
“Kak Viana!” ucap Aisyah dan Tino bersamaan.
Tino pun bergegas memarkirkan sepeda tuanya begitu saja, lalu bergegas menarik lengan tangan Aisyah yang masih terdiam mematung di tempat.
“Ayo Ais! Mungkin itu benaran kak Viana!” ajak Tino sedikit bergegas.
Seperti apa pun Viana, bagi Tino dan Aisyah Viana itu adalah orang tua mereka. Mereka sudah menyayangi Viana seperti seorang ibu. Meski Viana masih muda, namun perhatian yang ia berikan lebih dari seorang ibu bagi Tino dan Aisyah yang tidak pernah mendapat kasih sayang dari kedua orang tua sedari kecil.
“Kak Viana!” teriak Tino penuh semangat.
“Tino jangan berteriak begitu, malu di dengar tetangga yang lain. Lebih baik kita masuk saja untuk memastikan siapa yang ada di dalam rumah ini,” usul Aisyah.
“Kamu benar Aisyah.”
Aisyah dan Tino pun memutuskan untuk mengetuk pintu kayu yang sudah lusuh itu. Bersamaan itu seseorang telah membukanya dari dalam.
“Aisyah! Tino!” ucap seseorang itu.
“ Kak Viana!!” seru Aisyah dan Tino bersamaan.
Akhirnya mereka bertiga pun saling berpelukan. Aisyah tak mampu membendung air matanya kembali. Sehari sebelumnya, gadis itu berdoa kepada Tuhan agar segera di pertemukan dengan orang yang ia rindukan yaitu Viana. Dan kini ia bersyukur, Tuhan mengabulkan doanya dengan cepat.
“Kalian baru pulang sekolah? Kenapa tidak pulang dulu? Ayo masuk, mau minum atau mau makan? Kakak masak tempe bacem kesukaan kalian loh," cerocos Viana tiada henti.
__ADS_1
Seperhatian itu yang selalu Viana curahkan kepada adik-adik asuhnya. Selalu menanyakan apa yang mereka inginkan. Selalu memberi apa yang mereka mau. Mendengar tawaran Viana barusan, membuat Aisyah semakin tersedu-sedu.
“Kenapa kalian malah nangis? Ayo cepat masuk, Kita bicara di dalam saja,” ajak Viana sambil merangkul bahu kedua anak belia itu.
Sampainya di dalam rumah sederhana itu Aisyah semakin menangis terisak melihat penampilan Viana yang nampak kurus dari biasanya. Tak pernah Aisyah melihat penampilan Viana sebegitu berantakannya.
Rambut panjang wanita itu biasa tergerai indah, kini nampak di potong pendek sebahu. Ya Viana sengaja merubah penampilannya agar tidak di kenali oleh Verrel mau pun orang-orang suruhan pria itu seperti halnya Dany.
Karena Viana tahu, sampai saat ini Verrel masih mencari keberadaannya. Tak jarang ia berpapasan dengan Dany yang entah tiba-tiba saja Viana lihat keluyuran di pasar-pasar tradisional. Entah apa yang pemuda itu cari, yang jelas Viana berusaha untuk menghindari pemuda itu.
Oleh sebab itu, Viana tidak menjajakan jajanannya lagi untuk sementara waktu. Demi keamanan dirinya sendiri. Karena Viana masih sakit hati atas perlakuan Verrel selama hidup bersama pria itu.
Karena tak tahan lagi, Aisyah akhirnya buka mulut dan menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Viana.
Viana hanya bisa menatap Aisyah dan Tino bergantian. Kedua pasangan remaja belia itu belum waktunya tahu urusan orang dewasa sepertinya. Viana pun memeluk Aisyah kembali.
“Ais, sebenarnya tidak terjadi apa-apa kok kakak sama kak Verrel. Kak Via hanya lagi kangen sama rumah ini, kangen sama abah kak Via. Kangen sama kalian. Makanya kakak kesini,” jawab Viana dengan berbohong.
Ya Allah, ampuni hamba karena berbohong kepada mereka. Karena ini bukan waktunya mereka tahu yang sebenarnya terjadi....
Batin Viana dalam hati. Ada rasa bersalah yang tidak bisa ia ungkapkan. Tapi mau bagaimana lagi, semua demi kebaikan bersama.
“Oh..begitu, tapi kemarin kak Verrel datang ke panti nyariin kak Via. Apa kak Verrel udah jahat sama kak Via makanya kak Via milih pergi dari kak Verrel?” asumsi Aisyah.
__ADS_1
Viana hanya mampu memejamkan kedua kelopak matanya. Ia sangka membohongi gadis seperti Aisyah mudah, ternyata Viana salah. Viana lupa bahwa Aisyah adalah gadis yang pintar dan mudah peka terhadap hal sekitarnya. Meski benar adanya ucapan Aisyah, tetap saja Viana berdalih lain.
“Tidak kok, kak Verrel baik banget sama kakak. Buktinya itu nyariin kakak pasti dia kangen sama kak Via. Cuma kak Via masih kangen sama rumah ini dan sama kalian tentunya,” dalih Viana lagi.
Viana harap kali ini Aisyah percaya dan tidak tanya macam-macam lagi terhadapnya. Dan akhirnya nampak Aisyah dan Tino mempercayainya.
“Syukurlah kalau gitu, kak malam ini kami akan temani kak Via disini boleh?" tanya Tino meminta ijin.
“Ais, Tino bukannya kakak melarang. Hanya saja kalian baru pulang sekolah. Bagaimana nanti kalau ibu panti khawatir dan mencari kalian? Tidak baik merepotkan ibu panti. Ibu panti sudah sangat baik menjaga dan mengurus kalian sayang,” tutur Viana menasihati.
Aisyah dan Tino nampak merenung sejenak, sepertinya memang benar apa yang di ucapkan oleh Viana. Mereka mencari keberadaan Viana juga tanpa seijin ibu panti. Sudah pasti mereka merasa khawatir jika mereka sampai tidak pulang-pulang ke panti.
“Tapi, kami besok masih boleh datang ke sini lagi kan kak? Besok kami akan ajak Rosy dan Roby kesini.”
“Jangan! Ah...maksud kak Via. Kalian boleh ke sini lagi tapi jangan bawa Rosy dan Roby. Dan lagi jangan sampai kak Verrel tahu kalau kak Via ada di sini. Ngerti kan maksud kak Via Ais?”
Sebagai orang yang begitu peka, Aisyah sebenarnya tahu apa yang menyebabkan Viana memilih pergi dari Verrel. Namun gadis itu memilih diam, karena ini bukan ranahnya untuk mencampuri urusan orang dewasa. Yang jelas, ia hanya mempercayai apa pun yang Viana lakukan. Itulah yang terbaik.
Saat mereka tengah berbincang-bincang, tiba-tiba Viana merasa mual dan tengah menahan sesuatu. Hingga akhirnya wanita itu lari terburu-buru ke belakang dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Aisyah dan Tino yang melihatnya pun langsung khawatir dan lari tergopoh-gopoh menghampiri Viana yang masih sibuk memuntahkan seluruh isi perutnya.
“Kak Via kenapa? Kak Via hamil?”
__ADS_1
Bersambung...