
"Pa, ayolah temanin Mama ke acara anaknya Papa," ujar Rilla memohon agar Bram mau menemaninya pergi ke acara Bella dan Brian.
"Kalau Mama mau pergi, pergi saja sendiri!" jawab Bram cuek.
"Pa! Jangan seperti itu. Ingat! Dia itu anak kamu!" cerca Rilla yang sudah muak dengan sikap Bram.
Bram terdiam dan menatap istrinya. Bram juga sangat mengharapkan kedekatannya dengan anak kandungnya. Namun, keegoisan yang ada di dalam dirinya menghancurkan semuanya bahkan perasaan anak kandungnya sekali pun.
"Papa tidak akan pernah pergi ke acara pernikahannya dan tidak akan pernah mau melihat anak itu lagi!" ucap Bram menegaskan. Namun, di balik ucapannya itu, tersimpan kesedihan yang mendalam.
"Terserah kamu lah Pa! Karena Mama sudah berusaha untuk ikhlas menerima anak - anak kamu, seperti anak Mama sendiri. Namun, ini semua tergantung kamu dalam mengambil sikap," ucap Rilla yang sudah mulai putus asa.
"Mama pergi dulu," sambungnya lagi dan berpamitan kepada suaminya.
Rilla keluar dari kamarnya meninggalkan Bram sendiri. Bram termenung dengan semua ucapan istrinya barusan, lalu mengusap wajahnya. Karena ia merasa gusar dengan keadaan yang menimpanya saat ini.
"Aaaaaa," teriak Bram frustasi lalu menjambak rambutnya.
"Maafin Papa nak, karena belum bisa jadi Papa yang baik untukmu," ujar Bram menangisi semua kesalahannya yang telah menelantarkan anak - anaknya dari mereka kecil.
"Papa menyesal telah melakukan semua!" ujar Bram terduduk dan merenungi semua kesalahannya.
Rilla baru saja datang bersama dengan Sisil anaknya ke pesta Brian. Namun, Sisil sama sekali tidak mengetahui bahwa ia pergi ke pesta pernikahan seseorang yang sudah mengisi hatinya saat ini.
"Ma, aku ke toilet dulu! Nanti aku akan susul Mama ke dalam," ujar Sisil meminta izin.
Sisil melangkahkan kakinya menuju toilet dan Rilla segera masuk ke dalam gedung tempat di adakannya pesta.
Rilla menatap dari jauh putra dari suaminya, lalu dengan segera melangkahkan kakinya untuk memberikan selamat kepada anak dari suaminya.
"Semoga kamu bahagia ya, nak!" ucap Rilla dengan menjabat tangan anaknya lalu memberikan ucapan selamat untuk anak tirinya.
__ADS_1
"Aamin ..., Makasih ya Ma atas doanya," jawab Bella dan Brian bersamaan.
Brian menatap ke semua tamu yang hadir, karena ia sangat mengharapkan kehadiran Papanya di pernikahannya. Dari tatapan mata anak tirinya, Rilla menjadi paham jikalau putra dari suaminya sangat mengharapkan kehadiran Bram. "Kamu yang sabar ya, nak!" ucap Rilla yang seakan tahu semua gerak - gerik anak tirinya.
"Mama akan berusaha membujuk Papamu, agar ia mau menerima kalian agar kita bisa berkumpul nantinya seperti keluarga yang utuh," sambung Rilla tersenyum, lalu memeluk tubuh jangkung anak tirinya.
"Makasih Ma. Aku sudah sangat bahagia karena Mama sudah mau mengakui aku dan bang Andes," ucap Brian merasa terharu dengan keikhlasan istri dari Papa kandungnya.
"Sama - sama, kamu yang sabar ya!" ujar Rilla dengan mengusap bahu Brian untuk sekedar memberikan support.
Brian yang masih sedikit penasaran segera bertanya. "Mama datang kesini dengan siapa?" tanya Brian yang masih ingin tahu.
"Mama dari tadi aku cariin, ternyata disini!" ujar Sisil yang baru saja menghampiri Mamanya.
"Oh ya, kenalian ini anak Mama. Namanya Sisil dan tentu kalian sudah saling kenal bukan?" ujar Rilla.
"Sekarang kasih ucapan selamatan dengan kakak kamu dulu!" pinta Rilla menyuruh putrinya. Namun, Sisil merasa terkejut saat matanya menatap orang yang ada di hadapannya telah menikah dengan wanita lain.
"Om kok bisa lu nikah dengan ...," ucapan Sisil terhenti dan menatap dua orang mempelai yang saat ini di hadapannya.
"Mama bilang apa sih Ma?" tanya Sisil menatap Mamanya lalu menatap Brian dengan penuh tanda tanya.
"Sejak kapan aku panggil om ini dengan sebutan Kakak Ma," ujar Sisil mengintimidasi.
"Ayo!" ujar Rilla dan di balas anggukan kepala oleh Sisil.
"Selamat ya om," ujar Sisil menjulurkan tangannya ke arah Brian. "Selamat ya tante," sambung Sisil lagi dan membuat Bella tersenyum menatap adik suaminya.
Rilla menatap putrinya dan mengetahui semuanya dari tatapan mata anaknya. Rilla menghela napas kasar dan mengusap wajahnya, karena ia harus mesti sabar memberikan arahan kepada anaknya, nantinya.
"Yuk kita cicipin makanannya dulu," ujar Rilla tersenyum dan langsung menarik tangan anaknya agar menjauh dari Bella dan Brian.
__ADS_1
"Ayo makan, makanannya sudah Mama ambilkan!" ujar Rilla tersenyum. Namun, tidak dengan Sisil yang masih fokus menatap Brian.
Rilla menatap arah pandang anaknya dan ikut sedih melihatnya. Namun sebagai ibu, Rilla mesti melarang anaknya untuk mengganggu kehidupan Brian putra dari suaminya.
"Ayo makan, jangan di lihat kesana terus!" ucap Rilla yang takut jikalau anaknya terlalu memendam rasa terhadap Brian.
"Ish Mama seperti tidak pernah muda aja," jawabnya jutek dan dengan segera memakannya.
"Ingat! Brian sudah menjadi suami orang, jadi Mama mohon jangan sampai kamu merusak hubungan orang nak!" ujar Rilla yang tidak rela anaknya mesti memendam perasaan kepada kakak seayah dengannya.
"Ish! Mama mulai sotoi dengan kehidupan pribadi aku," ujar Sisil yang masih saja menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
Rilla segera memakan makanannya. Namun, matanya tetap fokus memperhatikan putrinya yang sedari tadi fokus menatap ke arah Brian.
"Hei matanya di jaga nak," ujar Rilla dengan memukul bahu anaknya. "Ingat! Kamu masih kecil. Mama tidak rela kalau kamu sampai menyukai dia!" tunjuk Rilla memperingatkan agar Sisil tidak salah langkah.
"Iya Mama sayang. Aku juga sadar kok dengan umurku. Namun, lihat deh Ma," tunjuk Sisil menatap dari jauh kehadiran Papanya.
Rilla mengikuti arah yang di tunjuk Sisil. Namun, disana ia tidak menemukan siapa pun. "Tidak ada siapa pun,"
"Itu Ma!" tunjuk Sisil lagi dan hal itu mampu membuat Rilla tersenyum dengan kehadiran suaminya.
"Mama kenapa tersenyum begitu?" tanya Sisil menatap Mamanya dengan tatapan aneh. "Baru juga tadi ketemu sama Papa di rumah, sudah kangen saja," sambungnya lagi lalu dengan segera menyantap makanannya.
Rilla dari jauh memperhatikan gerak - gerik suaminya hingga membuat Rilla tersenyum melihat sikap suaminya. Rilla tidak menyangka, akhirnya sikap suaminya bisa luluh juga. "Alhamdulillah," ujar Rilla pelan. Namun, itu mampu membuat Sisil menatap Mamanya dengan tatapan aneh.
"Mama kenapa ucapkan Alhamdulillah? Bukannya Makanannya masih Mama makan?" cerca Sisil. "Itu juga, kenapa Papa bersikap seperti itu Ma? sambungnya lagi.
Bram dari jauh menatap wajah putra bungsunya dari istri pertamanya, ia ikut bahagia dengan kebahagian putranya dengan anak sahabatnya yang bernama Bella.
Bram sangat ingin memeluk tubuh putranya. Namun, ia juga takut kalau putranya sama sekali tidak mau menerimanya atas semua kelakuan yang telah ia lakukan selama ini. "Papa sayang kalian, maafkan Papa nak!" ujar Bram dari jauh dan berusaha bersembunyi agar kehadirannya tidak di ketahui oleh istri dan anak - anaknya.
__ADS_1
...^^^......^^^...
Jangan lupa like beserta komennya.