
Andin yang melihat suaminya menangis baru menyadari kalau suaminya begitu sangat sayang kepada adiknya melebihi rasa sayangnya kepada dirinya. Akan tetapi selama ini, ia telah salah memisahkan kedua orang kakak beradik itu, karena keegoisannya.
Andin pun melangkahkan kakinya keluar ruangan rawat inap Brian, karena ia yakin suaminya saat ini butuh waktu berdua dengan adiknya.
Andin pun keluar ruangan dengan tatapan begitu kosong, karena ia seakan merutuki kesalahan yang ia perbuat saat ini, sehingga tanpa sengaja ia telah menabrak seseorang.
"Maafkan aku," ujar Andin. Saat ia tanpa sengaja menyenggol seseorang.
"Andin," sapa seseorang menyapa Andin.
Andin pun mulai mengingat - ingat, siapa pemuda yang mengenalnya saat ini.
"Apakah kamu tidak mengenalku lagi Andin?" tanya pemuda itu dengan tersenyum.
"Maaf, aku tidak mengenalmu, permisi!" ujar Andin melangkahkan kakinya meninggalkan pemuda tersebut.
"Its ok, saat ini kamu tidak mengenaliku. Kita lihat saja nanti, Andin," ujar pemuda tersebut.
****
Setelah menemui Brian di kafe tadi siang dan menunggu Brian yang tidak juga kunjung datang. Membuat Bella sangat kecewa dan begitu membencinya karena selain ia telah meluangkan sedikit waktunya untuk Brian, Bella juga telah memberi kesempatan untuk Brian memperbaiki hubungannya. Namun Brian seolah mempermainkan hati Bella.
Bella menangis dan mengurung diri di kamarnya dan saat ini tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Ingatan beberapa hari yang lalu, masih terlintas di pikirannya dan membuat dadanya begitu sesak.
Kebahagiaan yang ia impikan dan menjadikan Brian orang satu - satunya di hidupnya seakan pupus. Hatinya hancur menerima kenyataan, ucapan perempuan itu masih terlintas di pikiran Bella saat ini dan seolah sikap Brian yang diam seribu bahasa pun seakan mengatakan kejadian itu memang benar adanya.
__ADS_1
Ungkapan cinta yang diucapkan Brian beberapa hari yang lalu, hanyalah palsu. Bella seperti manusia bodoh yang menganggap cinta Brian kepadanya nyata. Bella begitu rapuh dan menangis memikirkan Brian.
Setelah puas menangis dan sedikit tenang, Bella pun bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya dari aktifitasnya seharian ini, yang begitu menguras tenaga dan pikiran.
Selesai mandi Bella segera berpakain dan memoles sedikit wajahnya, agar matanya yang sedikit bengkak akibat menangis tidak terlalu kelihatan.
"Aku cantik, tapi perjalanan cintaku tidak secantik wajahku," pikir Bella yang masih menatap wajahnya di depan cermin.
"Aku harus bagaimana saat ini? di satu sisi, aku ingin mempertahankan cintaku dan tidak ingin rasanya melepaskan apa yang sudah ku miliki tapi di satu sisi lain, hatiku sangat sakit karena Brian yang tidak mau mempertahankan cinta kami," pikir Bella lagi.
****
Di tempat lain
Aaaaaaa .... Arka I hate you.
Siska berteriak di kamarnya, karena begitu kesal dengan sikap Arka yang terlalu mengacuhkannya. Padahal sebelum pertemuannya dengan Andika, Arka sedikit perhatian dan sudah mulai luluh dengan Siska.
Namun setelah pertemuannya dengan Andika beberapa hari yang lalu, yang sempat dilihat Arka, Arka mulai sedikit menghindar dan mulai menjauhinya.
Siska pun sempat berpikir, kenapa Arka sampai semarah itu kepadanya, saat ia bertemu dengan Andika. Padahal pemuda itu sebelumnya, pernah mengatakan kalau ia tidak akan menerima perjodohan ini dan tidak akan jatuh cinta kepada Siska. Jadi Siska merasa mustahil, kalau seandainya Arka cemburu dan sudah mulai menyukainya.
Memang di akui Siska, Cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Setidaknya apa salahnya Siska berharap lebih dari rasa yang ia miliki karena sebelumnya Arka juga sudah memberi kesempatan untuknya, untuk membuka hatinya menerima Siska dan akan belajar mencintai Siska sebelum hari pernikahannya tiba. Akan tetapi sekarang kenyataannya lain, Arka seakan menjauhinya dan tidak ingin mengenalnya sekarang sehingga membuat Siska sedikit kecewa akan sikap Arka saat ini.
Di satu sisi Siska sempat berpikir, apa Arka sudah mulai mencintaiku? Makanya Arka sedikit cemburu, saat ia menemui pemuda lain pikir Siska saat itu.
__ADS_1
Tidak berselang lama, handphone Siska berdering dan sedikit mengejutkannya dari hayalannya tentang Arka. Siska pun bangkit dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya untuk mengambil handphone nya yang berada di meja rias.
Saat tangannya sudah menggenggam handphonenya, Siska terlebih dahulu melihat nomor orang yang tertera menghubunginya saat ini.
Siska begitu sangat bahagia, saat ia melihat nomor kontak yang menelphonenya saat ini. Senyum yang dari tadi sedikit pudar sekarang mulai tersenyum dan begitu sangat bahagia.
"Halo Ar, aku senang kamu sudah mau menghubungiku lagi. Beberapa hari ini, aku begitu sangat merindukanmu," ujar Siska panjang lebar.
"Sudah bicaranya? sekarang giliranku untuk berbicara dan kamu dengerkan baik - baik," ucap Arka sedikit jutek, padahal ia sebelumnya sangat bahagia saat Siska mengatakan kalau ia merindukan Arka.
Degh
Jantung Siska berdetak kencang saat mendengarkan nada bicara Arka yang begitu sinis kepadanya. Sehingga membuat pikiran Siska sedikit kacau dan bayang - bayang Arka akan membatalkan pernikahannya pun sedikit terlintas di pikirannya. Hingga tanpa terasa air matanya menetes dan Siska seolah diam tanpa kata.
"Halo Sis!" panggil Arka memastikan kalau telphonenya masih tersambung.
"Iya, kamu mau ngomong apa? aku denger kok," ucap Siska sedikit lemas.
"Aku mau minta nomor telphone Bella, karena ada hal yang sangat penting, yang akan aku omongin kepada Bella," ucap Arka.
"Nanti aku kirim ya," ucap Siska dan langsung menutup telphonenya.
.............
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN🙏🙏🙏
__ADS_1