
"Kemana dia?" ujar Brian mencoba membuka matanya.
Brian mencoba bangun dan duduk di tepi ranjangnya, lalu mengambil jam tangannya yang sebelumnya di letakkan di atas meja nakas.
"Sudah pukul 04.00 subuh. Tapi, kemana Bella?" ucapnya pelan lalu menatap ke sekitar kamarnya yang sama sekali tidak ada Bella disana.
Brian melangkahkan kakinya menuju balkon. Namun, disana ia juga tidak menemukan Bella. "Astaga, kemana kamu Bel?" ujar Brian yang sangat mencemaskan keadaan Bella.
"Bella!" panggil Brian saat berada di depan pintu kamar mandi yang masih terkunci. Namun, tidak ada sahutan dari dalam sehingga membuat Brian sangat mencemaskan keadaan Bella yang saat ini berada di dalam kamar mandi.
"Bel! Buka pintunya Bel," panggil Brian lagi. Namun, tetap saja tidak ada sahutan dari dalam.
Brak
Brian mencoba mendobrak pintu kamar mandi. Namun, sudah beberapa kali ia berusaha untuk mendobraknya tetap saja pintunya tidak terbuka.
"Astaga, bagaimana ini!" ujar Brian dengan raut wajah cemas.
"1 2 3," ujarnya lagi dengan mencoba mendobrak pintunya kembali. "Alhamdulillah, akhirnya pintunya terbuka juga," ujar Brian dan langsung masuk ke dalam.
"Bella ....!" panggil Brian dengan memukul pelan pipi Bella. Namun, tetap saja ia terlelap dan juga tidak kunjung bangun dari tidurnya.
Brian mencoba mengangkat tubuh istrinya dan membawanya menuju ranjang. "Dasar ratu tidur, tetap saja tidak bangun!" ujar Brian pelan.
***
Bella terbangun dari tidurnya dan menatap dirinya yang saat ini sudah berada di tempat tidur. "Aduh, gawat!" ujarnya pelan lalu berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Brian baru saja kembali ke kamarnya dan menatap istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Wah sudah wangi nih!" ujarnya lalu memeluk tubuh istrinya.
"Iya sayang. Tapi ...," ujar Bella terputus lalu menatap ke arah suaminya yang saat ini berada di belakangnya.
"Tapi apa?" tanya Brian yang sebenarnya tahu, apa yang saat ini di butuhkan istrinya.
"Ayo ..., mau bilang apa? ujar Brian usil lalu menggelitik pinggang istrinya.
"Udah sayang, geli!" mohon Bella yang merasa tidak kuat di gelitik oleh Brian.
__ADS_1
Brian menghentikan aksinya lalu menatap wajah Bella yang saat ini ada di hadapannya. "Aku ada sesuatu," ujar Brian tersenyum.
"Hm sesuatu apa?" ujar Bella yang merasa penasaran dengan apa yang di sembunyikan oleh Brian di tangan kanan yang saat ini di sembunyikan di belakang punggungnya.
"Hahaha ...," Brian tertawa mengingat aksinya tadi.
"Ish! Apaan? Jangan bikin penasaran deh!" ujar Bella yang masih menunggu surprise dari suaminya.
"Ini," ujar Brian dengan menyodorkan satu kantong plastik yang ia beli tadi di mini market.
Bella membuka isi kantong plastik yang tadi di belikan oleh Brian. "Wah terimakasih sayang!" ujar Bella dengan mengecup pipi suaminya. "Aku emang sedari semalam sangat membutuhkan ini. Terimakasih ya!" lanjut Bella lalu berlari masuk menuju kamar mandi.
Brian menunggu Bella sambil menonton televisi, tiba - tiba ponsel yang ada di saku celananya berdering.
Brian menatap nomor yang tertera di ponselnya. "Dia lagi!" ujar Brian dengan malas dan mengabaikannya begitu saja.
Dreet .... Dreet .... Dreet
Ponsel Brian kembali berdering untuk sekian kalinya, hingga membuat Brian gerah dan mengangkatnya.
"Hahaha ..., tentu kamu sangat tahu betul suara aku!" ujarnya lagi. Namun, Brian sama sekali tidak menanggapi lalu berniat hendak mematikan ponselnya.
"Aku tahu! Kamu akan mematikan telephone dari aku," ujar wanita itu mengetahuinya. "Tapi perlu kamu ingat!" ujarnya dengan sebuah ancaman.
"Apa mau kamu!" jawab Brian yang mulai menimpali ucapan wanita itu.
"Hahaha ..., akhirnya!" ujarnya dengan sangat senang hati.
Brian merasa gusar dengan sikap wanita yang saat ini menghubunginya. Namun, sebisa mungkin ia menahan amarahnya. Agar tidak terlalu menyakiti wanita yang selama ini menjadi teman baiknya.
"Jangan bertele - tele, cepat katakan!" ujar Brian geram.
"Oke! Santai sayang. Kamu gak sabaran ya!" ujarnya yang masih ingin bermain - main dengan Brian.
"Sayang!" ujar Bella yang baru saja keluar dari kamar mandi. Lalu dengan segera Brian mematikan ponselnya, agar tidak ketahuan oleh Bella.
Bella menatap wajah suaminya yang saat ini ada di hadapannya. "Kamu barusan berbicara dengan siapa?" tanya Bella menaruh curiga dengan gerak - gerik suaminya.
__ADS_1
"Bukan siapa - siapa kok Bel. Yuk! kita sarapan dulu," ujar Brian dengan sengaja mengalihkan pembicaraan. Namun, tetap saja Bella merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh suaminya.
"Hei ..., kenapa diam. Kamu lapar tidak?" ujar Brian dengan memegang tangan istrinya yang masih diam mematung.
Dreet .... Dreet .... Dreet
Ponsel Brian kembali berdering dan Brian berusaha untuk mengabaikannya. Namun, itu membuat Bella semakin curiga terhadap suaminya.
"Kenapa tidak di angkat?" ujar Bella dengan tatapan penuh curiga. "Mungkin saja panggilan penting," sambungnya lagi.
"Tidak ada yang lebih penting dari kamu kok sayang. Yuk, kita sarapan ke bawah dulu!" ujar Brian menarik pergelangan tangan Bella. Namun, sebelumnya ia segera menonaktifkan ponselnya agar wanita itu tidak lagi menghubunginya.
Bella berusaha untuk tetap tersenyum, meskipun ia masih menaruh curiga terhadap suaminya. "Iya!" jawab Bella dan dengan segera mengikuti langkah kaki suaminya.
"Maaf! Kami telat," ujar Bella tersenyum hangat kepada semua keluarganya.
"Aduh, anak Mama sudah bangun!" ujar Mama Bella dengan tersenyum menyambut anak dan menantunya yang baru saja ikut bergabung sarapanbersama mereka.
"Bagaimana tidurnya nak! Nyenyak gak?" ujar Mama Bella dengan keponya. Karena sedari tadi, ia memperhatikan cara berjalan putrinya yang masih seperti biasa.
Brian diam dan hanya menundukkan wajahnya sedangkan Bella berusaha untuk bersikap santai. Karena Bella yakin, Mamanya ingin tahu mengenai apa yang terjadi dengan dirinya semalam bersama Brian.
"Waduh, anak Mama kenapa diam aja? Seperti tidak dapat jatah, kalau di lihat dari wajah kalian," ujar Mama Bella dan itu sukses membuat wajah Bella memerah menahan malu dengan sikap Mamanya yang sedikit nyeleneh, apalagi saat ini mereka sedang berkumpul untuk sarapan bersama dengan keluarga besarnya.
Papa Bella menatap ke arah istrinya dan itu mampu membuatnya mengerti dengan tatapan suaminya yang menyuruhnya untuk diam saat sedang sarapan.
"Bian!" panggil Andes yang sedari tadi diam. "Ini ada sesuatu dari abang, sebagai kado pernikahanmu," sambung Andes dengan memberikan dua lembar tiket bulan madu untuk adiknya.
Brian mengambil dua lembar tiket yang di berikan kakaknya. "Tapi bang! Sepertinya saat ini, aku tidak memerlukan tiket itu dulu," jawab Brian ragu - ragu.
"Kamu tidak perlu khawatir Bi, kamu bisa mengabari abang nantinya. Kapan kalian bersedia pergi," ujar Andes dan berniat meninggalkan meja makan.
"Maaf, saya duluan ya!" ujar Andes dan dengan segera beranjak pergi. Sedangkan Mama dan Papa Bella yang telah selesai dari tadi menghabiskan sarapannya, menunggu anak dan menantunya. Karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan kepada Bella maupun Brian.
..........
Jangan lupa tekan like maupun komennya!
__ADS_1