
Dua bulan kemudian....
Kini Viana sudah terbiasa dengan aktivitas sebagai istri palsu Verrel. Meski hanya pura-pura, namun Viana menjalani perannya dengan sangat baik. Sampai tidak ada satu orang pun yang tahu termasuk Mama Venna, bahwa pernikahan mereka hanyalah pernikahan kontrak semata.
“Ini ku berikan blackcard untukmu, ini nafkah untukmu tapi gajimu aku potong untuk melunasi pinjamanmu sebesar dua ratus juta,” tekan Verrel kearah Viana.
Viana pun memasang wajah sebalnya. Kenapa pria itu terus saja mengungkit masalah uang yang ia pinjam. Padahal Viana berencana akan mencicilnya menggunakan gaji yang sudah Verrel berikan nanti.
Namun Viana tetap menerima pemberian nafkah dari Verrel itu.
Lumayan, lebih baik ku gunakan dengan sebaik mungkin. Ini rezeki Viana jangan di tolak, hehee.
Guman Viana dalam hati. Meski hatinya tengah terlonjak kegirangan. Namun Viana malah memasang wajah masam ke arah Verrel.
“Kenapa? Tidak mau?” Verrel pun menarik kembali blackcard miliknya dari genggaman Viana.
“Hei! Saya tidak bilang seperti itu, kembalikan!”
“Kau fikir ini punyamu? Ambil saja kalau bisa, wlee..” Verrel pun menggoda Viana untuk mencoba mengambil blackcard miliknya.
Dasar Verrel peritungan, enak saja dia memotong gajiku sesuka hatinya. Ini tidak bisa di biarkan, aku harus bisa mendapatkan blackcard itu. Aku tak ingin usahaku sia-sia, karena aku berencana ingin membelanjakan anak-anak pakaian...
Viana pun mulai melompat-lompat untuk meraih blackcard yang di genggam oleh Verrel. Karena perbedaan tinggi mereka yang tak sama, yaitu Verrel jauh lebih tinggi dari Viana. Membuat Viana merasa kesulitan untuk mengambil kartu sakti itu dari genggaman Verrel.
Sedangkan Verrel merasa senang dan terhibur bisa menggoda Viana seperti ini. Entah bagaimana mulanya, menggoda Viana menjadi hoby barunya akhir-akhir ini. Verrel mulai terbiasa dan nyaman dengan kehadiran Viana di dekatnya.
Viana yang melihat Verrel menertawainya pun menatap garang kearah pria tampan itu. Tidak habis akal, Viana pun memikirkan berbagai cara agar ia bisa mengambil kartu sakti itu dari genggaman tangan Verrel.
Aha !💡
Sebuah ide brilian muncul tiba-tiba di otak pas-pasan Viana. Viana pun tersenyum menyeringai sambil menatap penuh minat kearah Verrel. Seperti singa yang hendak menerkam mangsanya, Viana pun mengambil jarak dari Verrel dan bersiap melakukan apa yang sudah ia fikirkan sebelumnya.
Melihat tingkah aneh Viana, Verrel pun memasang tanda waspada.
“Hei! Apa yang ingin kamu lakukan? Kamu kesurupan ya?” tanya Verrel yang mulai panik akan perubahan sikap Viana.
__ADS_1
Verrel pun berjalan mundur ke belakang, saat menyadari langkah Viana semakin mendekat kearahnya. Apalagi gadis itu memasang wajah penuh seringai, sambil menjilati bibir gadis itu sendiri.
Membuat Verrel meneguk ludah beberapa kali, jika mengingat ciuman tak sengaja mereka beberapa waktu lalu.
Viana pun mengatur nafasnya untuk bersiap memulai aksinya. Hingga dalam hati gadis itu menghitung satu sampai tiga, dan setelah hitungan ketiga Viana melakukan sesuatu hal gila yang sukses membuat Verrel tercengang di tempat.
*One...
Two*...
“Tree ! Hiaaaak!” Viana pun berlari kearah Verrel dan melompat ke dalam tubuh pria tampan itu. Verrel yang tak menyangka akan mendapat serangan Viana pun hanya bisa menerima kehadiran Viana yang tiba-tiba melompat ke arah tubuhnya memeluk erat.
Karena tidak ada persiapan apa pun membuat beban tubuh Verrel tidak seimbang. Akhirnya kedua pasangan suami dan istri palsu itu pun jatuh untuk kedua kalinya.
Bruugh!
Dalam benak Verrel, pasti mereka akan mengulangi ciuman tak sengaja mereka beberapa waktu lalu. Namun berbeda dengan Viana, gadis itu sudah memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Jadi saat mereka terjatuh, Viana sudag bersiap menggunakan telapak tangannya sebagai pembatas antara wajahnya dan juga wajah Verrel.
Verrel yang mengira tangan Viana adalah wajah gadis itu. Membuat pria tampan itu hanya bisa memejamkan kedua matanya. Bahkan wajah Verrel sampai merona kemerahan. Namun sebuah celotehan, langsung memaksanya untuk membuka mata.
“Kena kau! Ciee...ngarep saya cium ya pak Verrel!” goda Viana balik.
Verrel pun langsung melototkan kedua matanya saat menyadari, ternyata ia telah berhasil di kelabuhi oleh istri kontraknya.
“Dasar gadis nakal!” umpat Verrel.
Verrel pun bangun dari pembaringannya. Lalu membenarkan jas serta dasinya yang sedikit kumal karena ulah Viana.
Sedangkan Viana hanya tertawa sambil menyengir jika mengingat aksinya yang berhasil mengelabuhi Verrel.
“Pak Verrel, hari ini saya ijin untuk menengok adik-adik saya di panti. Apakah pak Verrel mengijinkan saya pergi?” mohon Viana meminta ijin.
“Pergilah, tapi kau harus ingat dengan tugasmu. Sebelum aku pulang, kau harus sudah ada di apartemen ini. Mengerti?”
__ADS_1
“Siap pak! Terima kasih.”
Viana pun terlonjak kegirangan karena terlalu senang tanpa Viana sadari ia sudah menghadiahi Verrel sebuah ciuman di pipi pria itu.
Cup!
Setelah melakukannya, Viana baru menyadari sikap konyolnya. Reflek ia membungkam bibir lancangnya yang sudah mencium Verrel tanpa ijin. Dan sedetik kemudian, gadis itu mengambil langkah seribu pergi meninggalkan Verrel yang masih mematung.
Verrel yang masih mematung di tempat. Bahkan ia tidak menyadari Viana sudah kabur lebih dulu meninggalkan dirinya.
“Dasar gadis nakal!” gumam Verrel untuk Viana yang ternyata sudah meninggalkannya.
Verrel pun tersenyum sambil mengelus pipinya yang sudah mendapat kecupan singkat dari Viana. Entah semenjak bertemu Viana, hidup Verrel berubah menjadi lebih berwarna. Banyak kejutan yang gadis itu berikan dalam hidupnya. Membuat Verrel sedikit bisa melupakan mantan kekasihnya yaitu Emilia.
Di dalam kantor Verrel terus tersenyum tidak jelas membayangkan hari-hari yang telah ia lalui bersama Viana adalah hal yang pertama baginya.
Dari mulai gadis itu menyalakan pencuci pakaian hingga airnya tumpah kemana-mana, mengerjai gadis itu dengan menumbalkannya kepada sang mama, dan juga seperti yang terjadi pagi tadi. Verrel tak menyangka membayangkannya saja membuat hatinya merasa senang bukan main.
Tiba-tiba pintu pun di ketuk oleh seseorang dari luar.
“Masuk!”
Ternyata orang itu adalah Dany sang asisten Verrel yang datang dengan wajah khawatirnya.
“Maaf pak Verrel, saya mengganggu waktu bapak sebentar. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan pak Verrel.”
“Siapa? Katakan hari ini aku tidak ingin di ganggu!” tegas Verrel.
Menurut jadwal, hari ini Verrel tidak memiliki jadwal bertemu dengan siapa pun. Jika itu Viana tidak mungkin, gadis itu tidak begitu memiliki nyali di hadapan anak buahnya di kantor.
“Tapi pak Verrel, anu....”
“Astaga! Sepertinya kamu ketularan virusnya Viana Dany kenapa gaya bicaramu anu-anu begitu?! Anumu kenapa?” sentak Verrel yang memang kesal jika berhadapan dengan orang yang bicaranya terus berputar-putar.
Belum sempat Dany menjawab pertanyaan Verrel, tiba-tiba seseorang masuk dengan menyerobot tubuh Dany hingga pemuda itu hampir terjatuh.
__ADS_1
“Verrel.”
Bersambung...