
Sejak semalam, Brian memikirkan Bella. Bahkan ponsel Bella sama sekali tidak bisa di hubungi semenjak dari semalam.
Disinilah Brian sekarang, ia menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumahnya Bella sambil menatap ke arah balkon atas dan berharap Bella bisa di lihat olehnya. Namun sudah hampir 1 jam Brian menunggu akan tetapi Bella tidak juga menampakkan batang hidungnya.
Brian begitu gusar, padahal ia sudah sangat berharap bisa melihat gadis itu pagi ini. Sedangkan di balik kaca kamarnya, Bella dapat melihat Brian yang saat ini menatap ke arah rumahnya.
Bella sangat ingin menemui Brian dan berlari mengejar pria itu, akan tetapi ia takut ketahuan oleh Papanya. Apalagi semalam, ia habis di tampar oleh Papanya dan baru semalam ia dapat melihat wajah Papanya yang begitu sangat emosi terhadapnya.
Brian memberanikan diri untuk masuk ke rumah Bella, meskipun Bella pernah melarangnya untuk datang ke rumahnya, namun Brian begitu nekad karena ia harus memastikan kalau Bella baik - baik saja.
Satpam yang ada di rumah Bella segera membukakan pintu pagar saat Brian turun untuk melapor bahwa ia adalah teman Bella dan ingin menemui Bella sehingga ia di perbolehkan masuk.
Tok tok tok
Brian mengetuk pintu, meskipun ada rasa cemas tersirat dari wajahnya. Namun ia tetap memberanikan diri untuk datang ke rumah itu.
"Maaf mencari siapa ya?" tanya Mama Bella memperhatikan pemuda yang ada di depannya sambil mengingat - ingatnya.
"Ma .... af tante, saya datang kesini ingin bertemu dengan Bella tan," ucap Brian terbata - bata.
"Hmmm .... ya sudah, masuk dulu. Biar nanti tante panggil Bella dulu," ucap Mama Bella dengan ramah.
"Siapa Ma?" tanya Papa Bella yang saat itu mendengar suara istrinya menyambut tamu.
"Kamu lihat saja Pa, dia calon menantu Mama," ucap Mama Bella memberitahukan suaminya.
Papa Bella melangkahkan kakinya untuk melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya pagi ini, ia begitu penasaran dengan ucapan istrinya yang menyebutkan kalau yang baru datang adalah calon menantunya.
Ehem ....
__ADS_1
Papa Bella berdehem, dan duduk berhadapan dengan Brian sambil matanya melihat dari atas sampai ke bawah postur dan tampilan lelaki pilihan anaknya dan mengingat kembali kalau lelaki ini pernah di bawa Bella ke rumah saat Bella di wisuda.
"Kamu ada hubungan apa dengan anak saya," tanya Papa Bella dengan nada tinggi.
Brian segera memasukkan ponselnya saat Papa Bella datang.
"Sa .... ya te .... man Bella Om," ucap Brian dengan gugup.
Papa Bella bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil sesuatu dan kembali dengan membawa salah satu undangan di tangannya.
"Saya mau mengundang kamu, untuk hadir di acara pertunangan anak saya dan saya harap kamu mengerti akan posisi kamu saat ini, untuk tidak lagi mengganggu anak saya!" ucap Papa Bella memberikan satu buah undangan pertunangan yang di letakkan di atas meja.
Brian mengambil undangan tersebut dengan berat hati dan melihat nama yang terpapar di sampul depan yang bertulis nama Bella, orang yang sangat ia cintai.
"Ini maksudnya apa Om?" ucap Brian memberanikan diri untuk bertanya.
Bella yang mendengarkan ucapan Papanya menangis histeris, ia tidak menyangka Papanya tetap kekeh menjodohkannya dengan anak temannya. Bella tidak tahu harus bagaimana, bahkan ia bisa melihat wajah Brian yang begitu lesu dan berjalan gontai saat keluar dari rumahnya.
Bella yang saat itu, ingin turun ke bawah menemui Brian mengurungkan niatnya karena dari atas ia dapat melihat Papanya menemui Brian, makanya saat itu ia bisa mendengar suara Papanya yang keras membentak Brian.
Bella kembali masuk ke dalam kamarnya dan segera mengunci kamarnya, ia menangis meratapi nasib cintanya yang harus putus karena terhalang perjodohan orang tuanya. Bella tidak menyangka Papanya sampai sekeras itu melarang hubungannya.
Bella berlari menuju balkon untuk melihat wajah Brian untuk yang terakhir kalinya, ia begitu sedih melihat wajah Brian sendu.
Brian menatap Bella yang saat itu berdiri di balkon kamarnya, disana ia juga bisa merasakan kalau Bella sama sekali tidak menerima perjodohan itu. Namun Brian juga tidak bisa berbuat apa - apa. Mungkin nasibnya memang harus seperti ini, yang tidak pernah kebahagiaan datang menghampirinya, bahkan dari semenjak kecil ia menderita sampai dewasa pun tetap seperti itu. Semenjak kecil ia di hina dan sampai dewasa pun tetap sama.
Brian masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sedih dan sakit, itu yang di rasakannya saat ini. Mungkin faktor tidak mempunyai orang tua serta tidak memiliki apa - apa yang membuatnya selalu di jauhi dan tidak di terima.
Saat ini Brian ingin menyendiri meratapi nasib malangnya yang tidak memiliki siapa - siapa lagi di dunia ini, ia hanya memiliki seorang kakak namun tidak dengan orang tua. Meski pun kakaknya sangat pengertian terhadapnya, namun Brian tidak tega untuk berkeluh kesah terhadapnya apalagi kakaknya juga mengalami hal yang serupa dengannya.
__ADS_1
"Hai ....," ucap seseorang menyapa Brian.
Brian menatap gadis yang ada di hadapannya, tanpa menjawab sapaan dari gadis itu. Brian melangkah kakinya menyusuri pantai untuk menenangkan hatinya yang resah sedangkan gadis tersebut terus mengikutinya.
"Lu ngapain ikutin gue," bentak Brian saat ia melihat gadis itu terus mengikutinya.
"Jangan galak - galak Om, nyantai kali Om," ucap gadis itu sehingga membuat Brian tersulut emosi.
Brian memicingkan sebelah matanya dan menatap gadis yang ada di hadapannya, memang di akui gadis yang ada di hadapannya saat ini masih remaja dan kira - kira masih menginjak bangku SMA. Namun ia merasa tidak terima di panggil Om oleh gadis di hadapannya.
"Sejak kapan gue jadian sama tante lu,"tanya Brian dengan suara melengking, ia merasa tidak terima di panggil Om Om oleh gadis di hadapannya meski pun gadis tersebut masih remaja sekali pun.
"Idih si Om galak amat, awas Om nanti di tinggal nikah sama pacarnya Om," ucap gadis itu sehingga membuat Brian menatap gadis itu dengan sangat intens.
"Ya sudah Om, gue kabur dulu. Sepertinya Om lagi emosi banget dan ingin menyendiri merenungi nasib Om," ucap gadis itu asal, lalu berjalan meninggalkan Brian.
"Tunggu, temani gue disini," panggil Brian sehingga membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"Ok Om, tapi ada syaratnya ya Om," ucap gadis itu menawarkan sebuah syarat kepada Brian.
"Apa itu syaratnya," tanya Brian yang merasa tertantang dengan ucapan gadis di hadapannya.
"Gue mau temani Om jalan - jalan di sekitar sini dengan syarat Om jangan macam - macam terhadap gue. Karena gue bisa mematahkan tangan Om kalau sampai Om macam - macam,"
"Hahaha," tawa Brian pecah mendengarkan ucapan gadis di hadapannya, ternyata gadis di hadapannya adalah sosok gadis yang pemberani sehingga membuat Brian kembali tersenyum dan sedikit melupakan masalahnya.
...........
Jangan lupa like dan komennya.
__ADS_1