
Byyuuurr!!
Viana pun langsung menyemprotkan susu yang baru saja ia teguk. Membuat pakaian bagian depannya basah terkena air susu yang ia semburkan sendiri.
“Sayang, hati-hati dong minumnya,” tegur Mama Venna sambil membantu Viana membersihkan pakaiannya yang basah dengan tisue.
“Tadi mama bilang apa? Susu penyubur rahim?” ulang Viana lagi dengan wajah cengonya.
“Iya sayang, memangnya kenapa? Bukankah itu bagus untuk kalian sebagai pasangan pengantin baru? Itu rekomendasi dari teman-teman mama loh,” tutur Mama Venna yang mempunyai genk wanita sosialita.
“Ayo, di minum lagi. Sekalian habisin susunya biar rahimmu subur dan siap di buahi nantinya sayang,” seru Mama Venna dengan frontal.
“Hah? Di buahi ?”
Viana yang memang masih orisinil belum pernah pacaran apalagi melakukan kegiatan pacaran apalagi pra nikah hanya bisa terbengong-bengong ria.
Maklumlah Viana Sekolah Menengah Pertama saja tidak tamat. Hanya sampai kelas delapan saja, sedangkan sistem reproduksi dan perkembang biakan manusia itu di pelajari saat masuk Sekolah Menengah Atas. Tentu saja Viana belum paham, yang gadis itu tahu hanya mikroba dan kuman saja.
“Iya, di buahi masa kamu tidak tahu Viana? Itu lo sel telur yang sudah matang terus di buahi sama sper.....” ucapan Mama Venna langsung di potong oleh Verrel. Yang mulai merasa penjelasan mamanya macam guru sedang mengajar di depan kelas. Sambil memperagakan menggunakan kedua tangannya.
“Maa, sudah ya. Nanti biar Verrel jelaskan sendiri kepada Viana. Kalau perlu nanti Verrel yang ngajarin terus praktik langsung,” potong Verrel.
“Harus itu! Haduh...Viana kamu kok polos banget sih mama jadi gemes deh. Kamu nemu dimana sih dia Verrel! Kenapa tidak di kenalin sama mama sedari dulu?” tanya Mama Venna sambil memandang gemas ke arah Viana.
Sedangkan Viana hanya tersenyum malu-malu. Meski pun ia tak mengerti arah pembicaraan mertua serta suami kontranya sedari awal. Namun gadis itu tetap tersenyum.
Mana mungkin aku bilang kepada mama kalau gadis ini yang sudah menjambretku tempo hari? Sudah pasti mama akan menentang hubungan ini. Apalagi sampai mama mengetahui latar belakang Viana sebenarnya?
“Verrel kenapa kamu diam saja?”
“Ahh..sudah ma, lebih baik kita makan. Tidak baik membicarakan hal-hal begituan.” final Verrel.
__ADS_1
“Ah..iya, makanlah yang banyak. Mama khusus hari ini memasak untuk kalian. Ayo tambah lagi sayang.”
“Iya ma,” jawab Viana dan Verrel bersamaan dan langsung membuat keduanya saling melempar pandang.
*
*
Siang harinya Viana dan Verrel tengah duduk bersantai menikmati hari libur yang Verrel ambil sebagai cuti pernikahan selama seminggu.
Verrel tengah membaca surat kabar tentang perkembangan bisnis terupdate. Sedangkan Viana membuka katalog tas terbaru.
“Pak Verrel,” panggil Viana lirih.
Verrel pun membuka kacamata lalu menatap kearah Viana dengan tajam.
“Apa?” tanya Verrel datar.
“Lalu Viana harus panggil apa?? Honey, sweety, Bee, ayank, cayank, cinta, lovely, aa, bambang apa mas?”
Panggilan untuk Verrel yang terakhir Viana ucapankan sukses membuat hati Verrel bergetar.
Masa di panggil mas hatiku jadi nggak karuan gini sih? Ini mustahil, padahal itu hanya panggilan orang kampung saja.
“Hello, bapak..eh..siapa mas?”
“Nah, itu juga boleh,” sahut Verrel cepat.
Verrel pun berusaha mengabaikan celoteh Viana yang tidak ada hentinya. Dengan fokus membaca surat kabar yang ia genggam. Lalu mengambil secangkir gelas berisikan Vanilla latte dengan cream di atasnya.
“Pak Verrel, ngomong-ngomong pembuahan itu apa ya? Soalnya saya baru.....”
__ADS_1
Byuuurr!
Verrel otomatis menyemburkan vanilla latte yang sempat ia minum ke arah Viana. Sudah pasti membasahi baju gadis itu dari depan.
“Haduh, bapak memang saya ini kesurupan pake di sembur-sembur segala! Jadi basah deh,” omel Viana seraya mencari tisu untuk mengelapnya.
“Maaf..maaf, habis pertanyaanmu aneh sih. Sini biar aku bantuin ngelap,” Verrel pun beralih mengelap pakaian Viana yang basah menggunakan sapu tangan miliknya.
Verrel pun tetap fokus mengelap pakaian Viana yang basah dari depan, namun tanpa sadar Verrel menyentuh bagian yang menonjol milik gadis itu.
Deg!
“Ih..pak Verrel modus ya, sini biar Viana sendiri yang ngelap!” sentak Viana sambil merebut sapu tangan dari genggaman Verrel.
“Ah! ini.”
Entah karena apa, tiba-tiba saja wajah Verrel nampak merona malu.
“Lalu mengenai pertanyaanku tadi gimana pak Verrel? Apa itu pembuahan dan bagaimana caranya? Biar saya mengerti jika nyonya mengajak ngobrol saya,” Tanya polos Viana.
Astaga segitu polosnya kah gadis ini? Padahal penampilan luarnya seperti gadis kecentilan. Ku kira Suhu ternyata Cupu....
“Pembuahan itu dimana sel kelamin jantan bertemu dengan sel telur wa...aish! Kenapa kamu tanya begitu? Memang kamu lupa? Itu kan dia ajarkan di kelas sepuluh,” cerca Verrel kesal.
“Mau masuk kelas sepuluh gimana, Viana kan cuma nyampek kelas 8 saja pak. Ayah tidak punya uang waktu itu, terus Viana kerja aja deh jadi jambret,” tutur Viana menjelaskan.
“Oh.”
Verrel pun menatap prihatin kearah Viana yang seketika menunduk saat ia singgung perihal pendidikan. Viana pun memilih terdiam dan malu untuk bertanya lagi karena nyatanya ia memang gadis yang minim pendidikan.
Bersambung..
__ADS_1