Jambret Cantik

Jambret Cantik
Pelukan Maut


__ADS_3

“Pak, bolehkah hari ini saya keluar?” tanya Viana takut-takut.


“Mau kemana?” ketus Verrel.


“Adikku Willy akan di operasi, saya harus memberinya semangat,” sahut Viana cepat.


“Oke, biar ku antar.”


Bukan karena Verrel peduli atau sudah memiliki perasaan kepada Viana melainkan Verrel hanya tak ingin Viana melakukan hal yang ceroboh yang bisa merusak citranya nanti.


Verrel pun mengantar Viana ke rumah sakit dimana Willy di rawat. Selama Viana pergi dari rumah, adik-adik asuh Viana di titipkan ke panti asuhan yang terletak tak jauh dari tempat tinggal Viana.


Begitu Viana baru datang, semua adik-adik Viana memeluk Viana secara bergantian.


“Kak Viana! Kakak kemana saja?” tanya Rosy yang umurnya tak jauh beda dari Roby.


“Ah...apakabar kalian? Bagaimana keadaan Willy?” tanya balik Viana mengalihkan.


Jujur Viana sendiri bingung harus menjelaskan bagaimana kepada adik asuhnya mengenai status barunya.


“Alhamdulillah, kami baik kak. Kak Viana sendiri bagaimana? Willy sedang menjalani operasi,” sahut Aisyah.


“Kak Via juga baik, selama kakak pergi kalian baik-baik saja kan?”


“Alhamdulillah, baik kak. Ibu Desi juga baik kepada kita kak. Beliau sekarang mau kesini, tadi pulang sebentar untuk mengambil kebutuhan kami.”


“Syukurlah, berarti kakak menitipkan kalian kepada orang yang tepat.”


“Oiya..siapa bapak-bapak di belakang kakak?” ujar Aisyah sambil menunjuk kearah Verrel yang memasang ekpresi datar


Tuing!


Mendengar panggilan bapak-bapak dari anak kecil membuat hati Verrel tersentil. Apakah penampilannya setua itu? Verrel menatap pintu ruangan itu yang kebetulan berskat kaca. Menurutnya tidak ada perlu di khawatirkan, wajahnya masih terlihat tampan dan menawan.

__ADS_1


Akhirnya Verrel pun memilih keluar dan membiarkan Viana menghabiskan waktu bersama adik-adiknya.


“Jangan panggil bapak, panggilnya kakak saja itu namanya kak Verrel Aisyah. Dia suami kakak.”


“Suami? Jadi kak Viana sudah menikah dengan kak Verrel?” timpal Tino.


“Iya, maaf ya. Kakak tidak memberi tahu kalian. Pernikahan kakak juga begitu mendadak. Kakak jadi tidak sempat mengajak kalian, apalagi Willy sedang sakit,” tutur Viana menjelaskan.


Semua ini kak Via lakuin demi biaya pengobatan Willy. Apa pun akan kakak lakuin demi kalian.


“Tidak apa-apa kak, memang di usia kakak sekarang harusnya kak Via sudah menikah dan punya anak. Bukan malah mengurusi kami,” ujar Aisyah si gadis dewasa meski usianya masih belia.


“Ai, jangan bilang seperti itu. Bagaimana pun kalian adalah keluarga kak Via. Kakak akan sempatkan menjenguk kalian di panti, ingat ya kalian tidak boleh menyusahkan ibu panti,” pesan Viana.


“Baik kak Viana.”


*


*


“Bagaimana keadaan adik saya dok?” tanya Viana.


“Operasinya berjalan dengan baik, keadaan pasien juga stabil. Kemungkinan operasi yang kami lakukan berhasil. Pasien akan di rawat 1-2 hari untuk pemulihan pasca operasi. Selebihnya nanti sudah bisa istirahat di rumah,” jelas dokter bedah tersebut.


“Terima kasih atas bantuannya dokter.”


Dokter pun berlalu, dan beberapa perawat itu memindahkan Willy ke ruang rawat semula. Semua yang menunggui operasi Willy pun mengikuti dari belakang.


Dua jam kemudian, Willy pun tersadar. Pria kecil itu meringis tertahan menahan rasa perih yang ia rasakan.


“Willy! Kamu sudah sadar?”


“Kak Via, ada di sini?” jawab Willy dengan lemah.

__ADS_1


“Kakak ada di sini untuk Willy,” sahut Viana lagi sambil menggenggam lengan Willy yang bebas dari selang infus.


Willy merupakan adik kesayangan Viana, bukan berarti Viana tidak sayang adik-adiknya yang lain. Melainkan sayangnya dengan Willy itu berbeda.


Kala itu Viana menemukan Willy yang tengah menangis di sebuah pos ronda dengan luka memar di sekujur tubuhnya. Kemungkinan Willy mengalami kekerasan dan penganiayaan dari orang tuanya. Viana tidak bisa mengabaikan Willy begitu saja lalu Viana memilih mengasuh dan merawat Willy.


Butuh waktu untuk mengasuh pria kecil bule itu. Mengingat saat itu, Viana menemukannnya di tepian pantai dekat tempat wisata. Dimana banyak wisatawan bule berkeliaran.


Setelah acara sesi yang mengharukan itu, Viana pun memilih undur diri. Kini ia tidak bisa lama-lama menjaga Willy, karena statusnya yang sudah terikat kontrak dengan Verrel.


“Ibu Desi, saya titip Willy dan anak-anak yang lain ya Bu. Saya usahakan akan mengirim kebutuhan mereka nanti. Maaf, saya tidak bisa berlama-lama di sini.”


“Tidak apa-apa mbak Via, yang tadi suami mbak Via ya? Haduh..tampan sekali, sangat cocok dengan mbak Via yang cantik ini,” puji ibu Desi pemilik panti asuhan itu.


“Eh...masak sih?” Viana pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat mendengar pujian itu. Karena tidak ada yang tahu bahwa pernikahan yang mereka jalani semata hanya sebuah pernikahan kontrak.


“Iya mbak, saya doakan. Semoga hubungan kalian langgeng dan segera dapat momongan. Masalah Willy, mbak tidak perlu khawatir. Saya akan mengurusnya dengan sepenuh hati. Karena mereka juga termasuk anak saya,” ujar bu Desi.


“Amiin. Terima kasih banyak bu, kami permisi.”


“Aisyah, Tino, Rosy dan Roby kalian jaga diri baik-baik ya. Ingat apa ya kak Via pesankan tadi.”


“Siap kak, kami pasti akan merindukan kak Via,” ujar Rosy.


“Kakak juga sayang.” Viana pun memeluk adik-adik asuhnya bersamaan.


Air mata pun membanjiri kedua sisi wajah Viana. Rasanya begitu berat melepaskan adik yang sedari dulu ia asuh. Namun ini lah pilihan terbaik, setidaknya adik-adik asuhnya itu kelak akan tumbuh dengan baik dan bisa menemukan orang tua yang akan mengadopsi mereka nanti.


Sepanjang perjalanan pulang Viana masih terus menangis. Bahu gadis itu terus bergetar menahan rasa yang sedih di hatinya.


Verrel hanya menatap prihatin kearah gadis itu tanpa berani mengusiknya. Mungkin Viana masih butuh waktu untuk menenangkan diri. Seperti dirinya dulu, saat di tinggalkan pergi oleh Amelia wanita yang sangat ia cintai. Bahkan sampai saat ini bayangan Amelia masih menghantuinya, meski sudah berlalu satu tahun lamanya.


Gemas karena tangis Viana tak kunjung berhenti, Verrel pun menghentikan laju kemudinya. Meraih tubuh Viana dan memeluk tubuh gadis cantik itu dengan erat.

__ADS_1


“Sudah jangan bersedih, mereka akan baik-baik saja di sana.”


Bersambung...


__ADS_2