Jangan Bilang Aku Selingkuh

Jangan Bilang Aku Selingkuh
Part 65


__ADS_3

"Kamu benar - benar ya!" marah Arka yang saat itu sangat terpancing emosi dan hendak memukul wajah perempuan yang saat ini ada di hadapannya, namun dengan segera ia urungkan.


"Hahaha ...., kamu tidak akan tega menampar wajahku sayang!" ujar Nindi dengan menyentuh wajah Arka karena memang Arka sendiri tidak akan tega memukul wajah seorang perempuan.


Arka menatap Nindi dengan sangar dan jijik. "Kamu jangan gila ya!, aku sudah menikah, jadi jangan pernah kamu ganggu aku lagi!" hardik Arka dengan memegang tangan Nindi kuat - kuat lalu dengan segera menghempaskan tangan Nindi. Namun Nindi tetap kekeh bergelayut manja ke tubuh Arka.


"Arka, aku susul kesana ya!" teriak Siska dari dalam kamarnya namun masih mampu di dengar oleh Arka.


Arka merasa sangat gusar, karena ia tidak ingin hubungannya di ketahui oleh istrinya. Apalagi istrinya saat ini yang sedang berbadan dua. "Kamu jangan keluar sayang, bentar lagi aku susul kamu," ujar Arka yang tetap kekeh melarang istrinya keluar dari kamarnya.


"Lepasin!" bisik Arka yang merasa gerah tangannya dari tadi di pegang oleh Nindi. Arka juga takut kalau nantinya Siska keluar dan melihat semua ini.


"Kamu takut ya sayang!" jawab Nindi yang masih saja bergelayut manja dan sesekali mengecup wajah Arka. Hingga berulang kali juga Arka menghapusnya.


"Plis kamu pergi dari sini, istriku lagi hamil. Aku tidak ingin terjadi apa - apa dengannya dan anak yang di kandungnya," mohon Arka namun Nindi sama sekali tidak mendengarkan ucapan Arka dan masih saja berbuat sesuka hatinya.


"Udahlah Ar, kamu tinggalin saja dia. Kamu bisa sama aku!" rayu Nindi dengan memeluk tubuh Arka dari belakang dan dengan segera di dorong oleh Arka hingga Nindi jatuh tersungkur ke lantai.


Arka berjalan mendekati Nindi yang saat ini terjatuh di lantai lalu ia berjongkok menatap wajah Nindi. "Jangan coba - coba mendekatiku lagi, karena bagiku kamu adalah barang bekas yang tidak layak di pakai!" tunjuk Arka yang merasa sudah sangat gerah dengan kehadiran Nindi sehingga membuatnya terpaksa berkata kasar agar Nindi sadar akan posisinya yang sangat jauh berbeda derajatnya di bandingkan Siska.

__ADS_1


Arka berjalan meninggalkan Nindi yang masih saja terduduk di lantai tersebut. "Arka ini semua belum berakhir, kamu akan bayar atas semua hinaan yang kamu berikan barusan!" marah Nindi yang merasa tidak terima dengan ucapan Arka.


Arka membalikkan tubuhnya dan menatap Nindi. "Jangan harap kamu bisa membodohiku lagi," ujar Arka sebelum melangkahkan kakinya ke dalam rumah. "Dan satu lagi makanya jadi seorang perempuan itu punya harga diri yang tinggi jikalau tidak ingin di hina," ujar Arka dan dengan segera menutup pintu rumahnya dengan sangat kasar.


"Brengsek kamu Arka, awas saja akan aku balas semua perlakuanmu ini!" ujar Nindi pelan dan dengan segera ia berdiri untuk segera pergi dari rumah Arka.


Nindi masuk ke dalam mobilnya dan menangisi semua yang telah terjadi di hidupnya, karena ia merasa telah gagal untuk mendapatkan cinta Arka lagi. Andai saja waktu bisa di ulang lagi, mungkin saat ini Nindi sudah bahagia bersama dengan Arka dan menjadi perempuan yang paling beruntung untuk mendapatkan cintanya.


"Aku menyesal, andai aku tidak terjebak rayuan lelaki brengsek itu, mungkin aku tidak akan meninggalkan kamu Arka!" ujar Nindi sesegukan menyesali perbuatannya bahkan Arka juga pernah memergoki Nindi bersama dengan pria itu keluar dari hotel. Makanya itu Arka begitu sangat membenci Nindi dan memutuskan menikahi Siska.


"Siapa tadi Ar yang datang?" tanya Siska saat melihat suaminya sudah masuk ke dalam kamar dan duduk di sebelahnya.


"Terimakasih, kamu sudah menjadi suami yang terbaik buatku," ujar Siska dan mencium tangan suaminya.


"Kamu adalah istri aku dan sudah sewajarnya aku mencoba untuk membahagiakanmu," jawab Arka dan mencium kening istrinya. "Kamu tidurlah, aku mau bikin susu dulu buat kamu. Agar bayi kita tetap sehat," sambung Arka dengan mengusap perut Siska yang masih rata.


****


Arya keluar dari cafe dengan wajah penuh emosi dan dendam, ia sangat benci keluarga Bella yang sudah memutuskan pertunangannya secara sepihak. Bahkan Arya sendiri tidak ingin pertunangannya berakhir begitu saja.

__ADS_1


"Aaaaaaaaa," teriak Arya kesal, ia tidak menyangka harus gagal seperti ini padahal ia sudah sangat memimpikan bisa bersanding dengan Bella dan bisa hidup bersama dengannya.


"Brengsek kamu Bel, aku akan balas perlakuanmu ini!" marah Arya dengan memukul stir mobilnya secara kasar.


Arya menyandarkan punggungnya sembari berfikir bagaimana caranya ia bisa membalas semua ini terhadap Bella karena Arya merasa tidak rela jikalau Bella mesti bahagia di atas penderitaannya. Arya memang sangat mencintai Bella, namun rasa cinta yang ia miliki berubah benci saat Papa Bella datang ke rumahnya dan membicarakan pembatalan pertunangan.


"Ya, akan aku pastikan pernikahan kamu dengan bocah itu tidak akan bahagia Bel. Agar kamu menyesal telah meninggalkan aku dan menyia - nyiakan perasaan yang telah aku miliki," ujar Arya yang memiliki rencana untuk menghancurkan Bella.


Arya segera menjalankan mobilnya meninggalkan cafe tersebut. Setelah sampai rumah, Arya dengan segera melangkah kakinya masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang sangat kusut dan sedikit kacau. Mama Arya menatap iba dengan keadaan putranya, tapi ia dan juga suaminya tidak bisa berbuat banyak karena tidak mungkin ia tetap kekeh mempertahankan pertunangan putranya apabila salah satu pihak tidak menginginkan.


"Arya kamu darimana nak!" panggil Mama Arya saat melihat putranya pulang dengan wajah yang sedikit kacau.


"Dari luar tadi Ma, kebetulan ada satu pekerjaan yang belum Arya selesaikan," jawab Arya dengan menatap wajah Mamanya yang sepertinya juga ikut merasakan sedih melihat nasib pertunangan Anaknya yang gagal seperti ini. "Mama jangan banyak pikiran nanti Mama sakit, Arya happy Ma. Mungkin bukan jodoh Arya!" sambung Arya yang seolah sangat mengerti apa maksud dari tatapan Mamanya.


"Mama oke," ujar Mamanya dengan mengusap air matanya yang menetes dan itu di lihat jelas oleh Arya hingga membuatnya membenci Bella berkali - kali lipat karena telah membuat Mamanya menangis.


"Ma! jangan sembunyiin semua dari Arya. Arya bukan anak kecil lagi yang tidak melihat kesedihan Mama!" ujar Arya dan dengan segera memeluk Mamanya. "Arya tidak ingin melihat Mama menangis seperti ini, Arya lebih baik kehilangan seorang perempuan dari pada harus membuat Mama sedih," tekan Arya menatap wajah Mamanya dengan tatapan iba.


...........

__ADS_1


__ADS_2