
Brian membukakan pintu rumahnya saat ada seseorang mengetuk pintu rumahnya. "Bella ...., ngapain kamu disini," tanya Brian yang terkejut dengan kedatangan Bella ke rumahnya.
Bella langsung memeluk tubuh Brian dan menangis di pelukannya. "Kamu kenapa Bella?" tanya Brian yang seakan bingung dengan kehadiran Bella ke rumahnya.
"Izinkan aku tinggal disini Brian," ujar Bella hingga membuat Brian terkejut dan melepaskan pelukannya.
"Kamu jangan gila Bella ....," teriak Brian yang tidak terima dengan keputusan yang di ambil Bella. Kamu itu tunangan orang dan aku tidak mungkin membiarkan kamu untuk tinggal disini, sedangkan kita belum muhrim," ujar Brian lagi dan berlalu meninggalkan Bella di ruang tamu tersebut.
Bella tersentak dengan ucapan Brian yang begitu sangat menusuk hatinya, hingga membuatnya terdiam dengan pikiran yang sangat kacau. Bella terduduk dan menangis pilu, akan nasib yang tidak pernah memihak kepadanya.
Bella menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia saat ini merasa putus asa. Bella sangat kecewa dengan Brian yang pergi begitu saja dari hadapannya padahal saat ini, ia sudah mau berkorban pergi dari rumah demi menggapai cinta dari seseorang tapi ternyata Brian sama sekali tidak mau menerimanya.
Bella yang merasa lelah dan tidak tahu harus pergi kemana lagi, mau tidak mau ia harus berada di rumah ini karena hari sudah malam dan ia pun tidak tahu harus pergi kemana lagi.
Bella mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa dan segera menutup matanya, sedangkan Brian dari tadi memperhatikan Bella dari atas dekat dengan kamarnya. Brian pun tidak ingin bersikap kasar kepada Bella, hanya saja ia merasa tidak pantas membawa seorang perempuan yang belum berstatus istrinya ke rumah.
Brian turun ke bawah menghampiri Bella yang saat ini tertidur dengan pulas, lalu ia mencoba mengangkat Bella dan membawanya ke kamar tamu. "Maafkan aku, atas kata - kataku yang menyakiti hatimu Bel," ujar Brian dan mencium keningnya.
Brian pergi menuju kamarnya kembali setelah ia menyelimutkan Bella. Bella yang sudah terbangun saat Brian mengangkat tubuhnya tadi menatap pintu yang saat ini sudah di tutup Brian. Bella mencoba menutup matanya kembali dan berharap besok adalah merupakan awal kebahagiaan untuknya.
Keesokkan paginya Fani datang ke rumah Brian dengan membawa sarapan pagi, Fani tersenyum saat ia sudah sampai di pintu rumah Brian.
Tok .... tok .... tok
"Good morning, Bri .... an," ucap Fani terkejut menatap Bella.
__ADS_1
Bella menatap penampilan wanita yang saat ini berada di hadapannya dan mulai mengingat - ingatnya lagi. "Kamu lagi ....," ujar Bella yang merasa tidak terima karena lagi - lagi ia bertemu dengan Fani.
Fani yang tidak ada rasa takut sedikit pun langsung masuk ke dalam menuju dapur, ia menyiapkan segala sesuatu untuk sarapan Brian nanti. Bella yang melihat Fani yang sangat begitu perhatian dengan pacarnya merasa sakit hati dan menarik tangan wanita itu. "Kamu ada hubungan apa dengan Brian," ujar Bella dengan menarik rambut Fani.
"Hei cewek gila lepasin," pekik Fani yang merasa sakit akibat di tarik oleh Bella.
Brian yang mendengar suara ribut - ribut langsung berjalan menghampirinya. "Kalian apa - apaan, pagi - pagi sudah bikin ribut disini," teriak Brian hingga Bella akhirnya melepaskan Fani serta mendorongnya kuat.
"Maafkan aku Brian," ujar Bella dengan menundukkan wajahnya.
Brian yang merasa kesal akibat ulah dua wanita yang ada di hadapannya langsung keluar dari rumahnya untuk menenangkan hatinya yang sedikit kacau.
****
"Tidak sakit lagi Ar, cuma kadang - kadang ada terasa sedikit kram," ujar Siska dengan menampilkan senyum di wajahnya.
Siska yang merasakan tulusnya perhatian suaminya merasa sangat bahagia telah memiliki Arka di kehidupannya. "Terimakasih ya suamiku, kamu adalah lelaki terindah yang pernah aku miliki,"
Arka tersenyum mendengar pujian dari istrinya. "Terimakasih juga sudah mau menjadi istri dan ibu untuk anak - anakku,"
Kriuk
"Hehehe kamu lapar ya Ar," ujar Siska membelai pipi suaminya.
"Sepertinya begitu, tapi aku tidak tega meninggalkan kamu disini sendiri,"
__ADS_1
"Tidak apa - apa, tapi aku titip buah mangga yang ada di depan rumah kita ya," ujar Siska yang sangat menginginkan buah tersebut.
"Tapi jarak rumah kita dengan rumah sakit ini lumayan jauh sayang," ujar Arka yang sedikit keberatan dengan keinginan istrinya.
Siska mengerucutkan bibirnya dan menggerakkan tubuhnya membelakangi suaminya. Arka yang melihat istrinya yang bersikap seperti itu merasa tidak tega dan segera mengiyakan apa yang di minta istrinya.
"Kamu janji ya untuk segera membawakannya," ujar Siska menampilkan senyum di wajahnya karena permintaannya di penuhi oleh suaminya.
"Iya, kamu jaga diri kamu baik - baik. Kalau terjadi apa - apa dengan kamu, segera hubungi aku," ujar Arka dengan mengusap kepala istrinya dan mencium puncak kepalanya sebelum pergi.
"Iya, kamu juga hati - hati ya," ujar Siska saat melihat Arka yang sudah beranjak dari tempat duduknya.
Arka menutup pintu ruang inap Siska dan berjalan menuju kantin, karena ia merasa cukup kelaparan. Setelah selesai, Arka membayar makanannya dan berjalan menuju parkiran.
"Lepasin aku, apa belum puas kamu menyiksaku, Radit!" ujar Andin menangis memohon.
Radit menyandarkan tubuh Andin dan memberikan tamparan dengan sangat keras ke wajah Andin. "Kamu jangan macam - macam wanita tidak tahu diri, karena hidup kamu ada di tanganku," ujar Radit dengan mencengkram tangan Andin hingga ia sedikit meringis dan tidak berani berucap lagi.
"Sekarang masuk!" ujar Radit dengan membukakan pintu mobilnya.
Dari jauh Arka melihat semua yang di lakukan lelaki itu terhadap kakak ipar temannya. Arka berlari mengejar mobil tersebut agar ia bisa membantu melepaskan Andin, kakak ipar temannya namun belum sempat Arka datang mobil tersebut sudah segera pergi sehingga membuat Arka tidak bisa mengejarnya karena memang jarak mobilnya yang sangat jauh dari tempat tersebut.
...........
Jangan lupa like dan komennya.
__ADS_1