Jambret Cantik

Jambret Cantik
Menghilang


__ADS_3

Terhitung sudah sebulan lamanya Viana hilang bak di telan oleh bumi. Tidak ada yang tahu keberadaannya di mana pun. Bahkan asisten Verrel Dany sudah mencarinya bolak balik ke panti asuhan dimana adik-adik asuh gadis itu tinggal.


Namun sama tidak ada yang tahu. Bahkan adik-adik asuh Viana enggan bertemu Verrel karena merasa kecewa kepadanya yang tidak bisa menjaga kakak mereka dengan baik.


Di samping itu juga Mama Venna juga melakukan hal yang sama sedang merajuk kepadanya. Bahkan wanita yang terbiasa tampil dengan modis dan anggun itu kini enggan berbuat apa-apa. Wanita itu kekeuh minta Verrel segera untuk menemukan Viana. Namun terhitung sudah sebulan lebih Verrel tak menemukan jejak gadis itu dimana pun.


“Sayang, sayang ih kamu sekarang gitu ya. Kenapa kamu melamun? Gara-gara mikirin gadis jambret itu lagi ya? Kenapa sih udah biarin aja!” sungut Amelia setengah merajuk.


“Tapi Mel...Mama Venna menginginkan Viana kembali.”


“Mama Venna...Mama Venna lagi! Selalu saja mamamu yang kamu fikirkan Rel. Kamu nggak pernah mikirin perasaanku tahu nggak, Tega kamu ya!”


Amelia semakin bersikap merajuk agar Verrel bersimpati kepadanya. Tak lupa wanita itu juga meneteskan air matanya agar Verrel semakin percaya bahwa hatinya juga ikut terluka akan sikap pria itu.


Verrel semakin bingung akan perasaannya sendiri, di satu sisi ia merasa jahat karena akhir-akhir ini sering mengabaikan kekasihnya Amelia. Namun ia juga tidak bisa mengabaikan keinginan mamanya begitu saja.


Verrel pun menyugar rambutnya yang sedikit panjang ke belakang. Tidak ada yang tahu dalamnya hati seorang Verrel, meski setiap hari selalu bersama Amelia namun fikirannya tertuju pada malam itu.


Malam dimana ia berdansa dengan gadis misterius yang berhasil membuatnya merasa nyaman. Dan berakhir dengan gadis itu yang ternyata adalah istri kontraknya sendiri Viana. Verrel masih tak habis fikir, bagaimana bisa ia akhirnya menghabiskan malam yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya bersama Viana.


Seolah takdir sudah mengikat mereka. Namun kini gadis itu menghilang bak di telan oleh bumi di saat ia ingin mempertanyakan segalanya kepada Viana. Gadis itu malah menghilang begitu saja. Sebenarnya Verrel juga sedikit percaya akan ucapan asistennya Dany perihal Amelia yang sengaja memberikan obat perangsang kepadanya.


Sehingga kini Verrel nampak waspada jika bersama Amelia. Ia mulai memilih dan memilah minuman yang wanita itu berikan. Bahkan ia sering menolaknya. Verrel juga tidak bisa memutuskan Amelia begitu saja, mengingat wanita itu terus mendekatinya.


Di saat Verrel terhanyut dalam fikirannya sendiri, tiba-tiba gawai cerdasnya berbunyi nyaring hingga memudarkan lamunan yang sedari tadi pria tampan itu rajut.

__ADS_1


“Hallo iya Dany, ada apa?”


“Apa?! Mama ngamuk! Oke-oke aku segera ke sana!”


Verrel pun buru-buru menutup teleponnya, kabar dari sang mama sungguh membuat Verrel lupa akan keberadaan Amelia yang sedari tadi bersamanya.


“Sayang! Mau kemana?!” ketus Amelia yang mulai merasa kesal.


“Mau mengunjungi mama, kata Dany mama mengamuk.”


“Tuh kan mama lagi, mama lagi. Terus waktumu sama aku kapan?!” protes Amelia yang di rasa Verrel saat ini lebih mementingkan mamanya.


“Meli, Mama Venna itu mamaku! Kita masih punya banyak waktu untuk bertemu!” ketus balik Verrel. Lalu tanpa ucapan lagi, Verrel beranjak pergi meninggalkan Amelia yang masih nampak bersungut.


“Ccckk! Wanita tua itu mengganggu waktuku bersama Verrel saja! Aku rasa Verrel sekarang juga berubah tak seperti dulu lagi. Menyebalkan! Di saat moodku naik begini tidak ada lawan main. Lebih baik aku menghubungi Rexi saja, meski bocah itu sedikit kasar tapi jujur aku menyukainya,” gumam Amelia dengan senyum smrik.


Namun semenjak malam itu di hotel yang ada di Jogja, Amelia rasa Verrel menjadi menjaga jarak kepadanya. Amelia tak ingin ambil pusing, yang terpenting saat ini ia ingin segera menuntaskan hasratnya dan bersenang-senang.


*


*


Verrel sedang berkeliling mencari makanan kesukaan mamanya yaitu kerak telor. Biasanya kalau mamanya sedang merajuk, ia bujuk dengan apa yang di suka oleh mamanya. Baru Mama Venna bisa bersikap baik terhadapnya.


“Iya...Dany! Ini aku sedang mencari makanan kesukaan mama itu tapi sedang tutup aku akan mencarinya ke tempat lain. Tolong awasi mama, jangan sampai mama berbuat nekat....”

__ADS_1


Bugh!


“Aww!” pekik seorang gadis.


Verrel pun langsung mengalihkan atensinya untuk segera menengok ke arah bawah nampak seorang gadis tengah tersungkur di sampingnya ada nampan berisi gorengan dan beberapa jajanan pasar yang jatuh berserakan.


“Dany nanti aku telepon kembali!”


Verrel langsung memencet tombol off untuk memutuskan saluran panggilannya bersama Dany. Lalu pria bertubuh tegap itu nampak tertunduk untuk membantu gadis yang ada di hadapannya sedang memunguti gorengan yang terjatuh.


“Kamu tidak apa-apa? Maaf, gara-gara aku barang-barangmu jadi jatuh berantakan. Ini jualanmu?” tanya Verrel dengan sopan.


Gadis itu hanya mengangguk tanda mengiyakan sambil terus menunduk. Wajah cantiknya tertutup rambut serta sebuah masker berwarna putih gading. Penampilannya pun juga biasa saja, bahkan nampak terlihat sedikit kumal di mata Verrel. Terlihat keringat membasahi sebagian kaos yang gadis itu kenakan.


“Jualanmu yang masih bagus biar aku beli saja ya!”


Namun ternyata gadis itu menolaknya dan hendak beranjak pergi. Verrel pun menghadang langkahnya.


“Tidak apa-apa ini sebagai ganti rugi atas tindakanku. Terima saja saja!”


Gadis itu hanya bisa menghela nafas, saat Verrel memaksa untuk mengantongi jualan miliknya yang masih utuh di atas nampan.


Verrel pun memberi sejumlah uang kepada gadis itu sebagai ganti tanda ganti rugi. Setelah itu Verrel pun melanjutkan langkahnya kembali sambil menelepon seseorang.


Setelah jauh, baru gadis itu berani mendongakkan pandangannya menatap kepergian Verrel dari belakang. Entah apa yang ia fikirkan, Lalu buru-buru ia menyeka air mata yang menyeruak begitu saja. Meraih nampan miliknya lalu ikut beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2