Jangan Bilang Aku Selingkuh

Jangan Bilang Aku Selingkuh
Part 13


__ADS_3

Setelah sekian lama mereka terdiam dengan pikiran mereka masing - masing. Brian seolah baru tersadar akan adanya Bella di sampingnya, tak pantas kiranya Brian mendiamkan Bella. Apalagi kalau sampai membuat Bella ilfil melihat sikapnya.


"Maafkan aku," ujar Brian dengan nada sendu dan tulus.


Bella menatap Brian seolah ia paham akan apa yang di rasakan Brian saat ini.


Bella merasa bingung melihat keadaan Brian saat ini, Brian terlihat begitu pendiam dan tidak seperti biasanya mereka bertemu.


Bella hanya bisa menatap Brian dan seolah ingin tahu tentang apa yang di rasakan Brian saat ini. Tapi untuk bertanya pun Bella serasa sungkan, karena Bella tidak ingin Brian merasa terbebani akan pertanyaannya.


Brian menatap Bella dengan sebuah senyuman tersemat di wajah tampannya, senyuman seolah ia mengatakan baik - baik saja, agar Bella tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya saat ini.


Dengan menatap senyuman Brian, Bella begitu sangat paham. Kalau pemuda di sampingnya, tidak mau bercerita tentang masalah yang di hadapinya saat ini.


"Bri," ucap Bella dengan tersenyum.


"Aku baik kok Bel, tidak perlu mengkhawatirkan ku," jawab Brian seolah ia paham apa yang ditanyakan Bella kepadanya.


****


Sedangkan di tempat lain


Hei…. kalau jalan lihat-lihat dong…!” Siska membentak seseorang yang menabrak punggungnya dari belakang.


“Maaf….maaf kak….” ucap pemuda itu dengan terbata-bata.


“Makanya matanya jangan meleng sampai tidak lihat jalan ….!” ucap Siska setengah berteriak di hadapan muka pemuda itu.


“Iya….iya kak, maaf aku tidak sengaja," ucap pemuda itu kembali meminta maaf dan langsung buru-buru menjauh dari Siska.

__ADS_1


Siska Begitu kesal karena Siska hampir saja terjatuh di depan kerumunan orang banyak, ia langsung putar arah dan berniat bergegas meninggalkan kerumunan yang melihat kejadian itu.


Belum beberapa langkah Siska menjauhi kerumunan, mendadak ia menghentikan langkahnya, karena ia seakan mengenali wajah dari pemuda itu.


“Sepertinya aku kenal suara dan wajah pemuda yang menabrak ku tadi," ujar Siska dengan pelan.


Siska langsung membalikkan badannya, dari kejauhan Siska dapat melihat lelaki tadi berhenti dan Siska langsung melangkah kan kakinya menuju pemuda yang menabraknya tadi dengan setengah berlari karena Siska takut tidak bisa mengenali pemuda yang menabraknya tadi dari kejauhan.


Pemuda tadi pun seakan kaget karena Siska menyusulnya, padahal sebelumnya ia sudah meminta maaf kepada Siska.


“A…ada apa kak??” ucap pemuda itu sedikit gugup lalu wajahnya menengadah tepat di depan muka Siska. Mereka pun saling berhadapan, sambil terdiam satu sama lain.


Siska dapat mengenali dari sorot mata tajam itu, yang seakan tak memberikan ruang sedikitpun untuk Siska berpaling dari pandangan pemuda itu, ia seolah mengejar dan tak kan pernah membiarkan ia terlepas.


Seperti terlilit dalam kumparan medan magnet yang kuat akhirnya Siska pun menyerah dengan daya tarik dari pesona tatapan matanya pemuda itu. Sekali lagi kami beradu pandang, Siska mencoba menatapnya lebih dalam mencoba mengingat kembali saat beberapa tahun yang lalu, sorot matanya, hidungnya dan wajahnya masih dalam ingatannya.


Ia menjawab “rupanya engkau selalu mengingatku hanya dari tatapanku saja…!?”, sambil mengeluarkan senyumnya kepada Siska.


Mereka pun tertawa bersama dan Siska pun langsung berhambur memeluk pemuda itu. "Aku kangen sama kamu, bang," ucap Siska yang masih saja memeluk pemuda itu seakan tidak mau melepaskannya lagi.


"Abang juga kangen sama kamu, dek," ucap pemuda itu.


"Kamu sudah dewasa dan tambah cantik sekarang, sehingga abang sulit untuk mengenali wajah kamu," ucap pemuda itu lagi.


Merekapun akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sejenak waktu berdua, ke sebuah cafe yang tidak jauh dari tempatnya berada. Mereka berdua berbincang untuk sekedar melepas kangen meskipun waktu mereka berdua hanya sebentar tapi yang terpenting Siska sudah tahu dimana dia tinggal dan pemuda itu juga telah memberikan nomor handphonenya, sehingga kami dapat bertukar nomor handphone, sungguh suatu peristiwa yang tak pernah di bayangkan sebelumnya oleh Siska bisa bertemu dengan pemuda yang sangat di rindukannya dari mereka masih menginjak bangku SMP.


Flashback on


Siska dan pemuda tersebut dulunya tetanggaan. Karena jarak antara rumah Siska bersebelahan dengan rumahnya. Pemuda tersebut sudah di anggap sebagai kakak angkatnya oleh Siska. Karena setiap Siska lagi sedih dan di kucilkan sama temannya, ia selalu ada. Sehingga Siska merasa nyaman dan aman bersamanya.

__ADS_1


Pemuda itu namanya Andika, selisih umur mereka hanya berkisar 1 tahun. Sampai suatu ketika Andika mesti pindah sekolah, karena Papanya di pindahkan kerjanya ke kota lain. Sehingga mau tidak mau, Andika pun ikut bersama orang tuanya dan membuat Siska begitu kehilangan seorang teman sekaligus kakak terbaik di hidupnya.


"Abang jangan pergi!" ucap Siska menangis sesegukan.


Orang tua Siska pun ikut sedih melihat anaknya, yang tidak ingin jauh dari Andika.


"Abang harus pergi, dek! tidak mungkin, abang sendirian disini, sementara orang tua abang jauh," ucap Andika yang juga begitu sedih melihatnya.


"Abang janji suatu saat menemui mu adek abang yang cantik," ucap Andika lagi sehingga membuat Siska sedikit tersenyum dengan pujian yang dilontarkan kepadanya.


"Janji ya bang ....!" ucap Siska memberikan jari kelingkingnya seolah mereka berjanji dan janjinya wajib di tepati oleh Andika.


"Iya, Abang janji," ucap Andika yang juga memberikan jari kelingkingnya.


Tidak berselang lama mobil Papanya pun berangkat. Siska menatap kepergian Andika sampai mobil itu menghilang dari pandangannya.


Flashback off


Sedangkan dari jauh, Arka menyaksikan Siska yang begitu akrab dengan seorang lelaki itu. Ia begitu kalut melihat tunangannya yang begitu intens memandang lelaki yang berada di sampingnya.


Arka seakan ingin menemui Siska dan ingin memukul wajah lelaki yang sudah berani - beraninya mendekati tunangannya. Tapi Arka mengurungkan niatnya karena tidak mau nantinya berdebat dengan Siska dan membuat Siska nanti jauh darinya.


Meskipun awalnya Arka menolak perjodohannya dengan Siska, akan tetapi beberapa hari ini ia seolah menyadari akan perasaannya sama Siska.


Arka pun pergi meninggalkan kafe tersebut karena tidak mau ia semakin terbakar cemburu melihat kemesraan mereka. Sedangkan dari jarak yang lumayan jauh, Siska dapat melihat Arka keluar dari pintu kafe. Siska ingin menyusul Arka, akan tetapi ia tidak mau meninggalkan Andika, karena Siska masih merindukan orang yang di sampingnya saat ini.


................


Jangan lupa dan komennya All🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2