Jangan Bilang Aku Selingkuh

Jangan Bilang Aku Selingkuh
Part 75


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, Brian dengan segera membereskan tumpukkan kertas yang saat ini ada di atas mejanya.


Tok tok tok


"Masuk!" sahut Brian yang saat itu berada di dalam.


"Bella!" ujar Brian terkejut akan kedatangan istrinya.


Bella berjalan mendekati suaminya dengan membawa dua bungkus makanan yang tadi baru ia beli. "Temani aku makan Bri, kebetulan tadi lagi malas makan sendirian," ujar Bella beralasan.


"Tunggu sebentar! Aku mau membereskan ini dulu," sahut Brian yang hampir selesai dengan pekerjaannya.


Brian mendekati istrinya dan duduk di sampingnya. "Tumben kesini," ujar Brian yang merasa ada yang berbeda dengan istrinya.


Brian menatap suaminya, lalu mencubit pinggang suaminya. "Emangnya tidak bolehkah, makan siang bersama suami?" ujar Bella yang sedikit kesal dengan pertanyaan suaminya.


"Ya sudah, kita lanjut makan dulu! Nanti aja kita lanjut ehemnya," ujar Brian dengan membisikkan sesuatu ke telinga istrinya.


"Apaan sih, jangan macam - macam deh Bri," ujar Bella yang merasa ucapan suaminya sedikit nyeleneh.


"Nah! soudzon nih kamu. Pasti pikirannya jorok sekarang," jawab Brian hingga membuat Bella merasa terpojokkan.


"Udahlah!" ujar Bella menyerah dan langsung memasukkan makanan ke mulutnya.


Brian begitu gemas melihat tingkah istrinya. "Nyam," ujar Brian dengan merebut makanan di tangan Bella.


"Enak ya! Kalau makan itu, di suapi oleh istri sendiri. Apalagi, sambil menatap wajah istri yang sangat cantik jelita yang saat ini ada di hadapanku ini," lanjut Brian dengan menyindir istrinya.


"Bilang saja mau di suapin. Jadi, tidak usah juga dengan pujian begitu," ujar Bella yang merasa bahwa Brian saat ini sedang menyindirnya.


"Hehehe .... makanya di suapin dong!"

__ADS_1


"Ini, mana mulutnya," ujar Bella yang berniat menyuapi suaminya


"Buset! Ini mulut disini loh," tunjuk Brian ke arah bibirnya. "Atau, kamu hanya pura- pura bertanya saja dan sebenarnya lagi pengen itu ya!" sambung Brian yang saat ini mendekatkan wajahnya ke wajah Bella, hingga membuat Bella seketika mematung melihat sikap suaminya.


Bella seketika berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju westafel. Brian seketika terdiam melihat sikap istrinya yang pergi begitu saja, padahal ia berniat ingin mengecup semua bagian wajah istrinya. Karena ia begitu menginginkan bermanjaan dengan istrinya saat jam istirahat seperti ini.


"Hai Brian," ujar Nadya yang langsung masuk ke dalam ruangan Brian tanpa permisi.


"Ngapain lu kesini? Keluar!" teriak Brian emosi.


"Sayang jangan marah - marah dong," ujar Nadya mendekati Brian dan bergelayut mesra ke tubuh Brian.


"Brian!" ujar Bella dengan histeris menatap suaminya yang baru saja di tinggal sebentar sudah bermesraan di depan matanya.


"Kamu dasar perempuan tidak tahu diri ya!" ujar Bella lalu mendekati Nadya dan dengan segera menarik rambut Nadya dengan ganasnya.


Brian bingung melihat pertengkaran istrinya dengan teman perempuannya, lalu dengan segera memisahkan mereka yang saat ini sedang bertengkar. "Nadya, Bella!" teriak Brian dengan memisahkan keduanya. "Tolong hentikan!" sambungnya lagi dan dengan segera mendorong tubuh perempuan itu sehingga ia terjerembab dan mengeluh kesakitan.


"Sekarang lu pergi sana!" tunjuk Bella ke arah pintu keluar. "Dan jangan pernah lagi, lu berniat merebut suami gue. Karena gue, tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!" sambungnya lagi dengan menarik tangan Nadya keluar.


"Gue bisa jalan sendiri!" ucap Nadya dengan menghempaskan tangan Bella. "Ingat ya! Gue, belum mengaku kalah dalam hal ini," ujar Nadya dengan segera pergi dari ruangan Brian.


Bella menarik nafas dalam - dalam dan dengan segera menatap wajah suaminya yang saat ini berada di hadapannya. "Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku selama ini?" tanya Bella menatap wajah suaminya dengan sorotan mata tajam.


Brian mendekati istrinya lalu menarik pinggangnya. "Jangan bilang aku selingkuh karena bagiku hanya dirimu yang nomor satu di hatiku," jawab Brian tersenyum lalu dengan segera mengecup wajah istrinya.


Bella masih belum mempercayai suaminya sepenuhnya. Namun, ia juga tidak ingin memperlihatkan wajah juteknya kepada suaminya. "Aku harus buat suamiku bertekuk lutut di hadapanku, agar dia tidak berani berpaling dariku," batin Bella dengan membalas senyuman suaminya.


"Sepertinya, aku bakal menemanimu bekerja disini," usul Bella hingga membuat Brian sedikit terperangah dengan ucapan istrinya.


"Iya, aku bakal meminta bekerja disini kepada bang Andes, agar aku bisa menemanimu kemana pun," ujar Bella lalu dengan segera membereskan tumpukan makanannya tadi.

__ADS_1


***


Andes saat itu sedang membawa kedua buah hatinya dengan berjalan - jalan di sekitar taman yang dekat dengan rumahnya.


Raka yang saat itu sedang duduk di bangku taman menatap anak lelaki yang seumuran dengan dirinya sedang bermain dengan kedua orang tuanya. Raka menekuk wajahnya dan dengan segera menghapus air matanya agar tidak ketahuan oleh Papanya.


"Kapan Mama akan kembali," batin Raka menangis meratapi dirinya yang saat ini hanya di besarkan oleh Papanya.


Andes yang saat itu sedang mengajak putri kecilnya bercanda, tidak sengaja menatap wajah putranya yang ada bekas tetesan air mata di wajahnya.


Andes menatap keluarga kecil yang saat ini sedang berada di hadapannya. Disana ia paham, jikalau putranya sangat merindukan sosok Mamanya yang sudah lama pergi dari kehidupannya.


"Raka mau makan es cream?" tanya Andes agar tatapan anaknya teralihkan.


"Raka tidak mau apa - apa Pa! Raka hanya butuh Mama," ujar Raka dengan penuh harap karena ia sangat menginginkan bisa berkumpul kembali menjadi keluarga yang utuh.


Andes mengusap wajahnya, ia tidak menyangka perceraiannya dengan istrinya membuat anak - anaknya tertekan. Namun, jikalau mengingat kesalahan istrinya membuatnya tidak ingin kembali dengan mantan istrinya lagi. Karena kesalahan istrinya sudah sangat fatal dan susah untuk di maafkan.


Andes berjongkok di hadapan anaknya lalu dengan segera menghapus sisa air mata di pelupuk matanya. "Kamu yang sabar ya, Nak! Mudah - mudahan suatu saat Mama segera kembali ke kehidupan kita lagi," ujar Andes dengan menghibur anaknya.


Raka tersenyum lalu dengam segera memeluk Andes. "Raka sayang Papa, terimakasih Pa," ujar Raka dengan sangat bahagia.


"Iya Nak! Apa pun akan Papa lakukan demi kebahagianmu, Nak!" ujar Andes dengan mengusap punggung belakang anaknya.


"Hai jagoan kecil, ketemu lagi kita!" ucap seorang wanita cantik yang ikut duduk di samping Raka.


Raka yang saat itu sedang memeluk Papanya dengan segera melepaskan pelukannya. "Tante!" ujar Raka tersenyum. "Akhirnya kita ketemu lagi! Raka kira, tidak bisa lagi bertemu dengan tante," sambungnya dengan sangat antusias.


Andes berdiri dan kembali duduk di bangku sebelah Raka. "Oh ya Pa, kenalin ini teman Raka Pa dan Raka juga sangat berharap, Papa juga bisa berteman dengan tante Wella juga,"


.........

__ADS_1


Jangan lupa like beserta komennya!


__ADS_2