
"Aku pun tidak sudi datang kesini menemui anakmu, karena hari ini adalah hari kebebasan bagiku," ucap Andin dengan begitu sangat bahagianya.
Andes yang mendengarkan kata- kata istrinya, benar - benar kesal. Padahal sedari tadi dia sudah berusaha menahan emosinya dan berharap istrinya menyadari akan kesalahannya. Namun rupanya ia salah menduga.
Plak
Andes melayangkan satu tamparan ke wajah cantik Andin karena kekesalan yang tidak bisa ia tahan dari tadi. Andes begitu murka melihat sikap istrinya yang sudah kelewat batas, sehingga emosi yang ia tahan akhirnya tertumpahkan dan ini merupakan pertama kalinya seumur hidup Andes begitu emosi bahkan sampai menampar wanita.
"Jangan pernah kau sakiti hati anakku," tekan Andes dengan begitu sangat emosi. "Selama ini aku telah mencoba bertahan demi kebahagian anak - anakku," teriak Andes lagi yang mempertahankan rumah tangganya demi kebahagiaan anak - anaknya agar masih bisa memiliki keluaga yang lengkap. "Bahkan kamu juga tega mencelakai adiķku, aku tetap mencoba untuk diam," ucap Andes yang sudah berada di titik kejenuhannya dan membuatnya begitu sangat terpuruk saat teringat akan adiknya koma beberapa minggu di Rumah sakit.
Degh
Andin terkejut akan penuturan suaminya yang menyebutkan dia lah yang telah mencelakai adiknya. Andin tidak menyaka ternyata suaminya mengetahui semuanya dan dia menyembunyikan semuanya hanya untuk kebahagiaan anaknya.
"Sekarang, kamu pergi dari rumahku!" ucap Andes mengusir Andin yang sedari tadi membuatnya muak.
"Pergi!" teriak Andes lagi sehingga membuat Andin begitu tekejut karena ia tidak pernah sama sekali mendengar Andes berteriak di hadapannya bahkan ia selalu di manjakan selama ini.
Andin pergi dari hadapan Andes dengan membawa sebuah koper besar. Andin sedikit terenyuh hatinya mendengarkan penuturan suaminya. Namun ia merasa enggan untuk meminta maaf bahkan mengakui kesalahannya.
Andin menaiki taksi yang sebelumnya ia pesan, Andin sedikit berfikir tidak mungkin ia pergi ke rumah orang tuanya. Karena Andin tahu Mama dan Papanya Andin, begitu sangat sayang sama menantunya bahkan Mama dan Papanya sangat menyanjung suaminya.
Hufft
Andin sedikit stres, memikirkan permasalahannya saat ini di tambah dengan suaminya yang telah mengetahui keburukan sikapnya selama ini. Andin tidak mau jika harus mendekam di penjara karena kesalahan yang ia buat.
__ADS_1
"Maaf Bu, mau di anterin kemana?" tanya sopir taksi yang sedikit heran karena sudah hampir 1 jam perjalanan tidak juga mendapatkan jawaban.
"Oh iya Pak, kira - kira kosan dekat sini ada nggak Pak?" tanya Andin.
"Biar saya anterin langsung ke tempat kosannya Buk,"
"Oke Pak, terimakasih," jawab Andin begitu lega.
Hufft
Andin menghela nafasnya dengan sedikit kasar, pasalnya ia harus sedikit berhemat mulai dari hari ini. Karena tidak mungkin ia bisa meminta uang sama Mama dan Papanya saat ini, apalagi kepada suaminya.
****
"Bang," panggil Brian kepada kakaknya yang baru datang bergabung setelah menyelesaikan administrasi pembayaran Rumah sakit Brian.
"Hm ....," Andes berdehem tanpa menjawab ucapan adiknya sama sekali.
"Kak Andin mana Bang?" tanya Brian karena tidak melihat kakak iparnya menjemputnya saat ini.
"Dia lagi sibuk, jadi tidak bisa jemput kamu Bi," ucap Andes berbohong agar adiknya tidak mengetahui masalah rumah tangganya yang sudah di ambang perceraian.
"Oh," ucap Brian menanggapi ucapan kakaknya. Namun Brian dapat melihat dari raut wajah kakaknya yang sedikit kusut dan seperti ada beban yang sangat berat di pikulnya. Brian tahu kakaknya tidak akan pernah membicarakan, apapun masalah yang ia hadapi.
Andes menatap Bella yang duduk tidak jauh di tempatnya berdiri. Andes dapat melihat keseriusan hubungan adiknya dan Bella saat ini yang tidak ingin terpisahkan, bahkan Andes pun sama sekali tidak akan melarang, adiknya berhubungan dengan siapapun karena baginya kebahagiaan adeknya adalah kebahagian Andes juga.
__ADS_1
"Ohya, sepertinya Abang ada urusan mendadak," ucap Andes beralasan karena ia ingin memberikan ruang untuk adiknya berduaan dengan Bella. "Abang mau jemput Raka ke sekolahnya, karena kamu tahu sendiri kakakmu Andin tidak bisa menjemputnya," ucap Andes lagi karena ia tidak tahu harus memberi alasan apa lagi dengan adiknya. "Dan lagi pula kerjaan abang masih numpuk tidak bisa di tinggal Bi, mungkin besok abang bisa datang ke rumah," ucapnya lagi.
"Ya sudah Bang, aku nanti juga langsung ke rumah ya Bang dan tidak bisa mampir ke rumah Abang," jawab Brian karena memang sedari awal Brian memang jarang ke rumah kakaknya.
"Ya," ucap Andes dan langsung pergi dari hadapan adiknya.
****
"Brian, Alhamdulillah kamu sudah di bolehin pulang," ucap Bella memulai percakapannya karena sedari tadi Brian hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Bella. "Aku sangat bahagia, melihat kamu yang sudah mulai sembuh seperti semula," ucap Bella dengan sangat bahagia.
"Hm," jawab Brian acuh.
Bella menatap sebentar ke arah Brian, ia tidak mengerti kenapa saat ini Brian hanya diam tanpa banyak bicara kepadanya. Padahal sewaktu pertemuannya terakhir di Rumah sakit, Bella merasa tidak melakukan kesalahan sama sekali dengan Brian. Bahkan mereka kemaren sangat bahagia, akhirnya mengetahui perasaan masing - masing.
Bella melajukan mobilnya menuju pantai, Brian yang saat ini di samping Bella pun merasa bingung karena Bella melajukan mobilnya bukan menuju ke arah rumah Brian.
"Bella, ini bukan arah rumahku," ucap Brian memberitahukan Bella.
Bella hanya diam tanpa menjawab ucapan dari Brian, saat ini ia hanya fokus menyetir tanpa menghiraukan ucapan Brian sama sekali.
Bella membuka pintu mobilnya dan berjalan meninggalkan Brian yang saat ini masih berada di dalam mobilnya. Bella saat ini butuh ketenangan fikiran, ia tidak ingin larut dalam masalah yang nantinya akan menyakitinya.
..........
Minta like dan komennya serta kritikannya ya All. Maaf kalau sekiranya Part ini cuma sedikit dan kalau sekiranya kata - katanya agak sedikit rancu. thanks buat readers yang sudah menyukai cerita saya. Salam kenal dari saya & semoga sehat selalu serta dalam lindungan Allah Swt.
__ADS_1