lagi yang mengomeli atau mengedumel jika sesuatu tidak sesuai harapan gadis itu.
Verrel juga mengingat bagaimana kejadian malam itu. Malam dimana ia merenggut mahkota seorang gadis. Namun malam itu pula, gadis itu menghilang bak di telan oleh cakrawala.
Kini Verrel bagaikan tungku tanpa api yang biasa memanaskan perasaannya. Bagai langit tanpa pelangi yang mewarnai hari-harinya.
__ADS_1
“Viana, dimana sekarang kamu berada?” gumam Verrel lirih.
Di tempat lain
Dany nampak menelusuri sejumlah tempat yang di tunjuk oleh Verrel. Tempat yang biasa majikannya itu membeli beberapa makanan atau jajanan pasar untuk nyonya besarnya.
“Fyuh! Kenapa susah sekali mencari orang itu? Mana aku harus mencicipi makanan mereka satu persatu. Mana perutku sudah terlalu kenyang, lebih baik aku bawa mereka semua saja,” keluh Dany sambil menyeka keringat yang membanjiri pelipisnya.
Tugas dari Verrel untuk mencari Viana saja belum usai, kini ia harus mencari seorang pembuat kue dan bermodalkan dari rasa kue yang pernah di beli tuannya. Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sungguh sulit sekali.
Sedangkan di pasar banyak sekali penjual kue dan gorengan yang menjajakan makanan mereka. Dany sudah mulai kelelahan dan berniat untuk pulang dan segera memberi laporan. Yang penting ia sudah mengantongi informasi dari penjual kue tersebut.
Namun saat hendak beranjak pergi, tanpa sengaja Dany menyenggol bahu seseorang.
Bugh!
“Akh!”
“Maaf..maaf..maaf! Apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang ter.....”
__ADS_1
Ucapan Dany mengambang di udara saat manik matanya berhasil menangkap raut wajah cantik seorang gadis. Gadis itu nampak meringis tertahan, karena bahunya habis bersitubruk dengan tubuh tegap Dany.
Kira-kira siapakah gadis itu ya? Boleh lah koment biar otornya makin semngat up..🤭