Jambret Cantik

Jambret Cantik
Hampir Melukai


__ADS_3

“Aku pulang!” teriak Verrel begitu pemuda itu membuka pintu apartemennya. Baik Viana mau pun Verrel memiliki keycard apartemen masing-masing, jadi hanya mereka berdua yang bisa bebas keluar masuk apartemen pria tersebut.


Dengan wajah tanpa dosanya, Verrel berjalan menuju standing hanger. Lalu menyampirkan jas yang usai ia gunakan pada stand tersebut. Membuka kancing lengan kemejanya, lalu menggulung hingga ke siku.


Verrel masih dengan wajah tanpa dosanya, tersenyum penuh arti sambil melangkah secara perlahan menghampiri Viana yang tengah sibuk membuat sesuatu di dapur.


“Ekhem!”


Viana pun bergeming tak memperdulikan keberadaan Verrel yang kini mulai duduk di kursi meja makan.


“Ekhem! Lagi masak?” tegur Verrel lagi.


Lagi-lagi Viana bergeming tak menyahuti sapaan Verrel. Gadis itu terlihat tengah menuangkan nasi goreng buatannya di atas piring, lalu membubuhkan sedikit di acar setelah itu langsung tanpa permisi pergi meninggalkan Verrel yang masih membeo di tempat.


“What? Dia mengabaikanku? Cckk..Apa dia masih marah karena ciuman tadi di restauran?”


Verrel pun bermonolog sendiri sambil menerka-nerka arti diamnya Viana. Namun tak lama, gadis itu kembali keluar dari kamarnya untuk mengambil setoples kerupuk untuk teman makan nasi goreng yang ia buat. Verrel yang melihatnya merasa tidak tahan karena di abaikan terus menerus oleh Viana, lalu ia mencoba menghentikan langkah gadis itu.


“Hei! Jatah buatku mana?” tanya Verrel seraya mencekal pergelangan tangan Viana.


“Bikin saja sendiri! Ih..lepasin!” ketus Viana dengan sengit.


“Kamu kenapa? Kamu masih marah gara-gara tadi?” tanya Verrel yang kekeuh mempertahankan cekalan tangannya.


“Pikir aja sendiri! Udah ih, lepasin sakit!” sentak Viana yang semakin kesal.

__ADS_1


“Kamu nggak bisa acuhin aku gitu saja Viana! Ingat kamu itu istri aku! Sudah menjadi kewajibanmu untuk melayaniku! Masa gara-gara ciuman saja kamu marah?”


Viana pun menghentakkan cekalan lengannya dari tangan Verrel. Lalu menatap pria itu dengan tajam.


“Aku memang istrimu! Tapi hanya istri kontrak jika kamu lupa pak Verrel terhormat! Dan jangan samakan aku dengan Amelia pacarmu yang bebas kamu cumbu kapan pun, di mana pun dengan sesuka hatimu! Aku bukan wanita murahan yang bisa mengimbangi gaya hidup bebasmu! ” tekan Viana dengan aura permusuhan yang begitu kental.


Viana ingin tunjukkan kepada Verrel, bahwa ia bukan perempuan yang mudah di jamah oleh pria mana pun. Meski itu Verrel sekali pun, karena Verrel hanya suami kontraknya tidak lebih.


Mendengar penjelasan Viana membuat rahang Verrel mengeras. Secara tidak langsung Viana mengatainya sebagai penjahat wanita yang bebas mencumbu wanita mana pun, dan mengatakan bahwa Amelia itu adalah wanita murahannya. Padahal Verrel hanya melakukannya kepada yang mana menurut hatinya pilih. Verrel merasa tak terima atas tuduhan tak mendasar dari bibir mungil Viana.


Bahkan dengan Amelia saja, sekarang ia jarang melakukan kontak fisik tak lebih dari cipika cipiki. Entah karena apa, seolah ia tak ingin melakukannya lagi bersama Amelia.


Meski wanita itu sering menawarkan kenikmatan dunia yang belum pernah ia cicipi sekali pun. Dalam hatinya ingin, namun akal sehatnya masih bekerja dengan baik.


Verrel masih memikirkan Mama Venna, bagaimana jadinya jika ia harus memiliki anak di luar nikah? Di saat dirinya sudah beristri, pasti orang-orang akan menyalahkannya sebagai tukang selingkuh. Dan itu dapat berimbas ke saham perusahaannya yang saat ini sedang naik daun.


Tangan Verrel pun nampak terangkat siap melayangkan sebuah tamparan ke arah Viana, namun Verrel masih sadar. Dan tindakan itu tidak di benarkan. Dengan cepat Verrel menarik tangannya kembali.


“Ma...maafkan aku,” ucap Verrel penuh sesal.


Akibat tindakannya yang hampir saja melakukan kekerasan kepada Viana, membuat gadis itu merasakan ketakutan hingga meringsut mundur. Air mata Viana pun sudah menganak sungai, tatapan gadis itu penuh rasa kecewa kearah Verrel.


Tanpa menyahuti permintaan maaf Verrel, Viana berlari masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu kamar dengan keras lalu menguncinya. Viana jatuh lunglai di balik pintu, air matanya kembali mengalir semakin deras. Viana masih shock atas tindakan Verrel yang hampir saja melukainya.


Sedangkan di luar kamar, Verrel nampak meraup air mukanya gusar. Verrel baru menyadari hampir saja melakukan kesalahan kepada Viana. Verrel pun menyesal. Pria tampan itu terlalu munafik untuk mengakui, bahwa ia juga menginginkan Viana dan Amelia secara bersamaan.

__ADS_1


Bukankah ia serakah? Bahkan ia berani mencium gadis itu tanpa ijin? Itu sama dengan pelecehan. Verrel menyugar rambut pendeknya untuk menjernihkan fikiran.


*


*


Keesok paginya, Amelia datang pagi-pagi dengan membawa 2 kotak dus makanan untuk sarapan berdua bersama Verrel.


“Pagi sayaang!! Muaach.”


Seperti biasa Verrel menyambut Amelia dengan ciuman ringan di kedua sisi wajah perempuan itu sambil tersenyum.


“Pagi juga.”


“Nih aku bawain menu sarapan rendah karbo untukmu. Ini sehat loh, nggak bikin kolesterol,” cerocos Amelia sambil mempromosikan menu sehatnya.


“Terima kasih, yuk masuk. Tapi aku makannya nanti setelah mandi saja ya,” ucap Verrel sambil mengalungkan sebuah piyama handuk yang baru ia ambil dari lemari.


“Iya, jangan lama-lama ya beb..”


Verrel pun hanya tersenyum lalu melenggang pergi melewati pintu kamar Viana. Verrel berhenti sejenak sambil menatap kearah pintu kamar Viana, yang masih tertutup rapat semenjak semalam terakhir kali mereka bertemu. Sepertinya gadis itu masih marah, Verrel akan menunggu hingga tenang dahulu untuk meminta maaf kembali. Lalu ia pun pergi mandi.


Di saat Verrel sedang mandi, terdengar ponsel milik Amelia berbunyi. Melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya, membuat Amelia celingak celinguk ke sekitar lalu menepi ke arah balkon apartemen Verrel.


“Halo... Rexi.”

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2