Jangan Bilang Aku Selingkuh

Jangan Bilang Aku Selingkuh
Part 66


__ADS_3

Hari pernikahan pun tiba, Brian saat ini telah sah menjadi suami Bella setelah Brian berhasil mengucapkan lafaz ijab kabul di hadapan orang tua Bella, penghulu dan para saksi. Kata sah pun terucap pertanda Bella sudah sah menyandang status istri dari Brian dan begitu pun sebaliknya.


"Pa, Ma maafkan kesalahan Bella selama ini. Maafkan Bella yang belum bisa menjadi anak yang baik untuk Papa dan Mama," ucap Bella menangis berlutut di hadapan orang tuanya setelah selesai acara ijab kabul.


"Mama dan Papa sangat sayang kamu Bel, tentu kami ingin yang terbaik buat anak kami. Semoga kalian bahagia nak, doa Mama dan Papa akan selalu menyertaimu," jawab Mama Bella mengusap kepala Bella dan menangis haru menyaksikan putrinya yang sudah sah menjadi istri dan tanggung jawab mereka saat ini akan berpindah ke pundak suaminya.


Papa Bella memeluk Bella erat, ia sangat bahagia di umurnya yang sudah tidak muda lagi masih bisa menikahkan putrinya. "Semoga kamu bahagia nak, jadilah istri yang baik untuk suamimu," pesan Papa Bella dan segera memeluk putrinya.


"Pa, Ma doakan saya agar bisa membangun keluarga yang harmonis bersama dengan Bella dan mohon restunya Pa, Ma," ucap Brian yang mempunyai giliran meminta restu kepada orang tua Bella.


"Iya nak, restu kami selalu menyertai kalian berdua. Semoga kalian bahagia dan dengan segera memiliki keturunan,"


Saat acara sungkeman dengan orang tua Bella selesai, Brian menatap Papa dan ibu tirinya yang saat ini datang menghadiri acara ijab kabulnya dengan Bella sesuai janji Papa Bella kepada Brian.


Degh


Andes menatap adiknya yang saat ini tepat berada di hadapan Papanya, Andes menatap momen tersebut tanpa berkedip. Andes berharap Papanya tidak menolak momen sungkeman ini, terlebih saat ini merupakan hari bahagia untuk adiknya.


Brian terlebih dahulu menghadap ibu tirinya, karena Brian sangat yakin ibu tirinya merupakan sosok ibu yang baik. "Assalamualaikum ...., mohon restunya Pak, buk," ujar Brian dengan segera berlutut dan matanya masih fokus menatap kedua orang tuanya.

__ADS_1


Rilla menatap Brian yang saat ini ada di hadapannya, entah mengapa ada rasa berbeda saat Brian datang menghadap ke arahnya. "Siapa sebenarnya pemuda ini, kenapa saat acara sungkeman begini, dia malah menghadapku dan suamiku," batin Rilla menatap Brian.


Degh


Rilla menatap dua wajah yang saat ini ada di hadapannya dan segera membandingkannya. Rilla menatap Brian dan Bram secara bergantian, yang mana wajah mereka yang hampir mirip. "Apa dia anak suamiku, iya aku sangat yakin itu," batin Rilla berkata.


"Waalaikumsalam nak ...., saya memberikan restu padamu nak, semoga kamu bisa membimbing keluargamu dengan baik nantinya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah," ujar Rila mengusap kepala Brian entah mengapa ia meneteskan air mata haru saat ini. Walau ia belum mengetahui siapa pemuda yang ada di hadapannya, namun ada rasa berbeda yang di rasakan Rilla karena Brian mau menerima kehadirannya meski pun ia hanya ibu tirinya.


Bram saat ini menatap wajah Brian lalu segera memalingkan wajahnya. Rilla yang melihat tingkah suaminya merasa tidak enak hati, apalagi ada beberapa pasang mata yang memandang mereka. "Suamiku jikalau dia memang anakmu apa salahnya kamu akui dia, ingat momen seperti ini hanya satu kali dalam seumur hidupmu!" bisik Rilla di telinga Bram namun Bram langsung berdiri dan menarik istrinya untuk berdiri dan mengajaknya pulang.


"Ilham sepertinya saya dan istri saya harus segera pulang, karena ada pekerjaan yang akan saya selesaikan," ujar papa Brian kepada Papa Bella sahabatnya.


"Tunggu," teriak Andes yang merasa sudah tidak tahan dengan sikap Papanya yang sudah keterlaluan terhadap adiknya.


Andes berdiri dan segera menghampiri Bram dan Rilla. "Apa seperti itu sikap seorang ayah terhadap anak kandungnya sendiri? apa tidak ada rasa kasihan kepada kami yang sudah puluhan tahun anda tinggalkan. Sebenarnya hati anda terbuat dari apa? puluhan tahun adik saya menunggu momen ini untuk bertemu dengan Papanya, namun ini balasan anda yang tidak mau mengenali kami," ujar Andes yang merasa sangat emosi dan merasa tidak peduli lagi kalau ia harus menanggung malu jikalau Bram tetap kekeh tidak mengakuinya.


Bram menatap mata anak sulungnya, Bram tahu kalau yang ada di hadapannya saat ini adalah anak kandungnya. Namun ia merasa tidak ingin mengakuinya, karena Bram merasa takut kehilangan Rilla dan anaknya bernama Sisil.


"Pa, tolong jangan bikin malu seperti ini. Jika memang dia anak Papa, Mama rela dan terima kebenaran semua ini. Tolong akui Pa daripada Mama mengetahuinya belakangan," pinta Rilla menangis hingga membuat Bram merasa bingung dalam mengambil keputusan.

__ADS_1


Bram merasa gusar dengan keadaan ini, ada rasa penyesalan dalam dirinya. Tidak seharusnya dia datang di acara seperti ini. Apalagi saat ini ada beberapa pasang mata menatap ke arahnya, yang ingin menunggu jawaban kebenaran darinya.


"Kita pulang Ma," pinta Bram dan dengan segera menarik Rilla keluar.


Andes meremas jarinya dan merasa kesal dengan sikap Papanya yang sudah sangat keterlaluan. "Anda akan menyesal Bram, karena telah menyakiti adik saya," teriak Andes yang merasa sangat emosi sehingga ia tidak peduli lagi kalau Bram adalah Papa kandungnya.


Andes berjalan mendekati adiknya dan Bella. "Semoga kamu bahagia dek, abang tidak ingin melihat kamu merasa sedih dengan keadaan ini," ujar Andes kepada adiknya hingga membuat Brian meneteskan air mata karena hanya abangnya lah yang selalu menjaganya dan merawatnya dengan tulus.


Andes menatap adik iparnya, ada rasa haru melihat keteguhan hati Bella mempertahankan adiknya yang malang, yang tidak memiliki orang tua dan di tambah lagi tidak akui sama sekali. "Abang titip Brian Bel, semoga kelak kalian bahagia," ujar Andes memberikan restu kepada adiknya dan Bram melihat semua itu hanya terpana dan dengan segera pergi meninggalkan tempat acara itu. Namun tangan Bram segera di hempas oleh Rilla, karena Rilla tidakingin menuruti keinginan suaminya yang pergi begitu saja.


Rilla berjalan mendekati anak tirinya dan menatap mata anak tirinya. "Maafkan suami saya, saya tahu kalian adalah putra suami saya. Anggaplah saya ibu kalian, saya bahagia bisa bertemu kalian disini," ujar Rilla dengan lapang dada menerima Brian da juga Andes.


Brian dan Andes merasa sangat bahagia mendengar tuturan kata ibu tirinya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa Papa kandungnya sendiri menolak kehadirannya dan malah ibu tirinya lah yang mendukungnya. "Kamu bisa panggil saya Mama," ujar Rilla dan memberikan sebuah kartu nama kepada anak tirinya. "Hubungi saya kalau kamu butuh apa - apa atau boleh saya meminta kartu namamu," ujar Rilla lagi kepada Andes dan di jawab anggukan oleh andes dan dengan segera Andes memberikannya kepada Rilla.


"Terimakasih saya pergi dulu," ujar Rilla dengan mengusap kepala putranya.


............


Jangan lupa like dan komennya!

__ADS_1


__ADS_2