
"Jadi bagaimana?"
"Iya tuan, ini kesalahan saya karena lupa mengabarkannya," ujar seseorang yang merasa bersalah karena sudah sedikit lalai dalam mengabarkan informasi penting.
"Kamu bagaimana sih! kerja yang betul dong, kenapa bisa lupa hal yang paling penting seperti ini!" teriak Andes marah besar saat menerima telephone dari seseorang.
Andes begitu gusar ketika mendapatkan infomasi bahwa adiknya beberapa hari yang lalu menemui Papanya. Tanpa sepengetahuan Andes, namun yang membuat Andes begitu kecewa adalah Papanya yang sama sekali tidak mengakui Brian sebagai anaknya sehingga membuat Andes begitu marah besar. Lain dengan adiknya yang malahan begitu sangat menginginkan dekat dengan Papanya.
"Tolong atur pertemuan saya dengannya!" ujar Andes dan langsung mematikan ponsel di tangannya.
****
Andes saat ini mendatangi cafe, ia ingin menemui seseorang yang dulu sangat di rindukan namun Andes juga membenci sikapnya yang telah menelantarkan Andes dan Brian sewaktu kecil. Ya, Andes datang ke cafe tersebut untuk menemui Bram Papanya.
Andes melihat jam di tangannya, sudah sedari tadi ia menunggu Papanya namun Bram sama sekali tidak juga kunjung datang. Hampir setengah jam ia menunggu di cafe tersebut hingga membuat Andes begitu bosan.
Dreet .... Dreet .... Dreet
Ponsel yang berada di saku celana Andes berbunyi dan Andes segera mengambil ponselnya dengan segera menekan tombol terima.
"Hallo, ada apa?" tanya Andes saat ia baru mengangkat panggilan dari ponselnya.
"Pak, sebentar lagi rapat akan kita mulai, jadi bapak mesti hadir dalam memimpin rapat tersebut,"
__ADS_1
"Baiklah nanti saya kabari," ujar Andes lalu mematikan ponselnya dan dengan segera beranjak dari tempat duduknya.
Saat Andes berdiri dan membalikkan badannya, Andes terkejut dengan kehadiran seseorang yang saat ini ada di belakangnya. Seseorang yang sudah lama ia rindukan, seseorang yang selalu mengisi memori otaknya sewaktu kecil. Namun seseorang itu juga lah yang menghancurkan harapannya, bahkan yang membuatnya di titik lemah tidak berdaya namun harus tetap kuat agar bisa bangkit dan bertahan demi membahagiakan adik yang sangat ia kasihi.
Andes menatap Bram yang saat ini ada di hadapannya. Ada rasa senang dan bahagia di raut wajah Andes, bahwa Papanya saat ini masih dalam keadaan sehat dan sangat bugar, serta masih awet muda. Namun jika mengingat kenangan yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu, Andes begitu kecewa atas sikap di masa lalu Papanya yang begitu tega meninggalkannya dan begitu juga dengan Mamanya yang juga tega mencampakkannya.
"Hei, ada perlu apa anda mengundang saya kesini, asal anda tahu saya orangnya sangat sibuk jadi tidak ada waktu lama - lama disini!" bentak Bram dengan begitu angkuh saat Bram tahu kalau yang ia temui adalah orang yang biasa - biasa saja. Karena Bram saat tadi sudah memperkirakan jikalau yang menemuinya adalah seorang bos besar yang akan membuat usahanya naik daun.
Andes yang mendengarkan bentakan dari Papanya berusaha untuk tidak melawannya, karena ia tahu sikap Papanya yang selalu emosian terhadap siapa pun. Andes membalikkan tubuhnya dan segera duduk di kursi yang telah ia duduki tadi.
"Ada perlu apa anda ingin bertemu dengan saya, cepat katakan!" ujarnya lagi hingga membuat Andes sedikit tersulut emosi namun sebisa mungkin mencoba untuk tenang dan berwibawa di hadapan Papa brengs*k seperti Bram.
Andes menopang dagunya sembari menatap Papanya. "Apa sedikit pun anda tidak kenal saya?"
"Saya tidak mengenal anda dan lagi pula tidak ada gunanya juga untuk saya kenal anda!" ujar Bram berdiri dan melangkahkan kakinya beberapa langkah meninggalkan Andes.
"Tunggu!" panggil Andes hingga membuat langkah Bram terhenti. "Apa benar anda tidak mengenal saya dan adik saya, setelah puluhan tahun anda meninggalkan saya, sebegitu tegakah anda terhadap saya dan adik saya, apa tidak ada rasa iba di hati anda sendiri," sambung Andes dengan suara gemetar dan meneteskan air mata namun Andes dengan segera mengusap air mata yang sempat menetes di pelupuk matanya agar sebisa mungkin kelihatan tetap tegar dihadapan Papanya sedangkan Bram begitu terkejut akan kenyataan bahwa yang berada di dekatnya saat ini memang lah anak kandungnya.
Bram membalikkan badannya dan menatap lelaki yang ada di hadapannya. "Maaf anda salah orang anak muda!" ujarnya dan berlalu pergi dari hadapan Andes.
Andes begitu shock dengan pernyataan Papa kandungnya, ia benar - benar tidak menyangka bahwa Papa kandungnya sendiri setega itu tidak mengakuinya setelah belasan tahun mencampakkannya.
"Aaaaaaaa, brengsek kamu Bram!" ujar Andes dengan memukul stir mobilnya. "Awas kamu Bram, aku akan balas semua perlakuanmu terhadap aku dan adikku!" sambung Andes emosi dan akan membuat Papanya bertekuk lutut meminta maaf atas kesalahan yang telah ia lakukan.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain
"Sayang, aku kangen banget sama kamu," ujar Bella saat Brian baru saja mengangkat telephone dari Bella.
"Iya, aku juga merindukanmu sayang," jawab Brian manja hingga membuat Bella tersenyum bahagia mendengar kata sayang dari calon suaminya.
"Jadi gak sabar nih sayang,"
"Waduh sabar dong sayang, karena sebentar lagi loh," ujar Brian tertawa.
"Ngeselin banget nih, kalau saja kamu ada di sampingku udah aku cubit kamu," ujar Bella dengan pura - pura cemberut.
"Senyum dong sayang jangan cemberut begitu," ujar Brian membujuk Bella. "Kamu tahu nggak sayang. Senyummu bagiku seperti sebuah alkohol yang apabila di minum akan bikin aku mabuk," sambung Brian lagi dengan memberikan gombalan receh terhadap Bella.
"Terus, kamu mau minum alkohol di depan aku, gitu!"
"Ih, siapa bilang sayang. Jangan cemberut lagi, aku kan cuma mengibaratkan,"
"Iya, iya, aku juga cuma pura - pura sayang. Apapun yang terjadi aku akan selalu mempertahankan kamu dalam hidup aku. Tidak peduli apapun yang terjadi, yang penting aku bisa selalu bersama denganmu," ujar Bella jujur akan hatinya karena baginya ia benar - benar sangat mencintai Brian.
Bella menatap ponselnya dan meletakkan ponselnya di dadanya, ia tersenyum bahagia karena sebentar lagi Brian akan menjadi miliknya seutuhnya. Bella berguling - guling di atas kasur dengan senyum kecil yang ia sematkan. "Terimakasih tuhan, ternyata engkau telah mengabulkan doaku," ujar Bella dengan mengucapkan syukur karena akhirnya ia bisa melalui ujian cintanya dengan baik dan akan berbuah manis nantinya.
..........
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya