
Usai saling berpelukan, lalu Viana pun berusaha menghibur ke empat adik-adik asuhnya itu dengan mengajak mereka ke mall untuk belanja dan bermain timezone dengan blackcard yang sudah tadi pagi Verrel berikan.
Dengan sangat bahagia mereka pun beranjak bersama-sama menuju sebuah mall besar yang berdiri kokoh tak jauh dari pemukimannya.
Tino, Aisyah serta Rosy dan Roby pun menatap dengan binar kekaguman yanh tidak mampu mereka ucapakan. Dari tatapan mereka saja sudah bisa di tebak. Bahwa ini kali pertama mereka menginjakkan kaki di sebuah bangunan mewah seperti pusat pembelanjaan itu.
“Anak-anak, kalian ingin apa? Kita makan, belanja atau main timezone dulu?” tanya Viana sambil mengabsen satu persatu sejumlah daftar yang sudah ia susun dari apartemen Verrel.
Viana berencana membuat mereka senang, dengan mengajak adik-adik asuhnya bermain di tempat mahal itu. Pernah Viana sekali datang ke tempat itu saat dirinya merasa gabut, sekalian beraksi sebagai tukang jambret sebagai pekerjaannya terdahulu.
Kini Viana bersyukur bisa mengajak adik-adiknya bermain di tempat itu. Meski salah satu dari kelima adiknya tidak ada, jujur Viana sendiri sangat teramat sedih karena merasa kehilangan Willy. Namun Viana berusaha bersikap seceria mungkin di hadapan mereka. Karena mereka membuat bahagia, adalah jalan ninja Viana.
“Kak Via, timezone itu apa?” tanya Rosy polos.
“Timezone itu tempat bermain sayang, kalian mau bermain kan? Nanti kakak ajarin kalian. Hari ini kalian bisa main sepuasnya, Bagaimana? Apakah kalian mau?” balas Viana seraya bertanya balik.
“Maauuuuu!” jawab serentak ke empat adik asuh Viana.
“Ya sudah, lebih baik kita makan dulu ya. Biar tenaganya full tank jadi nanti kita bisa bermain sepuasnya..yeyy..Lest go!” ajak Viana dengan semangat.
Ke empat adik Viana pun tak kalah semangatnya, mereka pun tersenyum lebar, saling bersenda gurau bersama membicarakan kepolosan mereka yang baru saja menginjak pusat pembelanjaan itu.
Berbagai hidangan pun tersaji di atas meja makan yang agak besar itu. Semua adik-adik asuhnya menatap ke binar penuh nafsu melihat penampilan makanan yang menggiurkan.
Tak butuh menunggu waktu lama, mereka pun langsung menyantap semua makanan yang sudah terhidang itu bersamaan.
Viana sangat-sangat bahagia, akhirnya keinginannya untuk menyenangkan adik-adiknya pun terwujud. Kini senyum merekah terbit di antara bibir mereka yang sibuk menguyah makanan.
Setelah acara makan selesai, Viana memutuskan untuk mengajak ke empat adik asuhnya bermain timezone. Setelah mereka tahu permainan apa yang ingin mereka mainkan. Viana pun membiarkan ke empat adik asuhnya mengeksplor wahana permainan itu sendiri.
__ADS_1
Viana pun memilih duduk di tempat tunggu yang sudah di sedia kan. Sambil memperhatikan satu persatu permainan mereka.
Dalam hati gadis cantik beraliskan sedikit tebal itu tengah merasa sedih. Karena tak mampu bertemu Willy kembali. Padahal ia bekerja kepada Verrel itu juga demi Willy. Namun pria kecil itu malah meninggalkannya tanpa pesan.
Namun tidak ada yang perlu di salahkan, karena semua sudah berjalan sebagai mestinya. Dan kini Viana harus tetap menjalankan perannya sebagai istri kontrak daripada Verrel bujang lapuk yang tak kunjung menikah karena masih bucin terhadap masa lalunya. Sebagai ganti uang yang sudah ia pinjam dari Verrel untuk biaya operasi Willy beberapa waktu lalu.
*
*
Hari pun mulai sore, mentari tak sepanas di saat siang air. Rasa lelah sementara menyergap tubuh-tubuh kecil yang begitu antusias melakukan kegiatan yang baru saja mereka rasakan.
Usai mengajak mereka bermain timezone, Viana pun mengajak adik-adik asuhnya itu berbelanja baju pakaian dan peralatan sekolah karena kini mereka sudah mulai bersekolah. Tak lupa beberapa bingkisan untuk anak-anak panti yang lain sebagai oleh-oleh jika nanti mereka sampai rumah.
“Bagaimana? Apa kalian bahagia hari ini?”
“Kami bahagia sekali kak Via, ini pengalaman pertama bagi kami. Jadi kami akan selalu mengingatnya!” seru Roby yang kedua tangannya di penuh oleh 2 cup es krim.
“Siap captain!” jawab ke empat adik asuh Viana serentak.
Viana pun tersenyum, lalu ia pun mengacak rambut Roby yang di potong ala batok. Membuat Viana merasa gemas sekali.
Tak lama, mobil darling yang Viana tumpang bersama adik-adiknya pun berhenti di depan rumah panti asuhan. Mereka pun turun di iringi Viana paling belakang sambil mengabsen satu persatu barang bawaan mereka tadi.
“Aisyah, Tino maaf ya. Kak Via tidak biss menginap di panti untuk menemani kalian karena kak Verrel sebentar lagi akan pulang. Tapi nanti kak Via usahakan untuk meminta ijin kepada kak Verrel. Karena kak Via merasa rindu tidur bersama kalian seperti ikan asin yang di jemur kering,” ucap Viana sambil terkekeh.
Jika mengingat kembali, Viana selalu merasa rindu. Tidur hanya beralaskan tikar yang terbuat dari daun pandan, dan mereka pun berjejer tidur bagaikan ikan yang tengah di jemur. Sungguh Viana merindukan moment itu.
“Kami juga rindu kak, tapi kewajiban kak Via kepada kak Verrel itu lebih penting,” sahut Aisyah yang selalu mempunyai ungkapan dewasa yang sukses menyentil hati siapa pun yang mendengarkan.
__ADS_1
“Ahh, adik kakak kenapa kalian cepat sekali dewasanya. Rasanya baru kemarin kalian kakak ajarin main masak-masakan. Kak Via sayang kalian.”
Viana pun memeluk ke empat adik asuhnya dengan erat. Rasa sayang Viana kepada mereka jauh lebih besar di bandingkan rasa sayang Viana pada dirinya sendiri. Ia rela menjadi jambret demi menghidupi mereka berlima.
“Ya sudah, kakak pulang dulu ya. Jaga diri kalian baik-baik, ingat jangan menyusahkan ibu panti ya. Turuti apa yang beliau ucapkan, mengerti?”
“Mengerti kak Via!” jawab mereka sentak.
“Bagus! Kak Via pulang dulu, byee!”
Viana pun berlalu sambil melambaikan tangannya kearah adik asuh, dan juga anak panti yang lainnya. Kini beban hati Viana sudah satu persatu terangkat. Ia pun bergegas untuk pulang ke apartemen karena hari sudah menunjukkan pukul setengah lima. Yang artinya setengah jam lagi Verrel akan pulang.
Via berniat memasak suatu untuk Verrel. Gadis itu pun berbelanja beberapa kebutuhan pokok serta lauk pauknya untuk stok makanan dalam lemari pendingin.
Namun sampainya di pintu gerbang apartemen, betapa terkejutnya hati Viana melihat mobil Verrel sudah bertengger manis di lantai basemant. Akhirnya Viana pun memanggil mang Rojali untuk memastikannya.
“Aa Rojali! Pak Verrel sudah pulang ya?”
“Eh..nyonya Viana, iya pak Verrel sudah kembali dari kantor nyonya.Tapi....”
“Oke! Terima kasih ya aa Rojali!”
Belum sempat Rojali menjelaskannya, Viana sudah lebih dulu bergegas pergi. Sedangkan Rojali merasa menyesal kemarin sempat menggoda Viana yangbia kira seorang pembantu muda baru. Ternyata malah istri dari pemilik apartemen yang ia jaga.
“Duh, nyonya kenapa manggilnya musti Aa. Bagaimana kalau pak Verrel tahu, bisa-bisa di jadiin combro nanti. Mati aing!” gerutu Rojali pelan.
Viana pun berjalan dengan berlari menuju pintu apartemen Verrel. Berbekal keycard yang ia bawa, membuat ia dengan mudah masuk ke dalam apartemen Verrel.
“Pak Verrel, Viana pulangg!!” seru Viana dengan wajah tanpa dosanya.
__ADS_1
Namun sedetik kemudian senyum ceria gadis itu luntur seketika, melihat pemandangan tak biasa yang ada di hadapannya.
Bersambung...